PENGERTIAN GEOGRAFI SEJARAH

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Geografi sejarah diberi arti yang bermacam- macam. Kalau ia dipakai sebagai sinonim dari sejarah pemikiran geografi, maka perkembang-annya telah berlangsung sejak lama. Pada abad sembilanbelas dan awal abad duapuluh istilah ini biasa dipakai berkenaan dengan sejarah eksplorasi dan penemuan, pembuatan peta dunia, dan perubahan batas-batas politik dan administrasi. Namun kelahiran serta perkembangan geografi sejarah modern sebagai studi mengenai keadaan geografi di masa lalu bisa dilacak dari tahun 1920- an dan 1930-an. Pada 1960-an ia telah cukup matang untuk berdiri sendiri sebagai sebuah disiplin ilmu, yang tidak hanya berurusan dengan rekonstruksi keadaan geografis masa lalu melainkan juga mempelajari perubahan-perubahan geografi. Definisi yang signifikan mengenai disiplin ini diberikan oleh H.C. Darby (1962) dalam sebuah pernyataan pokok yang menggabungkan pandangan lama dan baru. la melihat ada empat pendekatan dalam geografi sejarah: pertama, mengenai keadaan geografi di masa lalu perbandingan keadaan geografi suatu daerah secara horizontal di masa lalu; kedua, perubahan lansekap tema-tema transformasi lansekap yang bersifat ‘vertikal’, seperti pembukaan suatu lahan hutan dan pengeringan rawa; ketiga, masa lalu yang dijelaskan dari keadaaan geografinya di masa sekarang; keempat, sejarah yang bersifat geografis penyelidikan mengenai pengaruh kondisi-kondisi geografis (keadaan lingkungan dan lokasi) terhadap jalannya sejarah. Geografi sejarah yang diramu dengan cara demikian memiliki karakteristik sebagai sebuah pendekatan yang memakai data sejarah tapi dengan masalah dan metode yang bersifat geografis: ia menekankan pemetaan sumber-sumber sejarah dengan maksud untuk menampilkan perbedaan-perbedaan regional di masa lalu dan perubahan lansekap selama periode-periode tertentu. Metode ini tampak secara jelas dalam karya Darby mengenai keadaan geografis Domesday dan pengeringan daerah Fens. Sejak awal 1970-an, tradisi geografi sejarah Darby yang didasarkan pada empirisme berbasis data dan pragmatisme metodologis itu kian sering dan penting untuk diselidiki guna mengembangkan geografi humanistik mutakhir dan ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Keinginan sementara ahli geografi untuk berperan serta dalam usaha ‘menjelaskan’ dunia melalui teori-teori umum pengorganisasian ruang segera ternyata disambut dengan hujan kritik, atau penerimaan terbatas. Ilmu keruangan positivis yang diterapkan pada studi-studi geografi, yang diwarnai semangat yang kuat untuk menggali pendekatan-pendekatan lain untuk menjawab pertanyaan historis-geografis, termasuk perlawanan terhadap materialisme historis dan idealisme humanistik, tidak segera mendapat sambutan hangat. Secara signifikan, para ahli geografi sejarah telah berada di lini depan untuk menghadapi positivisme ilmu keruangan, bersamaan dengan pengembangan teori sosial dalam geografi dan mempertahankan imajinasi geografis dalam ilmu sosial. Dengan bangkitnya kembali pengakuan terhadap kebutuhan untuk mempertebal perspektif sejarah terhadap ilmu geografi mutakhir dan memberikan persektif geografi kepada ilmu sejarah (dan ilmu sosial lain), geografi sejarah memberi kontribusi penting terhadap disiplin inti maupun cabang-cabangnya. Geografi sejarah sebagai studi mengenai masa lalu (khususnya manusianya) mencerminkan keanekaragaman geografi itu sendiri. Ia tidak hanya melingkupi geografi tradisional, yang berkenaan dengan tempat, tata ruang, dan lingkungan, melainkan juga masalah masalah modern seperti ekologi, lokasi, dan lansekap. Ada beberapa hal yang ikut mempengaruhi. Pertama, sekian buku dan atlas telah diterbitkan untuk menggambarkan keadaan geografi sejarah suatu tempat, negara atau benua tertentu. Kedua, munculnya studi-studi lain yang berfokus pada perubahan hubungan antara manusia dengan lingkungan fisiknya, dampak kebudayaan terhadap ekologi alam. Studi-studi semacam itu memiliki beberapa bentuk: ada yang berkonsentrasi pada pelacakan sejarah interaksi antara manusia dan lingkungan fisiknya yang menyediakan sumber-sumber daya material untuk menjaga kelangsungan hidup serta gaya hidup di suatu tempat khusus; ada juga yang berfokus pada rekonstruksi geosofi-geosofi sejarah yang khusus, yang mempersoalkan persepsi (dan mis-persepsi) manusia mengenai lingkungan fisik mereka.
Ada pula studi-studi yang memantau dampak manusia terhadap lingkungan fisik mereka, dengan berfokus pada pengelolaan lingkungan (dan mis-manajemennya) di masa lalu. Ketiga, dalam geografi sejarah ada mazhab yang telah lama berdiri sendiri dalam studi-studi mengenai lokasi dan difusinya, yang mempersoalkan penyebaran gejala di dalam ruang dan waktu. Selama sekian lama mazhab ini diasosiasikan dengan karya Cari Sauer dan mazhab Berkeley mengenai geografi kultural di Amerika Utara. Studi-studi difusi ini berubah karena pengaruh Torsten Hagerstrand, seorang ahli geografi Swedia, yang kemudian memunculkan studi-studi kualitatif informal mengenai domestikasi tanaman dan binatang sampai studi kualitatif formal mengenai penyebaran inovasi perkebunan dan penyebaran penyakit. Terakhir, berkembangnya mazhab lansekap dalam geografi sejarah yang juga diwakili oleh sejumlah pendekatan yang saling berlawanan: ada studi yang memfokuskan diri pada rekonstruksi transformasi lansekap oleh aktivitas manusia (khususnya aktivitas ekonomi), dan ada juga yang menggali desain dan perwujudan simbolis dari lansekap, serta melakukan dekoding terhadap makna-makna dan ikonografinya.

PENGERTIAN GEOGRAFI SEJARAH | ok-review | 4.5