PENGERTIAN HERMENETIKA

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Filsafat

Istilah hermenetika dipakai untuk menjelaskan pandangan-pandangan berbagai pengarang yang prihatin dengan masalah pemahaman dan penafsiran. Tema-tema hermenetika diperkenalkan kepada para ilmuwan sosial berbahasa Inggris melalui tulisan-tulisan Max Weber. Sebagai salah seorang yang turut serta dalarn debat metodologi yang berlangsung di Jerman selama akhir abad sembilanbelas dan awal abad duapuiuh, Weber akrab dengan pandangan-pandangan para filsuf dan ahli sejarah seperti Wilhelm Dilthey, Heinrich Rickert dan Wilhelm Windleband, yang semuanya berpendapat bahwa studi ilmu sosial dan sejarah dunia membutuhkan pemakaian metode-metode yang berbeda dari yang dikembangkan dalam menyelidiki gejala alam. Inilah argumen yang direnungkan dalam penekanan Weber pada konsep pemahaman (verstehen). Weber memainkan peran penting dalam memperkenalkan gagasan hermenetika kepada banyak ilmuwan, kendati tradisi itu sendiri telah berkembang jauh sebelum Weber. Hermenetika berasal dari istilah Yunani hermeneuein, yang artinya membuat sesuatu itu jelas, mengumumkan atau menyampaikan pesan. Dapat dikatakan, disiplin hermenetika mula-mula muncul bersama penafsiran Homer dan penyair-penyair lain dari masa Pencerahan Yunani. Sejak itu, hermenetika berkaitan erat dengan filologi dan kritik teks. Ia menjadi disiplin yang penting dalam masa Reformasi, ketika kaum protestan menantang hak-hak tradisional para rahib untuk menentukan penafsiran ayat-ayat suci. Para cendekiawan dan ahli teologi berusaha mengelaborasi aturan-aturan dan kondisi-kondisi yang mengatur penafsiran teks yang valid. Cakupan hermenetika amat diperluas oleh Wilhelm Dilthey (pada abad sembilanbelas). Sebagai ahli sejarah sekaligus filsuf, Dilthey menyadari bahwa teks hanyalah salah satu bentuk dari apa yang ia sebut ‘obyektivikasi-obyektivikasi kehidupan’. Maka masalah penafsiran dikaitkannya dengan pertanyaan yang lebih umum mengenai bagaimana pengetahuan sejarah-sosial dunia bisa dimungkinkan. Fenomena kultural, seperti teks, karya seni, perbuatan dan isyarat merupakan ungkapan-ungkapan yang berguna dalam kehidupan manusia. Itu semua diobyektivikasikan melalui konvensi dan nilai-nilai yang dimiliki secara kolektif, di mana tingkah laku seseorang bisa diobyektivikasi dalam media bahasa. Memahami gejala budaya adalah menjangkau ungkapan-ungkapan yang diobyektivikasi dari kehidupan sehari-hari; pada akhirnya tujuannya adalah untuk mengalami kembali proses kreatif, atau untuk mengakrabi pengalaman orang lain, Kendati Dilthey melakukan reorientasi hermenetika ke arah refleksi atas dasar Geisteswissenschaften atau ‘ilmu humaniora’, tulisan-tulisannya menampilkan dikotomi antara penerimaan obyektivitas dan warisan Romantisme. Tokoh kunci hermenetika abad keduapuluh adalah Martin Heidegger.
Jika karya Dilthey mengenai masalah hermenetika terkait dengan pertanyaan mengenai ilmu pengetahuan, maka pada Heidegger dikaitkan dengan pertanyaan mengenai keberadaan (being), masalah dalam memahami dan menafsirkan adalah menghadapi sesuatu tanpa pijakan penguasaan atas sifat mendasar dari ‘keberadaan kita di dunia’. Bagi Heidegger, ‘pemahaman’ pertama-tama dan utama adalah masalah proyeksi atas apa yang ada di sekeliling kita. Sifat antisipasitoris ini merupakan suatu perumusan ulang atau, dalam istilah ontologis, apa yang umum disebut ‘siklus hermenetika’ sebagaimana kita memahami bagian dari sebuah teks dengan menyimak strukturnya secara keseluruhan, sehingga semua pemahaman telah didahului oleh ‘pra-pemahaman’ yang menyatakan kesatuan primordial dari subyek dan obyek. Kita ada-di-dunia, akrab dan berurusan dengan apa yang sudah siap-pakai, sebelum kita menjadi subyek yang mengklaim memiliki pengetahuan mengenai obyek-obyek di dunia. Karya Heidegger memiliki berbagai implikasi atas cara memandang ilmu humaniora, sebagaimana ditunjukkan oleh Hans-Georg Gadamer. Dalam Truth and Method (1975 [I960]) ia membangun koneksi antara sifat antisipatoris dari pemahaman dan saling-keterkaitan dengan prasangka, kewenangan dan tradisi. Asumsi bahwa prasangka-prasangka niscaya bersifat negatif dengan sendirinya merupakan suatu patokan yang berisi prasangka, sebagaimana pandangan Gadamer, dari masa Pencerahan. Asumsi ini mencegah kita untuk bersikap bahwa pemahaman senantiasa membutuhkan pra-penilaian atau prasangka’, bahwa ada ‘prasangka yang sah’ yang didasarkan otoritas yang diakui, dan bahwa salah satu bentuk otoritas memiliki nilai khusus dalam tradisi. Kita senantiasa terperangkap dalam tradisi yang memberikan berbagai prasangka, yang kemudian menjadi dasar setiap pemahaman kita. Namun tidak mungkin ada tempat berpijak di luar sejarah, yang memungkinkan seseorang untuk menjangkau totalitas efek sejarah; maka pemahaman terpaksa dilakukan sebagai ‘fusi’ terbuka dan terus-menerus dengan ‘ h orison- horison’ sejarah. Tesis Gadamer yang provokatif mendapat tantangan pada pertengahan 1960-an oleh Jurgen Habermas dan penganut ‘teori krtitikal’ lainnya. Kendati mengakui pentingnya hermenetika Gadamer, Habermas menyerang pentautan pemahaman dengan tradisi, karena jalinan semacam ini akan mengesankan bahwa tradisi dapat menjadi sumber kekuatan yang mendistorsikan proses komunikasi dan menuntut perenungan kritis. Terpikat pada model psikoanalisis, Habermas menyerang kerangka untuk suatu disiplin hermenetika-intemal’ yang mungkin bisa diorientasikan pada gagasan emansipasi. Debat antara teori hermenetika dan aliran kritikal telah dikaji kembali oleh Paul Ricoeur(1981), Sebagai seorang filsuf hermenetika yang menaruh minat pada teori kritikal, Ricoeur mencoba menjembatani posisi Habermas dan Gadamer dengan menekankan kembali konsep teks. Berlawanan dengan pengalaman yang merupakan bagian dari tradisi, teks dipandang punya jarak atau ‘distansi’ terhadap kondisi-kondisi sosial, historis, dan psikologis yang melatari produksi teks itu. Penafsiran sebuah teks memerlukan penjelasan struktural dari ‘rasa’-nya dan proyeksi kreatif atas ‘referensi’-nya sehingga memungkinkan dibentuknya hubungan kritikalnya berhadap-hadapan dengan ‘dunia’ serta dirinya sendiri. Ricoeur memperlihatkan bahwa model teks dan metode penafsiran teks bisa diperkaya dengan memperluasnya kepada studi mengenai berbagai fenomena seperti metafora, aksi dan ketidaksadaran. Sebagaimana tampak pada perdebatan itu, masalah yang berabad-abad telah diperbincangkan di bawah judul hermenetika masih relevan hingga sekarang. Penghargaan atas teks dan karya seni, studi mengenai aksi dan lembaga-lembaga, filsafat ilmu pengetahuan dan ilmu sosial; semuanya menjadikan masalah pemahaman dan penafsiran sebagai tema sentral. Kendati sejumlah filsuf hermenetika mutakhir berniat memisahkan ilmu pasti alam dengan Geisteswissenschaften sebagaimana keinginan para pendahulu mereka di abad sembilanbelas, banyak yang lebih ingin mempertahankan sifat khusus penelitian ilmu sosial dan sejarah. Karena obyek-obyek dari ilmu tersebut adalah subyek- subyek yang mampu bertindak dan memahami, maka pengetahuan kita mengenai keadaan sosial dan sejarah tidak akan bisa terpisah secara tajam dengan subyek-subyek yang membuat dunia itu.

PENGERTIAN HERMENETIKA | ok-review | 4.5