PENGERTIAN HABITUS

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Filsafat

Bertolak dari paparan filosofis khusus Hegel hingga Husserl, istilah habitus yang juga dipakai oleh Weber. Durkheim dan Mauss mulai mengisi kamus ilmu sosial melalui karya Pierre Bourdien. Istilah ini menjadi tema sentral dalam upaya Bourdin untuk mengembangkan sosiologi tentang praktek perilaku manusia yang, sebagaimana ia lihat, akan berguna untuk menghindari kekeliruan-kekeliruan pemikiran dalam teori kebebasan kehendak yang bersifat individualis maupun dalam konteks determinisme strukturalis. Bourdieu menggunakan istilah ini untuk mengacu pada wilayah kemanusiaan yang tidak sepenuhnya bersifat sadar maupun tak sadar, dan tidak pula bersifat individual maupun sosial. Habitus membentuk individu, dan merupakan produk sosialisasi primer dan sekunder, dengan akar terdalamnya ada pada tahun-tahun awal masa kanak-kanak. Ia merupakan penentu di dalam pikiran manusia, melalui proses pembiasaan dan pembentukan kebiasaan yang sifatnya tak-reflektif. Habitus merupakan pembentuk skema-skema penggolongan dan watak-watak praktis, yang keduanya saling berimplikasi secara erat. Keduanya ada dalam situasi penyesuaian terhadap kondisi-kondisi obyektif dunia sosial di mana subyek yang bertindak itu ditentukan. Skema dan watak ini, terutama taksonomi di mana klasifikasi dan disposisinya berdampingan erat, dapat dipindahkan dari satu domain sosial ke domain sosial lain, sebagai karakteristik dari logika praktek sebuah kelompok manusia atau kebudayaan. Pentubuhan (embodiment) merupakan dasar dari habitus. Tubuh mewakili sudut pandang di mana hampir semua taksonomi praktikal terpusat naikiturun, belakang:depan, lelaki: perempuan, dan lain-lain. Bagi Bourdieu, tubuh melalui habitus merupakan wujud dan landasan kebudayaan. Habitus juga menentukan hexis, yaitu gaya fisik yang secara sosial dan budaya merupakan pembeda dalam hal gerak, lagak, dan pembawaan. Penampilan yang secara sosial mengandung kompetensi juga dibangkitkan oleh habitus tanpa disadari oleh individu yang bersangkutan. Bourdieu secara eksplisit menyatakan bahwa habitus bukanlah seperangkat aturan yang mengatur perilaku, ia juga tidak bekerja lewat proses rasionalisasi secara sadar. Ia hanyalah suatu kerangka di mana para aktor masuk dan keluar, hingga derajat tertentu tanpa dipikirkan, memelihara dan meningkatkan kepatutan sebagai konsekuensi dari interaksi antara watak-watak yang spesifik secara budaya dan skema penggolongan dan pembatas-pembatasnya, termasuk tuntutan dan peluang dalam setiap bidang atau domain sosial. Habitus memiliki akar pada domain-domain itu dan hampir semua terikat padanya.
Dalam hal inilah subyektivitas internal secara perlahan disesuaikan dengan dunia eksternal yang obyektif. Penyesuaian ini adalah kunci proses yang membentuk dunia sosial. Dalam karya Bourdieu, konsep ini diterapkan dalam berbagai topik, mulai dari pendidikan formal, konsumsi budaya hingga strategi-strategi perkawinan dalam masyarakat petani. Dalam penerjemahannya ke dalam sosiologi anglophone, konsep ini tampaknya telah digolongkan terlalu sempit dalam model budaya yang diantropologikan. Kendati konsep ini dapat dikritik karena terlalu mengabaikan pengambilan keputusan yang sifatnya sadar dan mengandung sisa-sisa determinisme, namun ia adalah model yang menarik untuk menjelaskan peran faktor sosial dan kultural atas perilaku individu.

PENGERTIAN HABITUS | ok-review | 4.5