PENGERTIAN GENETIK DAN PERILAKU

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Psikologi

Pada pengujung abad sembilanbelas, Sir Francis Galton mengumpulkan informasi mengenai tingkat kecerdasan, ciri-ciri fisik dan status pekerjaan dari anggota keluarga, dan melakukan perbandingan tingkah laku genetik. Sejalan dengan sentimen yang berlaku di kalangan mapan Inggris, penemuan bahwa karakter-karakter ini berkumpul dalam keluarga-keluarga tertentu kemudian digunakan sebagai pembenaran biologis atas struktur kelas sosial pada waktu itu dan bahkan untuk pembenaran atas dominasi para bangsawan dan keluarga kerajaan Inggris. Kamin (1974) menunjukkan bahwa alasan serupa telah dipakai oleh para psikolog Amerika yang bertanggung-jawab atas ujian-ujian administratif kepada para imigran yang masuk ke AS sehingga Konggres kemudian menyetujui Immigration Act 1924 yang membatasi imigran dari Eropa Selatan dan Timur. Jadi, sejak seratus tahun lalu masalah yang berkaitan dengan hubungan antara genetika dan perilaku telah menimbulkan dampak-dampak politik yang serius. R. A Fisher (1918) menggabungkan teori penurunan sifat-sifat genetik dari Mendel dengan kesinambungan variasi fenotipe yang diamati oleh para ahli biometrika. Pemikiran ini kemudian mendasari analisis terhadap variasi kesinambungan ciri-ciri pada sebuah keluarga. Landasannya adalah bahwa keseluruhan variasi fenotipe, P, dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang dipengaruhi gen, G, bagian yang dipengaruhi variasi lingkungan, E, dan interaksi antar gen-gen itu dengan lingkungan. Belakangan, para penangkar hewan mengistilahkan rasio G terhadap P itu sebagai’heritabilitas’ .
Para penangkar ini menggunakan heritabilitas sebagai indeks kepatuhan [amenability) untuk menyeleksi hewan tangkaran. Tentu saja, hal ini tidak berlaku untuk konteks tingkah laku manusia, dan sayangnya dalam konteks ini berkembang konotasi determinasi biologis dan membias pada intervensi lingkungan. Penggunaan heritabilitas dalam situasi-situasi di mana tidak ada kontrol-kontrol eksperimental telah dikecam oleh ahli-ahli genetik, yang lebih condong kepada pemikiran ‘norma reaksi’. Norma reaksi dari suatu genetik adalah gambaran dari ciri fenotipe melawan lingkungan. Ditekankan di sini bahwa aksi gen tergantung kepada lingkungannya; suatu genotipe yang memiliki kinerja lebih baik daripada genotipe lain di suatu lingkungan, bisa saja lebih buruk jika berada pada lingkungan lain. Contohnya adalah penyakit genetik ma-nusia, yang disebut fenilketonuria atau PKU, di mana para penderita menumpuk racun fenila lanin dalam tubuhnya yang mengakibatkan pelambatan mental yang akut. Dengan diet khusus yang membatasi pemasukan fenilalanin sejak kelahiran, fungsi mental akan berjalan normal. Pendekatan norma reaksi memberitahukan kepada kita bahwa seandainya heritabilitas IQ adalah 100 persen, hal itu tidak akan ada pengaruhnya terhadap potensi manipulasi lingkungan. Pendekatan Fisher terhadap kesinambungan variasi genetik menghasilkan kemungkinan-kemungkinan nilai pada korelasi antara semua tingkat kekerabatan yang kemudian diperbandingkan untuk mengamati korelasi-korelasi yang diperoleh dari pengamatan dan taksiran heritabilitas. Pada dasarnya, data yang paling kuat dari jenis semacam ini menggunakan anak-anak adopsi dan, khususnya, kembar-kembar identik yang diasuh secara terpisah. Kembar-kembar semacam itu sangat sukar didapat dan sayangnya sampel terbesar, yang dipublikasikan oleh Burt dalam analisisnya mengenai heritabilitas, terbukti bukan kembar asli. Lagipula, sampel-sampel yang tersisa biasanya sudah tersisih dari ketidak- randoman prosedur adopsi Namun, hingga kira-kira tahun 1970 taksiran-taksiran yang meng-gunakan data Burt telah menghasilkan statistika yang dipakai secara luas bahwa gen mempengaruhi 80 persen dari variasi IQ. Metode analisis jalur Wright (1934) merupakan salah satu yang dominan untuk menaksir tingkat heritabilitas. Pada 1974. metode ini menghasilkan 67 persen taksiran heritabilitas genetik. Langkah-langkah analisis-jalur memungkinkan untuk mengatur pasangan dan untuk melihat pengaruh lingkungan dalam keluarga, yakni pengaruh kultural. Diperkirakan oleh Rice et al (1980) dan Rao et al (1982) bahwa penurunan sifat genetik dan lingkungan mempengaruhi masing-masing sekitar sepertiga dari variasi IQ. Sebagaimana analisis Fischer, analisis-jaiur ini didasarkan pada model-model determinasi linear yang menjadi alasan munculnya berbagai kritik. Kritik lainnya adalah bahwa kebanyakan anak adopsi tidaklah diadopsi secara acak, bahwa peningkatan rata-rata IQ mereka dibanding kedua orangtua kandungnya tidak diperhatikan, dan bahwa taksiran-taksiran heritabilitas genetik dan kultural tergantung pada definisi lingkungan dan model penurunan sifat yang dipergunakan. Seringkali dikemukakan bahwa tingginya heritabilitas pada suatu ciri dalam sebuah kelompok, misalnya kelompok ras. lebih memungkinkan timbulnya perbedaan yang bersifat genetis di antara kelompok-kelompok itu. Pendapat ini sebenarnya keliru, karena heritabilitas adalah ukuran intra-kelompok yang sangat tergantung pada rentang lingkungan di mana pengukuran itu berlangsung. Dalam studi-studi mengenai distribusi tingkah-laku manusia dalam keluarga, yang databasenya tidak sebesar persediaan data untuk masalah 1Q dan ciri-ciri yang diteliti sepenuhnya bersifat gangguan klinis, metode anak-kembar dan metode anak-adopsi telah dipakai secara luas. Dalam metode anak-kembar, fraksi dari kembar identik (monozigotik atau MZ) yang kedua pasangannya terkena penyakit serupa, diperbandingkan dengan kembar fraternal (dizigotik atau DZ). Suatu marjin yang secara signifikan menguntungkan yang pertama telah diambil sebagai landasan bagi aetiologi genetik. Sekian banyak studi tentang kecocokan dalam tingkat kriminalitas, neurosis, gangguan afektif seperti manic-depresif dan schizofrenia umumnya menunjukkan bahwa antara MZ dan DZ terdapat kesamaan yang besar. Dalam studi- studi ini kembar-kembar itu umumnya tidak diasuh secara terpisah sehingga peran khusus dari lingkungan, khususnya terhadap kembar MZ, tidak bisa diperkirakan. Masalah lain seperti mode kepastian proband, serta heterogenetika dalam definisi dan variasi sindrom antara tingkat-tingkat persesuaian tadi, dalam berbagai studi juga menambah keraguan terhadap efisiensi metode kembar ini. Dalam metode anak-adopsi, kesamaan ciri yang muncul pada anak yang diadopsi oleh penderita diperbandingkan dengan keadaan kerabat aslinya. Jika kesamaan itu lebih besar dalam hubungan kandung biasanya ditarik inferensi bahwa penyakit itu mengandung aetologi genetik. Studi-studi gangguan perilaku pada anak-angkat sebagaimana tersebut di atas umumnya telah menunjukkan kesesuaian lebih tinggi di antara kerabat biologis ketimbang kerabat adopsi. Sekali lagi penafsiran akan adanya sebab genetis dalam ketidaknormalan tingkah laku harus dipandang secara menyeluruh, karena ada fakta bahwa adopsi random benar-benar jarang terjadi dan biasanya adopsi dilakukan ketika seorang anak sudah cukup besar. Tidak satu pun gangguan tingkah laku tersebut yang secara biomedis memperlihatkan variasi genetik yang tidak lazim, kendati riset- riset terus diarahkan kepada peran berbagai alat chatolamine dan kelengahan metabolisme. Evolusi perilaku sosial telah menimbulkan semacam teka-teki bagi para sejarawan alam sejak masa Darwin. Bidang studi ini dahulu diletakkan di bawah etologi dan ekologi tingkah-laku, dan hingga pertengahan 1970-an relatif masih tidak tersentuh oleh ilmu genetika populasi evolusioner yang dikembangkan oleh Fisher, Wright (1934), dan Haldan (1932: 1955). Pada tahun 1975 E.O Wilson menerbitkan buku Sociobiology di mana ia tidak hanya menekankan bahwa tingkah laku sosial dalam kerajaan binatang mulai dari semut hingga manusia tidaklah jauh berbeda, namun ia juga berpendapat perilaku secara genetik telah ditentukan. Maka sejak itu etologi dan sebagian besar ekologi tingkah-laku diletakkan di bawah bendera baru, ‘sosiobiologi’. J.B.S. Haldane telah berspekulasi pada tahun 1932 bahwasanya cara burung-burung saling memberi peringatan ditentukan oleh genetikanya, tapi disimpulkan bahwa dasar genetik dari evolusi pengorbanan-diri mungkin hanya bisa diterapkan untuk serangga-serangga sosial. Pada tahun 1955 ia menyerang sosiobiologi dengan menanyakan berapa saudara sepupu yang harus dikorbankan untuk seorang saudara kandung. Spekulasi-spekulasi ini diformalkan oleh Hamilton (1964), yang membuat model evolusi sebuah gen, yakni sebuah allele yang memberi tingkah-laku altruistik bagi pembawanya. Altruisme di sini artinya adalah kesegaran individu-individu yang altruistik itu berkurang karena mereka menjalankan suatu tingkah laku yang menambah ketahanan individu lain dalam populasi. Hamilton tiba pada kondisi-kondisi atau syarat-syarat derajat hubungan antara donor dan resipien yang memungkinkan genotipe-genotipe altruistik bertambah dalam populasi itu. Kondisi itu biasanya dinyatakan dalam bentuk pr > y dimana p dan y mengukur kesegaran yang diperoleh resipien dan kehilangan kesegaran dari donor, dan r adalah koefisien kedekatan hubungan. Hamilton mencatat bahwa serangga jantan haplodiploid seperti hymen op tera memiliki ukuran kedekatan hubungan dengan saudara-saudara betinanya lebih dari yang lain. Karena ketidaksetaraan lebih mudah diatasi pada spesies-spesies yang kedua jenis kelaminnya diploid, ini bisa dijelaskan atas dasar evolusi genetik yang sederhana pada hymoptera sosial yang sistem sosialnya berkasta dan spesies pekerjanya mandul. Teori evolusi tentang tingkah-laku yang mengarah pada pola kekerabatan ini kemudian disebut ‘seleksi kerabat’ (kin selection). Dalam analisis teoretis, Hamilton menggunakan matematika untuk memperkirakan frekuensi allele dari varian altruistik itu, frekuensi gen altruistik. untuk memainkan pera
n sentral. Dengan perkiraan matematis itu terdapat kesan bahwa tidak mustahil untuk menambah sumbangan kesegaran dari semua kerabat yang terjangkit altruisme untuk menghasilkan kesegaran inklusif dari allele itu. Telah dibuktikan bahwa kesegaran inklusif bukanlah konsep yang jelas dan teori seleksi kekerabatan bisa disusun berdasarkan model-model populasi genetik yang klasik dengan perbedaan ketahanan hidup yang bergantung pada frekuensi seleksi, sebagaimana teori Darwin. Perumusan Hamilton mengandung beberapa asumsi, tapi manakala asumsi-asumsi itu dipisahkan, teorinya masih tetap benar: semakin dekat hubungan antara donor dan resipien dari suatu tingkah laku yang tidak menguntungkan (yang dikendalikan gen tunggal), makin mudah tingkah-laku itu muncul. Dalam bukunya, Sociobiology, E.O Wilson berangkat dari teori Hamilton untuk mengemukakan bahwa evolusi perilaku sosial di seluruh kerajaan hewan, termasuk homo sapiens, adalah mengikuti kaidah seleksi kekerabatan. Tentu saja pendapat ini mengabaikan kritik umum bahwa tidak satu pun tingkah laku sosial yang diteliti itu memiliki landasan genetis, sehingga tidak mungkin dikendalikan begitu saja oleh faktor gen. Kendati banyak ahli ekologi tingkah laku sependapat dengan Wilson pada tahun-tahun setelah bukunya diterbitkan, namun kesulitan empiris untuk mengukur derajat kedekatan hubungan dan tingkat ketahanan hidup spesies, serta kritik teknis oleh ahli-ahli genetika populasi, telah mengurangi popularitasnya. Faktor kekerabatan masih memainkan peran sentral dalam ekologi perilaku, namun keterbatasan-keterbatasan penjelasan dari teori seleksi kekerabatan yang sederhana perlu dimaklumi. Dalam buku Homo sapiens, para ahli sosio-biologi berpendapat bahwa peran kegiatan belajar dan transimisi kultural harus seimbang dalam membentuk tingkah laku sosial. Secara khusus, para ahli sosiobiologi menyatakan bahwa fenomena seperti agresi, inses-tabu (larangan hubungan bagi kerabat dekat), penyimpangan, batasan preferensi, kepatuhan (konformitas), dan kecenderungan iri-hati dapat diturunkan secara genetik. Dalam pandangan ini, di mana tingkah laku manusia dianggap telah ditentukan sejak lahir oleh gen yang dibawanya, jelas terkandung bahaya politis. Kita telah menyaksikan bagaimana kebijakan mengenai IQ dibuat dengan pandangan yang kabur dan dengan data yang diragukan kualitasnya telah menimbulkan kekacauan. Karena itu pandangan sosiobiologi tentang masalah seleksi sengaja dibuat tidak kaku dan bahwasanya pengaruh faktor genetik dapat dipertukarkan dengan faktor lain. Akan tetapi transisi perilaku secara budaya, di mana perangkat-perangkat evolusinya jelas berlainan dengan evolusi genetik, masih diabaikan. Memang sosiobiologi menuntut terlalu banyak sehingga ada kritik sinis: “cepat atau lambat, ilmu politik, hukum, ekonomi, psikologi, psikiatri, dan antropologi semua akan menjadi cabang dari sosiobiologi” (Trivers dalam Time, 1 Agustus 1977). Syukurlah, kita semua cukup memahami ilmu biologi dan bisa membedakan mana anjing, mana ekornya.

PENGERTIAN GENETIK DAN PERILAKU | ok-review | 4.5