PENGERTIAN GENG

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Sosiologi

Istilah “gangs” ini sejak lama telah digunakan untuk merujuk pada kelompok-kelompok berki-sar dari “play group” (kelompok bermain di masa kanak-kanak dan remaja) hingga kelompok keja hatan terorganisasikan. Geng menjadi perhatian umum karena secara awam istilah tersebut merujuk pada kelompok perusuh yang biasanya terdiri dari anak-anak muda. Kontroversi dari definisi istilah tersebut berkisar pada harus atau tidaknya perilaku kejahatan dan pengidentifikasian diri dalam kelompok tersebut diperhitungkan. Beranjak kepada pengertian yang lebih sederhana, geng adalah kelompok perkoncoan remaja, bukan kelompok pemuda yang didukung orang dewasa. Ini merupakan kelompok yang anggotanya selalu bersama-sama secara teratur, dan mereka menentukan sendiri kriteria keanggotaannya (Short 1990). Identifikasi geng seperti ini memudahkan pembedaannya dari kelompok yang didukung oleh orang dewasa yang biasanya berhubungan dengan lembaga seperti sekolah, gereja atau instansi resmi. Perbedaan antara kelompok dewasa dan geng, dan antara geng sebagai kategori buatan dan kelompok jalanan “alamiah” merupakan landasan tipologi kelompok secara umum. Kebutuhan akan adanya tipologi seperti itu sangat besar, antara lain karena peran media, strategi aturan pelaksanaan hukum dan persepsi umum masyarakat yang sering mengaburkan perbedaan antara keberadaan geng dan keinginan untuk mengontrolnya. Tanpa tipologi ini, setiap kelompok akan disamaratakan. Dari sekian banyak perilaku negatif yang berhubungan dengan geng, yang paling sering terjadi adalah kekerasan, penyalahgunaan dan penyelundupan obat-obatan. Ada bukti kuat bahwa banyak anggota geng jalanan memang sering memakai dan menjual obat-obatan, namun tidak tersedia bukti untuk mendukung anggapan bahwa geng jalanan adalah pelaku utama dalam penjualan obat-obatan terlarang. Keberhasilan dalam menjual obat-obatan ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat, kemampuan berorganisasi, dan pertalian yang erat, serta upaya yang terkonsentrasi pada penjualan obat-obatan tersebut dan menghindari dari kejahatan lainnya; tidak ada satu pun dari persyaratan ini yang bisa dipenuhi oleh geng jalanan. Kekerasan dan obat terlarang memang hampir tak terpisahkan dari geng jalanan; namun tekanan terhadap mereka bukan merupakan solusi utama guna mengatasi masalah obat-obatan terlarang. Sebuah lembaga riset mengusulkan perlunya pemilahan aksi kekerasan geng jalanan. Pertama, konflik dengan geng lawan, yang biasanya dikarenakan persaingan daerah kekuasaan atau untuk mencari peningkatan status dalam perilaku (persaingannya lebih terwujud pada aksi grafiti, tari atau kontes atletik/kekuatan). Kedua, kekerasan dalam mencari identitas kelompok. Ketiga, kekerasan sebagai konsekuensi proses pembinaan kekompakan kelompok. Ketahanan menghadapi kekerasan bahkan merupakan sumber status individu maupun kelompok. Serangkaian riset sistematik terhadap geng anak muda baru dimulai pada paruh kedua abad 20. Tipologi yang lengkap dari geng-geng ini belum tersedia, meskipun sejauh ini sudah ada upaya-upaya ke arah itu. Salah satu di antaranya memusatkan perhatian pada geng-geng “buas” (kinhead, bikers, taggers, stoners dan banyak lagi), dan ada pula yang mengkhususkan perhatian pada karakter hubungan antara kelompok- kelompok seperti itu. Tipologi dari suatu kelompok atau geng tidaklah statis, karena bentukan baru dan perilaku menyimpang sering terjadi. Kondisi internal geng memberikan dasar bagi perubahan, baik dalam orientasi maupun perilaku. Contohnya, masuknya sejumlah anggota baru mendorong geng “taggers” menjadi geng jalanan yang lebih brutal dan kian aktif dalam soal obat-obatan terlarang. Perubahan seperti itu sering terjadi, namun bagaimana hal itu terjadi belum banyak diketahui.
Eksistensi dan kontinuitas geng selalu dipengaruhi oleh kekuatan luar, unsur makroekonomi. Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebagai contoh, peningkatan basis industri di beberapa kota menyebabkan meluasnya kemiskinan dalam kehidupan perkotaan Banyak keluarga yang berantakan, dan para pemudanya lari ke geng-geng yang gemar melakukan kerusuhan sebagai pelampiasan. Banyak anggota geng meneruskan afiliasi kelompoknya hingga dewasa, dan dalam beberapa kasus yang langka, geng bisa berkembang positif menjadi aliansi ekonomi yang kuat. Namun apa yang diketahui tentang hal ini masih sangat sedikit. Tanpa adanya lebih banyak riset sistematik, proses sebab-akibat dari perubahan sosial dan ekonomi seperti itu akan tetapi menjadi teka-teki.

PENGERTIAN GENG | ok-review | 4.5