PENGERTIAN HIRARKI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Hirarki adalah suatu jenjang atau tatanan atau peringkat kekuatan, prestise atau otoritas. Dalam pengertian yang umum, konsep hirarki diserap oleh ilmu sosial dan menjadi istilah yang umum. Tetapi etimologinya mengacu pada gereja. Istilah ini mengacu pada pemerintahan pendeta, biasanya Gereja Katolik Roma, sedangkan pengertiannya yang lebih luas merujuk pada organisasi bertingkat dari para pendeta atau paderi. Dalam penyebutan yang klasik, ada sembilan fungsi atau tatanan yang dibagi menjadi triad-triad (juga disebut hirarki) dengan urutan: Seraphim, Cherubim, Thrones, Dominations, Virtues, Powers, Principalities, Archangels, Angels. Hirarki administrasi ini mencerminkan tatanan langit. Triad tertingginya dibentuk oleh baptisme, komunion, dan krishme (minyak suci). Yang kedua adalah tiga tatanan ministri, uskup, pendeta dan paderi. Ketiga adalah para pendeta terendah, ‘yang baru diinisiasi’ dan katekumens (mereka yang sedang dipersiapkan untuk dibaptis). Hirarki langit tidak banyak mendapat perhatian para ilmuwan sosial, namun hirarki bumi merupakan bagian dari sejarah organisasi manusia yang ruwet. Dalam pemakaian sekulernya, hirarki dunia telah kehilangan, atau paling tidak telah kabur, konotasi kesucian serta fungsinya sebagaimana tersebut di atas. Namun ini adalah aspek penting dari organisasi gereja Kristen pada awalnya. St. Paul menunjuk uskup-uskup di gereja lokal untuk menjalankan fungsi spiritual dengan otoritas spiritual untuk mereproduksi ritual perjamuan terakhir. Setelah tugas ini diritualisasikan menjadi upacara simbolik Eukaris, uskup dipandang sebagai wakil dari Apostel. Ada kemungkinan bahwa gereja-gereja awal sifatnya kolegial, dan dengan demikian hampir berlawanan dengan konsep hirarki modern, karena dalam organisasi mereka sebenarnya memegang otoritas Kristus secara kolektif. Tapi otoritas kolegial itu segera digantikan oleh persaingan kekuasaan dalam suatu keuskupan yang majelisnya adalah pres- biter, dan para deakon ditunjuk olehnya sebagai asisten administratif. Dengan begitu, teokrasi pun ditegakkan dengan otoritas di tangan sang uskup. Perkembangan lebih lanjut dari hirarki kependetaan itu diikuti ketika Konstantin menjadikan Kristen sebagai agama negara di Roma. la ingin agar Gereja berko-eksistensi dengan kerajaannya.Administrasi sipil dan gereja dibakukan, wilayah administrasi sipil dibuat sejajar dengan diokese gereja, sehingga wilayah sipil disesuaikan dengan wilayah patrikal, dan seluruh Gereja dipusatkan pada kekuasaan patriakad Roma. Otoritas kepausan dengan demikian menjadi kekuasaan tertinggi di Gereja dan tetap bertahan ketika Kekaisaran Roma runtuh.
Hirarki itu berulangkah mendapat tantangan, khususnya pada Abad Pertengahan, sebagai akibat dari meluaskan inkonsistensi antara kehidupan pribadi para pendeta lokal dan klaim-klaim resmi yang dikeluarkan otoritas kependetaan atas parisioner suci mereka. Pemberontakan Luther dan munculnya Reformasi Protestan menantang teori hirarki kependetaan karena ia dibangun dalam kekaisaran Roma abad pertengahan. Luther menghidupkan lagi konsep monarki sekular abad pertengahan ketika pendeta Tuhan di bumi beroposisi terhadap otokrasi paus. Monarki itu menyediakan otoritas sekuler dan eksternal kepada Gereja; otoritas internal disediakan oleh dedikasi relijius dan kemuliaan spiritual di antara para anggota Gereja. Calvinisme, kendati juga menentang hirarki Roma, memberikan kekuasaan lebih besar kepada ministernya dan tidak disesuaikan dengan supremasi kekuasaan negara. Para minister Calvin menjadi pemikul otoritas langit, tapi otoritas kolegial tidak berakar pada paus atau uskup, melainkan pada perwakilan yang dipilih dari satu tatanan persatuan yang tunggal. Dalam Gereja Inggris, hirarki yang direformasi itu tak lain adalah kesinambungan Katolikisme tanpa Paus. Jadi, bentuk-bentuk otoritas dan pembagian kekuasaan dan fungsi antara negara dan gereja, ministri dan laiti, tidaklah sama dari satu negara ke negara lain. Namun dalam hal hirarki, semua masih mempertahankan pengertian asli dari pengorganisasian otoritas spiritual langit. Pemakaian istilah hirarki dalam ilmu sosial modern umumnya sudah lepas dari acuan religiusnya. Dummont (1970) mendefinisikannnya sebagai ‘jenjang komando yang diterima anak tangga yang lebih bawah dari jenjang di atasnya secara berurutan’. Yang ia maksud di sini adalah versi lain dari definisi Shorter Oxford Dictionary kesatuan manusia atau benda yang diperingkatkan berdasarkan jenjang, tatanan atau kelas, di mana yang satu lebih tinggi dari lainnya, la mengacu pada konsep Talcott Parson (1954) stratifikasi sosial sebagai suatu sistem peringkat yang didasarkan pada evaluasi, di mana proses interaksi dasar manusia cenderung membedakan berbagai individu dan kelompok dalam suatu sususan peringkat. Dari sini Dumont mengembangkan analisis yang terpadu mengenai sistem kasta sebagai sebuah susunan peringkat. Sistem kasta, yang dipandang sebagai sistem status yang merupakan kasus khusus, pada hakekatnya bersifat hirarkis dalam pengertian Parson. Hirarki bisa dilepaskan dari unsur relijius dan digunakan untuk menguraikan sistem peringkat di mana unsur dan strata dinilai dalam hubungannya secara keseluruhan. Dengan demikian, hirarki memperoleh tempat sebagai suatu bentuk khusus dari apa yang digolongkan oleh sosilogi dan antropologi dengan label stratifikasi sosial.

PENGERTIAN HIRARKI | ok-review | 4.5