PENGERTIAN HUBUNGAN INDUSTRI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Ekonomi

Konsep dan studi hubungan industri bermula di AS pada awal abad duapuluh, dan segera meluas ke Inggris. Hingga 1980-an masalah ini masih terasa asing di negara-negara yang tidak berbahasa Inggris. Makna dari hubungan industri di tiap tempat tidaklah seksama, dan cakupan subyek ini serta statusnya sebagai sebuah disiplin masih dipertanyakan. Menjelang akhir abad duapuluh, karena banyak pekerja terutama di Amerika Utara mulai menolak prinsip tawar-menawar kolektif mengenai kondisi-kondisi kerja, banyak cendekiawan mulai mempersoalkan prospek konsep hubungan industri. Istilah ini memasuki diskursus publik pada 1912, manakala Senat AS membentuk Komisi Hubungan Industri (Commmission on Industrial Relations) setelah mengadakan penyelidikan ringkas berskala luas, untuk mengakhiri konflik-konflik antara pekerja dan pengelola perusahaan. Agendanya komprehensif, berupa sebuah katalog heterogen yang berisi aspek-aspek dari segala sesuatu yang biasa dinamakan ‘masalah tenaga kerja’. Konsep hubungan industri itu kemudian diberi makna yang lebih sempit, yakni: proses dan institusi melalui mana para pekerja dikelola, seperti serikat pekerja dan asosiasi-asosiasi pekerja, perundingan dan perjanjian kolektif, legislasi buruh, dan konflik yang terorganisasikan. Definisi ini menjadi dasar bagi perkembangan riset dan pengajaran akademik studi hubungan industri di kedua belahan Atlantik, pada dekade-dekade antara dua perang dunia. Baik di AS maupun Inggris, cikal-bakal tinjauannya lebih bersifat pragmatis dan reformis. Para akademisi hubungan serikat pekerja dan pihak manajemen di masa awal itu umumnya menaruh simpati kepada buruh dan memandang serikat pekerja sebagai kekuatan yang positif bagi perbaikan sosial. Perspektif mereka seiring dengan aspirasi para pekerja dan tokoh-tokoh masyarakat yang progresif. Mereka umumnya percaya bahwa kedamaian sosial bisa didorong dengan pemahaman yang lebih baik atas sumber-sumber konflik industrial dan mekanisme pengaturan kolektifnya. Perang Dunia Kedua memperkuat minat pada hubungan indutri. Serikat pekerja memainkan peran kunci sebagai penjamin konsensus nasional, sementara tuntutan-tuntutan produksi militer meningkatkan pentingnya pencegahan konflik. Di AS hal ini tercermin pada penciptaan Uar Labour Board, yang mengerahkan sekian pemuda terpelajar untuk mengelola ekspansi intitut-institut dan program sarjana hubungan industri pada era pasca perang.
Di Inggris perluasan yang lebih moderat juga terjadi pada subdisiplin ini dan mengalami lonjakan pada 1960-an. ketika aneka masalah dan konflik hubungan industri diyakini sebagai sumber penurunan relatif perekonomian Inggris. Para ilmuwan yang menekuni masalah ini periode awal datang dari berbagai latar belakang ilmu: sosiologi, ekonomi, hukum, psikologi, dan sejarah. Tapi begitu studi ini kian teriembaga. banyak dari mereka yang memproklamasikan hubungan industri sebagai disiplin yang berdiri sendiri. Pendukungnya yang paling terkenal adalah ekonom Amerika John Dunlop, dengan karyanya Industrial Relations Systems (1958). ‘Suatu sistem hubungan industri’, demikian katanya, ‘harus dipandang sebagai subsistem analitis dari suatu masyarakat industri yang didasarkan pada logika rencana yang sama sebagai suatu sistem ekonomi’. la mendefinisikan ciri akademiknya sebagai ‘segenap pembuatan aturan yang mengatur tempat kerja’. Analisis mengenai aturan-aturan pekerja, para aktor (majikan, pekerja, dan organisasi mereka serta pemerintah) diperlukan dalam perumusan dan administrasinya, termasuk untuk memperhitungkan pengaruh-pengaruh kontekstualnya (teknologi, ekonomi, dan politik) yang mensyaratkan, dalam pandangan Dunlop. aparat-aparat teoretis yang khusus, yang mendefinisikan hubungan industri sebagai disiplin tersendiri. Sampai batas tertentu, penegasan terhadap posisi terpisah dari disiplin ini tampaknya berakar dari gaya politik akademik yang khas Amerika. Sementara itu, hampir semua peminat hubungan industri di Inggris tetap bertahan untuk menempatkan subyek ini sekedar sebagai sebuah subdisiplin. Akan tetapi, karya Dunlop kemudian juga berpengaruh di Inggris paling kurang dalam tiga aspek: merangsang debat mengenai definisi akurat hubungan industri; mendorong penyebarluasan model formal hubungan industri sebagai sistem yang interaktif; dan mengilhami analisis teoretis, khususnya dalam tulisan-tulisan Allan Flanders (1970). yang menempatkan ‘pengaturan pekerjaan’ (job regulation) sebagai obyek analisisnya yang pokok. Perlu diperhatikan bahwa hubungan industri berkembang sebagai subyek akademis hanya di negara-negara berbahasa Inggris saja. Penerjemahannya sebagai relations industrielles. industrielle Beziehungen atau relazioni industriali justru tampak dibuat-buat dan janggal: di Eropa kontinental studi pengaturan kerja lazimnya berakar pada (dan dengan demikian terbagi menjadi) disiplin (atau subdisiplin) hukum perburuhan, sosiologi industri, dan ilmu ekonomi buruh. Salah satu penjelasan yang bisa diambil adalah relatif otonomnya hubungan serikat keija dan pihak manajemen di lingkungan Anglo-Amerika. Baik di Inggris maupun AS, pemerintah atau negara tidak terlalu aktif melibatkan diri dalam proses pembentukan industrialisasi dibanding di sebagian besar Eropa, dan tradisi hukum publik yang individualistik secara militan menentang pengaturan hukum pekerja secara sistematis. Akibatnya, hingga derajat tertentu, kebijakan para majikan (dan pada derajat lebih kecil, para pekerja dan serikat pekerja) ikut menentukan peristilahan dan kondisi pekerja. Sebaliknya, dalam masyarakat yang lebih teratur (peran negara lebih besar), proses hubungan industri secara nyata lebih terpadu dalam dinamika sosial-politik yang lebih luas, sehingga akan sia-sia saja mempelajarinya secara terpisah.
Bahkan di negara asalnya, studi hubungan industri mulai merosot pada tahun 1970-an. Alasannya sebagian bersifat intelektual dan sebagian lagi material. Pendekatan Amerika terhadap subyek ini sangat dipengaruhi oleh sosiologi struktural-fungsional (Dunlop terang-terangan mendasarkan modelnya pada Social System-nya Parson); ia mengasumsikan adanya bias inheren terhadap sistem dan stabilitas. Para akademisi mainstream berpendirian bahwa sistem hubungan industri yang dewasa tak bisa tidak berfungsi untuk mencegah dan merutinisasikan konflik, yang acapkali berakhir dengan kesimpulan logika pembangunan kapitalis yang berhadap-hadapan secara diametral dengan pendekatan Marxis. Para akademisi Inggris mengembangkan tesis yang analog, biasanya dengan istilah pluralisme hubungan industri. Ini menentang konsepsi-konsepsi industri yang didasarkan pada kepentingan-kepentingan integrasi fungsional, namun juga menentang setiap gagasan polarisasi kelas. Mengikuti gagasan ahli teori politik seperti Shcumpeter, Dahi dan Dahrendorf, mazhab dominan Inggris pada 1960-an dan 1970-an berpendapat bahwa kepentingan-kepentingan ekonomi bersifat multipleks dan saling berpo-tongan. sehingga menciptakan ruang untuk menegosiasikan akomodasi melalui pengaturan kelembagaan yang tepat. Tawar-menawar kolektif merupakan resep yang efektif, bukan untuk melenyapkan konflik industri melainkan untuk mengaturnya sedemikian rupa agar lebih mudah dikelola. Tantangan terhadap sikap ortodoks konservatif dalam ilmu-ilmu sosial pada akhir 1960-an juga terlihat jelas pada hubungan industri. Ada tiga aspek yang bisa dicatat dari radikalisasi ini,pertama, penegasan kembali pentingnya kelas dalam analisis masalah-masalah pekerja; kedua. (pasca-Braverman), sikap bahwa setiap studi di dunia kerja harus menghadapi dinamika-dinamika proses tenaga kerja, tidak sekedar agenda perundingan kolektif yang menitikberatkan pada masalah upah; ketiga, argumen bahwa proses regulasi pekerja harus dianalisis sebagai bagian dari politik ekonomi kapitalis yang lebih luas. Hal-hal ini menjadi dasar pemikiran dari studi hubungan industri di masa selanjutnya.
Perkembangan-perkembangan material memperkuat kembali tantangan-tantangan terhadap studi hubungan industri. Insiden sengketa industri, yang sering terjadi di negara-negara maju pada 1950-an dan awal 1960-an. mulai meningkat secara substansial, sehingga argumen pelembagaan konflik kehilangan alasannya. Perubahan struktur ekonomi dan pekerja juga mengikis relevansi keberadaan bidang studi hubungan industri yang ditemukan pada situasi di mana para pekerja manual laki-laki memenuhi sektor industri manufaktur. Gagasan-gagasan tradisional tentang hubungan industri ternyata tidak siap untuk berhubungan dengan cakupan dunia kerja yang kian luas (ada wanita, pekerja kerah-putih, sektor jasa). Pada 1970-an, asumsi tradisional tentang adanya jurang yang lebar antara dunia politik dan hubungan industri juga kehilangan sandarannya. Pemerintah-pemerintah negara barat semakin aktif dalam mengatur tawar-menawar upah, acapkali dengan mendesakkan ini-siatif-inisiatif baru pada hukum ketenagakerjaan individual maupun kolektif (sebuah perkembangan yang oleh cendekiawan Jerman disebut juridifikasi), dan dalam beberapa hal. paling tidak pada 1980-an, memaksakan aneka batasan baru atas organisasi serikat pekerja dan institusi perundingan kolektif. Para pemilik perusahaan juga menentang lembaga-lembaga dan prosedur yang sudah mapan itu. Ini terlihat jelas di AS, di mana banyak pemilik perusahaan yang berusaha menekuk serikat pekerja demi dengan memilih pekerja yang bebas dari serikat, dan mengganti perundingan kolektif dengan mekanisme-mekanisme komunikasi internal perusahaan dan keterlibatan pegawai. Semakin banyak perusahaan yang memberi nama baru bagi departemen hubungan industri mereka: manajemen sumber daya manusia (Human Resource Management atau HRM). Menjelang 1990-an. para akademisi Amerika lebih sibuk dengan hal-hal berikut: jumlah kursi, institut dan kursus dalam bidang hubungan industri menurun, dan diambil-alih oleh proliferasi HRM. Di Inggris proses ini tidak begitu dramatis, namun tak kurang signifikannya. Keanggotaan serikat pekerja menurun drastis setelah kemenangan Partai Konservatif pada 1979, efektivitas perundingan kolektif menurun lebih dari separuhnya pada penghujung 1980-an. dan banyak ilmuwan hubungan industri berganti topik kajian dengan berpaling ke masalah-masalah manajerial yang lebih populer.

PENGERTIAN HUBUNGAN INDUSTRI | ok-review | 4.5