PENGERTIAN HELMINTIASIS DAN PENGOBATAN TRADISIONAL

By On Thursday, October 31st, 2013 Categories : Kesehatan

Pemanfaatan tanaman atau tumbuhan sebagai bahan ramuan obat tradisional oleh sebagian masyarakat merupakan suatu tradisi atau kepercayaan yang sudah dimanfaatkan turun temurun. Tradisi pemanfaatan tersebut sebagian sudah dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, namun masih banyak lagi yang belum dicatat dan dipublikasikan secara luas. Dasar pemanfaatan obat tradisional antara lain mudah didapat, harganya murah, aman dan benar-benar bermanfaat. Dengan demikian, obat tradisional merupakan salah satu alternatif sehingga pemanfaatan tanaman obat terus meningkat sejalan dengan adanya kecenderungan ‘kembali ke alam’ (back to nature) dan adanya anggapan bahwa pengobatan dengan obat-obatan modern atau sintetis menimbulkan efek samping yang tidak diharapkan. Penggunaan obat-obat tradisional secara luas di berbagai wilayah Indonesia untuk mengobati berbagai penyakit pada manusia, memberi inspirasi bahwa obat- obat tradisional sudah semestinya juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit pada hewan terutama yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu hewan yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun sangat rentan terhadap penyakit ialah hewan-hewan ternak ruminansia. Ternak ruminansia yang memiliki nilai ekonomi penting adalah kambing dan domba. Ternak kambing dan domba dipelihara oleh sebagian besar keluarga petani di pedesaan, terutama petani kecil yang berlahan sempit dan dapat dianggap sebagai tabungan. Pemeliharaan kambing dan domba di pedesaan umumnya masih bersifat tradisional dengan skala kepemilikan yang tidak terlalu besar. Hal ini dicerminkan dari sistem pemeliharaan yang statis, produktivitas yang rendah dan orientasi pasar yang kecil. Sebagai akibat pemeliharaan hewan ternak yang kurang baik, maka pada umumnya masalah yang paling sering muncul adalah timbulnya penyakit hewan yang dapat mengurangi nilai komoditas dari hewan ternak tersebut. Penyakit yang sering dijumpai adalah penyakit kecacingan. Pertumbuhan hewan ternak yang kecacingan menjadi terhambat, produksi daging dan kemampuan menghasilkan susu menurun, dapat juga disertai anemia, bahkan pada hewan ternak yang berumur kurang dari satu tahun dapat menyebabkan kematian. Helmintiasis ialah penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit yang dapat terjadi pada manusia maupun hewan-hewan ternak. Pada hewan ternak penyakit ini dapat terjadi secara terus menerus sepanjang tahun. Salah satu helmintiasis yang banyak menyerang hewan ternak adalah haemonchosis. Haemonchosis adalah penyakit kecacingan pada ternak yang disebabkan oleh cacing nematoda parasit Haemonchus contortus. Cacing ini hidup di saluran pencernaan domba, kambing, sapi dan hewan ternak ruminansia lainnya dan dengan mudah diketemukan di dalam rongga lambung atau menempel pada dindingnya, sebagai pengisap darah. Penyakit ini dapat menyebabkan diare, gangguan pencernaan, kekurusan, kelemahan, penurunan berat badan, mengurangi efisiensi reproduksi, menambah kepekaan terhadap serangan penyakit lain dan bahkan pada kasus yang berat dapat menyebabkan kematian.¬† Cacing parasit H. contortus tersebar di seluruh dunia, terutama di daerah beriklim tropis dan sub-tropis. Indonesia sebagai salah satu negara tropis dengan derajat kelembaban yang tinggi dan suhu udara yang umumnya di atas 20 Celcius sepanjang tahun, memberi kondisi yang cocok untuk perkembangan optimum cacing tersebut. Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, tingkat prevalensi haemonchosis di Indonesia mencapai rata-rata 80%.
Banyak obat-obatan modern telah digunakan untuk menanggulangi haemonchosis, di antaranya dengan menggunakan obat cacing (antelmintik). Penggunaan obat cacing harus dilakukan beberapa kali setiap bulan, karena infeksi cacing berlangsung terus menerus sepanjang tahun. Penggunaan obat tradisional atau etnoveteriner dengan memanfaatkan bahan alam yang tersedia di alam merupakan alternative untuk mengatasi masalah kecacingan pada ternak, khususnya peternak di daerah pedesaan, karena murah dan mudah diperoleh dari lingkungan sekitar. Salah satu bahan alam yang sudah digunakan sebagai obat tradisional adalah daun mindi (Melia azedarach L.). Hingga sat ini pemanfaatan daun mindi sebagai obat tradisional masih terbatas pada manusia, sedang pada ternak hanya sebagai pakan. Masyarakat memanfaatkannya untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti peluruh kencing (diuretic), pencahar (laksatif), perangsang muntah, askariasis, eksim, anti jamur, anti serangga dan kencing manis (diabetes). Di samping itu mindi juga dikenal sebagai tanaman pelindung, tanaman penghijauan dan kayunya digunakan untuk berbagai keperluan. Menurut Kardinan (1999) dan IPTEKnet (2005) kulit kayu dan kulit akar mindi mengandung toosendanin (C30H38O11) dan komponen yang larut (C30H40012). Selain itu terdapat alkaloid azaridine (margosina), kaempferol, resin, tannih, n-triacontane, betha-sitosterol dan triterpene kulinone. Biji mengandung resin yang sangat beracun, asam stearat, palmitat, oleat, linoleat, laurat, valerianat dan sejumlah kecil minyak esensial sulfur. Buah mengandung sterol, katekol, asam vanilat dan asam bakayat. Daun mengandung alkaloid paraisina, flavanoid rutin, zat pahit, saponin, tannin, steroida dan kaemferol. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas dan bertitik tolak dari adanya berbagai kandungan kimia yang ada pada ekstrak daun Mindi, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengkaji secara ilmiah apakah ekstrak daun mindi juga memiliki khasiat antelmintik (penyakit kecacingan), khususnya terhadap H. contortus penyebab haemonchosis pada kambing dan domba. Penelitian ‘Bioefektifitas Ekstrak Daun Mindi (M. azedarach L.) terhadap Cacing Parasit Kambing dan Domba (H. contortus) Secara In Vitro ini merupakan suatu upaya eksplorasi sistemik bahan obat tradisional Indonesia, khususnya dalam rangka mencari obat antelmintik terhadap cacing parasit yartg banyak menyerang hewan-hewan ternak khususnya kambing dan domba. Dari eksplorasi sistemik sumber daya alam Indonesia ini, diharapkan dapat memperkaya bahan baku obat antelmintik pada ternak.

PENGERTIAN HELMINTIASIS DAN PENGOBATAN TRADISIONAL | ok-review | 4.5