PENGERTIAN IJAMBE

By On Monday, March 24th, 2014 Categories : Antropologi

PENGERTIAN IJAMBE. Bagian upacara kematian pada masyarakat Dayak Ma’anyan di Kalimantan, berupa pembakaran tulang orang yang telah meninggal. Tulang-tulang ini digali kembali dari kuburan yang dianggap pemakam­an sementara. Upacara seperti ini juga dikenal oleh suku bangsa Dayak lainnya. Orang Dayak Ngaju menyebutnya upacara tiwah, orang Ot-Danum me­nyebutnya daroy dan orang Siong menyebutnya totoh. Pembakaran tersebut merupakan penyucian roh (liau) orang yang telah meninggal. Dalam rangkaian upa­cara itu, orang yang telah disucikan diantarkan ke alam baka {lewu liau), alam yang serba indah, me­nyenangkan, dan serba sempurna. Tulang yang telah disucikan, artinya telah dibakar, disimpan dalam pe­ti yang disebut tambak.
Upacara ijambe biasanya diadakan oleh sejumlah keluarga luas secara bersama-sama. Selain dilaksana­kan secara besar-besaran, rangkaian upacara dapat berlangsung dari satu sampai tiga minggu. Karena biaya yang dibutuhkan sangat besar, upacara ini hanya dilaksanakan sekali dalam waktu 7-8 tahun.
Laporan penelitian Fridolin Ukur menceritakan upacara inti ijambe yang berlangsung 10 hari lama­nya di Balawa pada tahun 1969. Jauh sebelum dimu­lainya upacara inti, para kerabat melakukan persiap­an, seperti menyiapkan peti tulang, memusyawarah­kan biaya upacara, menggali tulang dari kuburan, dsb. Setelah upacara inti ditutup pada hari ke-10, balai tem­pat pelaksanaan upacara masih harus dijaga sampai tujuh hari kemudian.
Pelaksanaan upacara selama 10 hari itu dilakukan secara rinci berdasarkan aturan, norma, dan keper­cayaan tertentu. Pelaku-pelaku utama yang harus ada dalam pelaksanaan ijambe adalah wadian, pangulu, mantir, pamakal, dan demang. Setiap pelaku me­megang peranan penting tersendiri. Di antaranya ada yang harus berperan siang dan malam. Wadian dalam upacara di Ballawa terdiri atas de­lapan wanita. Tugas mereka antara lain melakukan ritus penyucian terhadap semua pelaksana upacara agar terhindar dari segala bencana kemurkaan roh. Di antara tugasnya yang terpenting adalah mengantar­kan roh si mati menuju ke alam abadi. Pengantaran roh ini dilakukan sepanjang malam melalui nyanyian- nyanyian yang telah dihafalkan di luar kepala. Setiap malam wadian membawakan nyanyian yang terdiri atas tiga bagian. Pertama, nyanyian ngele yang ber­fungsi membangunkan roh yang ada di dalam peti. Kedua, nyanyian nyarunai yang mengisahkan ke­agungan dan kejayaan kerajaan di alam baka yang dituju. Ketiga, nyanyian kiaen yang mengisahkan perjalanan roh menuju alam baka.
Pelaku utama yang lain, misalnya pangulu, ber­peranan mengatur acara yang terperinci selama 10 hari, dan, kalau terjadi hal-hal yang tidak wajar, mereka harus bersidang. Para mantir adalah para tetua dari berbagai kampung, yang bertugas men­dampingi pangulu dalam persoalan adat. Hari ke-10 adalah hari pembakaran tulang dengan mengikuti rincian upacara yang teratur. Setelah pem­bakaran selesai, tulang-tulang itu dikumpulkan dan disirami air kelapa muda, lalu dibersihkan, dan dile­takkan dalam gong. Kemudian wadian melakukan upacara namano, upacara ritual berupa perpisahan an­tara orang yang masih hidup dan roh yang akan pergi. Roh yang pergi itu akan tiba di tempat yang dituju, yaitu negeri indah, sehingga ia tidak perlu rindu ke­pada dunia fana. Setelah upacara namano selesai, barulah tulang-tulang tersebut dipindahkan dari gong ke dalam tambak.
Apabila upacara ijambe belum dilaksanakan ter­hadap kerabat tertentu, rohnya tidak dapat menerus­kan perjalanan ke lewu liau. Oleh sebab itu, sebelum upacara ijambe dilaksanakan, para kerabat si mati ha­rus menyediakan sajen untuk menjaga daya tahan si mati sampai mereka dapat melaksanakan upacara itu. Keadaan tidak menentu sebelum diadakannya upacara sangat dirisaukan oleh orang Dayak Ma’anyan, sebab kalau daya tahan si mati hilang, liaunya dapat hilang tak tentu rimba. Apabila ia sampai ke lewu liau, ia tidak akan dapat berkumpul dengan nenek moyang­nya. Apabila pelaksanaan upacara ini tidak dilaksana­kan sampai berlarut-larut, akan datang teguran bagi kerabat yang masih hidup, misalnya dalam bentuk ke­celakaan. Hal ini berarti bahwa pelaksanaan upacara ijambe juga penting bagi kerabat yang masih hidup.

PENGERTIAN IJAMBE | ok-review | 4.5