PENGERTIAN GERONTOLOGI SOSIAL

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Sosiologi

Gerontologi adalah studi ilmiah tentang aspek-aspek biologis, psikologis dan sosiokultural dari proses penuaan (ageing process). Sedangkan gerontologi sosial menekankan elemen sosiologis-antropoligisnya. Perhatian umum tentang kalangan lanjut usia (lansia) bersifat sosial, namun orientasi sempit ini tidak masuk dalam pembahasan. Gerontologi sosial muncul di akhir 1970-an, dan kini sudah mapan sebagai disiplin akademik dan riset tersendiri, khususnya di AS. Pendekatan-pendekatan konseptual dan metodologinya mencerminkan keragaman teori dan teknik analisis, yang hampir semuanya dipinjam dari disiplin lain. Ada tiga hal yang menjadi pokok perhatian dalam studi perilaku ini: arti penting relatif penuaan sebagai suatu proses universal yang dialami oleh semua manusia dan faktor-faktor budaya yang mempengaruhinya; dialektika antara stabilitas dan perubahan dalam tahapan hidup lebih lanjut; serta kedudukan kaum lanjut usia dalam struktur sosial, termasuk peran simboliknya di mata kaum lanjut usia sendiri maupun di mata kalangan lain. Pertama, arti penting proses penuaan sejak lama menjadi bahan kajian teoretis. Para antropolog mencatat adanya kesamaan kebutuhan dan aspirasi di kalangan lansia, seperti keinginan untuk hidup lebih lama, dan untuk tidak cepat-cepat masuk liang lahat. Mereka juga melihat adanya pengaruh ekonomis; artinya, banyak lansia yang mendambakan tetap aktif dalam kegiatan ekonomi produktif, sekalipun resminya mereka telah pensiun. “Teori pemutusan” berpendapat bahwa masa istirahat di hari tua ternyata tidak begitu menyenangkan bagi kaum lansia, karena mereka merasa terasing olehnya. Teori ini sendiri dikritik karena tidak memberi perhatian pada keragaman budaya, dan terlalu khas Barat. Di banyak masyarakat tradisional, kaum lansia boleh tetap aktif melakukan apa saja selama mereka suka. Namun para psikolog ternyata juga diliputi oleh bias universalis seperti ini. Mereka berpendapat bahwa umumnya lansia selalu terdorong untuk lebih berintrospeksi ke dalam, seolah-olah mereka tengah menaksir kesiapan mereka sendiri untuk mengakhiri hidup. Di sini pun faktor budaya sebenarnya berpengaruh. Kedua, penuaan secara umum diyakini seba-gai suatu proses dinamis di mana transformasi berbagai aspek kehidupan berlangsung serentak. Dalam masyarakat yang kompleks dan cepat berubah, hidup diidentikkan dengan mobilitas yang tinggi, dan dalam konteks ini penuaaan dianggap sebagai suatu pelambatan dan pengikisan peluang untuk maju. Sedangkan dalam struktur sosial di mana pengalaman dan penguasaan informasi dan materi sangat diutamakan, kaum lansia dipandang sebagai kelompok marginal yang stagnan. Stereotip yang relatif sempit ini masih bertahan sekalipun fakta menunjukkan bahwa meningkatkan harapan hidup membuat kaum lansia lebih aktif ketimbang generasi terdahulu. Ketidaksesuaian antara definisi sosial dan pengalaman pribadi itu mengakibatkan kekaburan dan kerancuan. Peluang/kemungkinan tidak terlalu dipersoalkan oleh kaum lansia yang tidak terlalu dimungkinkan lagi menyusun rencana jangka panjang untuk hidupnya; namun itu tidak berarti mereka tidak bisa maju atau mengalahkan orang yang lebih muda. Perjuangan lansia dalam memperoleh identitas atau status yang lebih baik dipersulit oleh susutnya nilai-nilai lama yang menempatkan mereka dalam kedudukan sebagai panutan yang dihormati. Kalau pun diakui sebagai panutan, peran aktif mereka ternyata tidak diharapkan. Dalam masyarakat subsisten, stagnasi ini tidak menjadi masalah karena setiap orang, tua atau muda, diharapkan untuk tetap aktif. Sedangkan dalam masyarakat agraris, kedudukan lansia lebih terhormat, bahkan bernuansa spiritual. Ketiga, kaum lansia dipandang memiliki peran-peran sosial tertentu yang relatif terbatas. Dalam masyarakat modern, peran itu bahkan kian dibatasi, dan sumbangsih mereka tidak begitu diharapkan.
Bersama anak-anak balita, mereka bahkan cenderung dianggap sebagai beban. Namun adalah keliru jika peran lansia sama di satu masyarakat dibandingkan di masyarakat lain. Karena itu para peneliti pun berusaha memilah-milah peran itu dan mengaitkannya dengan kultur atau subkultur di mana kaum lansia itu berada. Dalam banyak kasus, mereka juga mengembangkan suatu kerangka sosial dan makna simbolis, yang diakui penting untuk lebih memahami kedudukan lansia di masyarakat yang acapkali terabaikan atau disepelekan. Gerontologi sosial kini berada pada tahap transisi. Banyak aspek penuaan dapat dianalisis dan dijelaskan oleh disiplin lain, namun meningkatnya cadangan data dan teori mengenai usia tua, kian memacu riset sosial atas berbagai masalah spesifik seperti politik usia lanjut, proses penuaan dan aspek hukumnya, serta berbagai masalah yang bersumber dari usia lanjut itu sendiri. Sudah banyak riset yang dilakukan untuk meneliti kalangan lanjut usia sebagai suatu persoalan sosial atau obyek kebijakan publik. Masalah sentralnya memang telah diidentifikasikan, namun upaya teorisasinya belum memadai.

PENGERTIAN GERONTOLOGI SOSIAL | ok-review | 4.5