PENGERTIAN GLOBALISASI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Globalisasi yang dimaksudkan di sini adalah proses lanjutan dari perkembangan perekonomian dunia tersebut. Perekonomian dunia telah lama berkembang, paling tidak sejak abad keenambelas, sejalan dengan ekspansi ekonomi dan imperium kolonial Eropa. Perekonomian global adalah suatu keadaan di mana segenap aspek perekonomian  pasokan dan permintaan bahan mentah, informasi dan transportasi tenaga kerja, keuangan, distribusi, serta kegiatan-kegiatan pemasaran menyatu atau terintegrasi dan kian terjalin dalam hubungan saling-ketergantungan yang berskala dunia. Selain itu, aspek-aspek tersebut hampir semuanya bersifat instan. Sedangkan perekonomian global yang dimaksud adalah suatu perekonomian yang bekerja sebagai satu unit tunggal dan beroperasi serentak dalam satu waktu di tingkat planet. Oleh karena itu, kekuatan-kekuatan globalisasi cenderung mengikis integritas dan otonomi perekonomian nasional. Kekuatan penggerak di belakang perkembangan-perkembangan tersebut adalah perusahaan-perusahaan global yang dewasa ini semakin aktif mengukuhkan dan mengkonsolidasi diri. Perusahaan-perusahaan global di masa lalu bergerak melintasi batas-batas perekonomian nasional. Namun perekonomian global sekarang juga menuntut perusahan-perusahaan memperlakukan dunia sebagai satu kesatuan, dengan bersaing di beberapa pasaran besar sekaligus, tidak secara bertahap lagi. Hal ini harus dilakukan dengan memasarkan produk-produk secara global atau menciptakan merek global seperti Coca Coia, MacDonald atau Kodak (Levitt 1983).
Dalam kompetisi global, hampir semua strategi bisnis harus dibuat secara lebih cermat karena semuanya kian kompleks dan beragam. Dalam mengelola dunia yang tanpa-batas itu, sesungguhnya perusahaan-perusahaan menghadapi tuntutan bagi dilakukannya pembagian aktivitas pemasaran dan organisasi perusahaan berdasarkan kawasan-kawasan transnasional; khususnya Eropa, Amerika Utara dan Timur Jauh (Ohmae 1990). Ada perusahaan-perusahaan global yang menggambarkan pendekatan mereka secara lebih persis lagi, yakni dengan konsep lokalisasi global, yang mengakui perbedaan dan heterogenitas geografis secara serentak. Jadi, globalisasi perekonomian lebih tepat diistilahkan sebagai bangkitnya global-local nexus (pertalian global-lokal). Globalisasi bisa terjadi karena berdirinya jaringan-jaringan informasi dan komunikasi global. Jaringan-jaringan telekomunikasi dan komputer mengatasi hambatan waktu dan ruang, sehingga perusahaan dan lembaga-lembaga keuangan beroperasi duapuluh empat jam melintasi planet bumi ini. Peresmian jalan raya informasi tersebut menjanjikan semakin memendeknya jarak ruang dan waktu (Harvey 1989). Media global juga merupakan bagian dari pola aliran lintas-batas yang kompleks ini, Dengan menggunakan sistem satelit dan kabel baru, saluran-saluran seperti CNN dan MTV telah mulai mem¬bentuk pasar dan pemirsa televisi yang benar-benar global (melalui hal ini juga makin disadari perlunya kepekaan terhadap perbedaan-perbedaan setempat). Komunikasi yang instan dan mendunia memberi subtansi dari gagasan Marshall McLuhan, yang pertama kali diutarakan pada 1960-an, bahwa dunia akan menjadi sebuah desa global (global village). Karena perekonomian nasional menjadi kurang fungsional dalam konteks global itu, kota- kota dan wilayah perkotaan pun mendapat peran baru sebagai titik-titik berpijak dalam organisasi ruang dari bisnis internasional. Akibatnya, kota-kota pun menarik dan mengakomodasikan fungsi-fungsi kunci dari perekonomian global (jasa, keuangan, komunikasi, dan sebagainya). Hal ini mengakibatkan munculnya kompetisi antar-perkotaan yang melintasi batas-batas negara, dan mendorong terbentuknya hirarki perkotaan global yang baru. Pusat-pusat metropolitan seperti New York. Tokyo dan London mungkin bisa digambarkan sebagai kota-kota dunia’ (Friedman 1986) atau ‘kota-kota global’ (Sassen 1991), yang menjadi pusat komando perekonomian global. Persaingan di antara kota-kota global tingkat dua adalah perjuangan mencapai kekuasaan di zona-zona dunia tertentu. Persaingan ini juga membuat kota kota menonjolkan aset-aset dan kelebihan mereka melalui strategi pemasaran tempat dan diferensiasi: dalam konteks meningkatnya mobilitas, kekhususan suatu tempat menjadi faktor yang menonjolkan posisi global suatu kota. Selain sebagai penarik investor dan turis global, kota-kota juga merupakan tujuan migrasi dan pengungsian penduduk melintasi dunia. Kota-kota global juga merupakan mikrokosmos yang melukiskan dualisme antara dunia kaya dan dunia miskin serta pertarungan kebudayaan global. Kita seyogyanya memperhitungkan apa arti globalisasi bagi kebudayaan dunia. Apakah kebudayaan global itu memang ada? Apa yang kita maksud dengan istilah ini? (Featherstone 1990) Berkenaan dengan kebudayaan komersial (film, televisi, musik populer, dan lain-lain) memang ada aspirasi untuk menciptakan suatu pasar yang berskala dunia dan bersatu. Perusahaan- perusahaan media global, seperti Time Warner, Sony dan News Corporation, selalu berpikir dalam skala pemirsa dan produk yang global. Akan tetapi ini hanya bisa terjadi pada jenis program tertentu saja, dan sebagian besar perusahaan media global masih harus beroperasi dalam pengertian keruangan media yang bersifat transnasional (misalnya, kawasan ‘Eurovision’; atau kawasan ‘Asia’ yang kini hendak dilayani oleh Star TV milik Rupert Murdoch). Bersamaan dengan itu, ada kecenderungan-kecenderungan yang berlawanan melalui penyebaran media nasional dan juga regional (misalnya Basque, Gaelic). Ini bisa dipandang sebagai pengokohan (kembali) perbedaan dan ciri khas kultural menghadapi kecenderungan globalisasi. Sekali lagi, yang paling penting di sini adalah hubungan antara global dan lokal. Maka. globalisasi media seyogyanya dipahami dalam pengertian terbentuknya peta baru dan kompleks dari ruang-ruang budaya transnasional, nasional, dan subnasional. Globalisasi budaya berkaitan dengan arus media dan komunikasi serta arus migrasi. pengungsi dan turis telah menimbulkan persoalan mengenai identitas budaya. Di satu sisi. penyebaran referensi-referensi budaya bersama yang bersifat umum ke seluruh dunia mendukung ide-ide kosmopolitan. Ada pemikiran bahwa pertemuan budaya melintas batas-batas negara bisa menciptakan jenis fusi dan hibrida kebudayaan yang baru dan produktif (Rusdhie 1991). Namun, di samping kompleksitas kosmopolitan itu, ada juga yang melihat (dan menentang) penyeragaman budaya dan erosi ciri-ciri khas budaya tersebut. Maka. globalisasi juga terkait dengan revalidasi ciri-ciri dan identitas budaya. Ada yang menganggapi globalisasi dengan kembali ke ‘akar-akar’ mereka, dengan meneguhkan kembali apa yang menurut mereka adalah asal-usul etnis dan kebangsaan mereka, dan dengan membangkitkan kembali tradisi dan landasan-landasan relijius. Globalisasi menyeret kebudayaan ke berbagai arah yang kontradiktif dan seringkah berlawanan. Globalisasi bukan hanya menyebabkan deteritoriaiisasi namun juga reteritorialisasi kebudayaan. Globalisasi menyebabkan peningkatan mobilitas, namun juga menimbulkan fiksitas-fiksitas budaya baru. Kita bisa melihat globalisasi sebagai kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka oleh adanya jaringan komunikasi, transportasi. dan produk- produk global. Atau bisa juga kita melihatnya dari sudut pandang mereka yang menganggap globalisasi sebagai sumber destabilisasi dan disorientasi. Hingga derajat tertentu, perbedaan ini mungkin hanyalah masalah siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan atau dimarjinalisasikan. Globalisasi terjadi sebagai sebuah proses yang kontradiktif dan tidak seimbang, di mana terjadi berbagai polarisasi (di bidang ekonomi, sosial, dan budaya) dalam berbagai skala geografis. Konsekuensi yang tidak bisa dielakkan adalah pertemuan dan kemungkinan konflik nilai- nilai sosial dan budaya. Kita sudah memiliki ekonomi global dan budaya global; namun kita tidak memiliki lembaga-lembaga politik global yang bisa menengahi benturan dan pertentangannya.

PENGERTIAN GLOBALISASI | ok-review | 4.5