PENGERTIAN GANGGUAN MENTAL

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Psikologi

Ini merupakan sebuah klasifikasi kategoris yang mengelompokkan berbagai macam gangguan mental yang ditandai oleh gejala-gejala fenomenologis yang kemudian diorganisasikan berdasarkan seperangkat kriteria tertentu. DSM-IV adalah edisi keempat Diagnostic and Statistical Manual yang diterbitkan di tahun 1994 oleh American Psychiatric Association. Meskipun tujuan pengembangannya adalah untuk keperluan praktek klinis, DSM-IV juga digunakan secara luas dalam kegiatan pelatihan, riset dan pencatatan medis. Upaya-upaya untuk mengklasifikasikan penyakit mental sudah dimulai ribuan tahun yang lalu (bangsa Mesir kuno dan Sumeria sudah melakukannya sejak 3000 tahun sebelum Masehi). Dalam klasifikasi ini, pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam kajiannya juga bervariasi.
Sistem-sistem klasifikasi juga dapat dibedakan berdasarkan cakupan jenis gangguan mental, prosesnya, aspek-aspek yang dipentingkan dan juga pola munculnya gejala yang diobservasi. Pada paruh kedua abad kesembilanbelas, Emil Kraepelin mengembangkan suatu klasifikasi yang memadukan berbagai aspek yang saling berlainan tersebut. Ia secara tekun mempelajari sekelompok pasien yang mengalami gangguan mental dengan berbagai bentuk gejala/simptom. Metodologi umum yang digunakan dan dikembangkan oleh Kraepelin (1917) masih banyak dipakai dalam sistem DSM dewasa ini. Sistem klasifikasi lainnya telah dikembangkan di Amerika Serikat sebelum terbitnya DSM-I di tahun 1952. Namun sistem DSM itulah yang merupakan sistem pertama yang menekankan kegunaan atau kesesuaiannya dengan keperluan klinis. DSM-I merupakan varian dari International Classification of Diseases. Injuries, and Causes of Death, edisi keenam terbitan WHO (1948) yang edisi-edisi berikutnya diberi judul International Classification of Disease (ICD). Edisi pertama ICD sudah memuat bagian tentang penyakit-penyakit mental. Sistem ICD terus disempurnakan, dan revisi terus pula dilakukan pada edisi-edisi berikutnya dengan penekanan pada perbaikan kompatibilitas atau kesesuaian dengan sistem klasifikasi yang lain. DSM-III (terbit 1979) memperlihatkan pergeseran penting dalam pendekatan diagnosis psikiatris dan untuk pertama kalinya memasukkan kriteria eksplisit mengenai berbagai jenis penyakit mental. Inovasi utama DSM-IV terletak pada kelengkapan dokumentasi dan data empirisnya mengenai proses-proses munculnya penyakit kejiwaan/mental. Ada tiga hal penting dalam DSM-IV, yakni adanya kajian literatur yang sosial selalu hadir secara bersama-sama untuk memberikan pengaruh. Secara keseluruhan semua faktor itu dapat dibagi-bagi lagi menjadi faktor-faktor predisposisi, pemicu dan yang membuat gangguan ini berlarut-larut. Faktor-faktor predisposisi. Hampir setiap wanita muda di negara maju berresiko mengidap gangguan makan akibat kuatnya tuntutan sosial bagi mereka untuk tetap langsing dan menarik. Penyakit ini bersifat turunan. Jadi selain lingkungan, faktor genetis juga berperan. Ciri keluarga penderita penyakit ini sulit dipastikan, sehingga keluarga mana saja bisa menurunkannya. Dulu ada anggapan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan ancaman kekerasan fisik oleh keluarganya akan dilingkupi kemungkinan lebih besar untuk menderita penyakit ini, namun tidak ada bukti yang memadai untuk itu. Betapa pun. faktor keluarga merupa¬kan faktor diposisi yang utama, khususnya untuk kasus bulimia nervosa. Faktor-faktor pemicu. Terjadinya gangguan makan biasanya (meskipun tidak selalu) diawali oieh suatu peristiwa besar dalam hidup seseorang. Contohnya adalah bangkitnya atau disadarinya tuntutan lingkungan untuk selalu tampil menarik yang kemudian mendorong seseorang melakukan diet ketat. Kalau diet dirasa belum cukup, maka ia akan melakukan hal-hal lain yang menjurus pada gangguan makan. Faktor-faktor yang memperparah. Ada dua konsekuensi penting cari die: yang memperparah anorexia nervosa. Perrama kepuasan atas keberhasilan menurunkan berat badan dari diet akan mendorong pelakunya melakukan diet yang lebih ketat lagi. Kedua, jika penyusutan berat badannya sangat besar maka hal ini dibarengi oleh kelaparan yang kemudian mengacaukan program diet sehingga lagi-lagi mendorong pelakunya melakukan diet yang menyiksa. Dalam kasus bulimia nervosa, gangguan-gangguan itu membentuk lingkaran setan: keinginan menjaga berat dan bentuk tubuh akan mendorong diet; diet mengakibatkan kdaparan dan membuat pelaku akan makan berlebihan, dan hal ini selanjutnya memperbesar kekhawatiran atas berat dan bentuk tubuh dan memacu diet yang lebih keras yang membuatnya kelaparan dan menggodanya untuk makan berlebihan. Demikian seterusnya, sehingga pola makan orang tersebut benar-benar kacau. Siklus ini bisa berlangsung hingga bertahun-tahun. Pengobatan. Sampai sejauh ini belum banyak riset sistematis tentang pengobatan anorexia nervosa. Teknik pengobatan yang selama ini dilakukan sekedar membawa si penderita ke rumah sakit, atau dirawat di rumah dengan pengawasan dokter. Nutrisi dan penyuluhan gizi dilakukan dengan bimbingan emosional (Russel 1970). Hasil jangka pendeknya cukup baik. Pasien bisa kembali normal dalam waktu empat bulan. Perkembangan harian menunjukkan peningkatan kesehatan. Pengobatan kasus anorexia nervosa akan optimal jika keluarga dilibatkan. Ada sejumlah riset farmakologis dan fisiologis untuk kasus bulimia nervosa. Efek anti-bulimic dapat dipicu lewat obat anti-depressant tertentu, namun begitu pasien keluar dari rumah sakit ia mudah terserang gangguan lagi. Pengobatannya harus didukung dengan langkah psikologis. Metode psikoterapi cukup membantu, namun yang lebih baik adalah terapi perilaku kognitif, yang dikemas dalam formal mandiri atau pasien didorong untuk membantu dirinya sendiri (Cooper 1995). Sampai sejauh ini hasilnya cukup baik. Hasil-hasil Studi-studi tentang hasil pengobatan penderita anorexia nervosa mengungkapkan bahwa penyembuhan total sulit terwujud: sampai batas tertentu pasien masih saja mengalami gangguan tRatnasuria et al, 1991). Tingkat kematian pasien mencapai 15 persen, dan kebanyakan karena bunuh diri (Hsu 1990). Pengobatan atas penderita yang gangguannya belum terlalu parah juga tidak sepenuhnya menggembirakan, namun paling tidak dapat menghindarkan pasien dari akibat-akibat yang fatal. Sedikit saja hasil penelitian tentang bulimia nervosa yang telah dilaporkan; bahkan, studi historisnya pun belum ada. Yang jelas, pasien memerlukan waktu lama untuk menjalani terapi perilaku kognitif demi menekan gangguan makannya.

PENGERTIAN GANGGUAN MENTAL | ok-review | 4.5