PENGERTIAN FORT ROTTERDAM

By On Sunday, March 16th, 2014 Categories : Review

Sebuah benteng yang terletak di dalam kota Ujungpandang. Benteng ini merupa­kan lambang kemegahan dan kejayaan Kerajaan Go­wa di sekitar abad ke-16. Benteng ini masih terpeli­hara dengan kemegahannya dan dianggap mewakili bentuk arsitektur lama daerah ini.
Dalam benteng itu terdapat 14 bangunan buatan Belanda dan satu bangunan buatan Jepang dengan luas bangunan seluruhnya 11.805,85 meter persegi. Berdasarkan sejarah Gowa, sebelum benteng itu di­kuasai Belanda terdapat bangunan dengan bentuk ru­mah Makasar. Luas benteng itu kurang dari 3 hektar dengan ketebalan dinding rata-rata 2 meter.
Benteng Fort Rotterdam dibangun oleh Raja Go­wa ke-9, Tumaparisi Kallonna, dan diselesaikan oleh Raja Gowa ke-10, Tunipallangga Ulaweng, pada ta­hun 1545. Dalam benteng itu terdapat sejumlah ba­ngunan dengan arsitektur yang berbeda dengan ru­mah-rumah di Indonesia pada umumnya. Bangunan itu buatan Belanda setelah mereka berhasil merebut­nya dari Sultan Hasanuddin dan merekalah yang memberikan nama Fort Rotterdam. Meskipun ber­arsitektur Eropa dengan gaya Gotik, bangunan ter­sebut dirancang dan disesuaikan dengan bangunan di daerah tropis.
Dalam penguasaan Belanda benteng ini digunakan sebagai perkantoran militer maupun sipil, juga seba­gai tempat tinggal pembesar Belanda. Pangeran Di­ponegoro juga ditahan di benteng itu. Maret 1837, ter­jadi pertemuan antara dua pangeran dalam status yang berbeda, Pangeran Diponegoro dan Pangeran Hen­drik, adik Raja Belanda Willem II.
Letak benteng itu di tepi pantai, tak jauh dari Pe­labuhan Ujungpandang. Benteng ini merupakan pe­ngawal bagi Benteng Somba Opu, benteng yang me­rupakan pusat pemerintahan Kerajaan Gowa. Benteng Ujungpandang tericiak di sebelah utara Benteng Som- bu Opu. Pada masa jayanya, Kerajaan Gowa mem­punyai 14 benteng yang berfungsi sebagai benteng pengawal dari Benteng Somba Opu yang tersebar dari daerah Takalar di selatan dan Tallo di utara. Ke-14 benteng itu dinamai Tallo, Anak Tallo, Ujung Tanah, Pattunuang, Ujungpandang, Mariso, Bontorannu, Barobboso, Kale Gowa, Anak Gowa, Panakkukang, Galesong, Barombong, dan Sanrobone.
Benteng-benteng tersebut, kecuali Benteng Ujung­pandang, sekarang tidak ada lagi. Yang ada tinggal sisa-sisanya saja berupa bekas Benteng Tallo di Ke­camatan Tallo, Benteng Sanrobone di Takalar, Ben­teng Panakkukang, Benteng Anak Gowa dan Kale Go­wa di Kabupaten Gowa.
Ketika Gowa sudah kalah perang melawan Belan­da dan menandatangani perjanjian Bongaya 18 No­vember 1667, benteng-benteng tersebut mulai dihan­curkan, kecuali Benteng Somba Opu dan Benteng Ujungpandang. Benteng Somba Opu diizinkan Belan­da untuk digunakan oleh Raja Gowa sebagai pusat pemerintahannya. Tetapi setahun kemudian Benteng Somba Opu terpaksa dihancurkan setelah Raja Go­wa Sultan Hasanuddin mengangkat senjata melawan Belanda pada tahun 1668.
Benteng Ujungpandang, satu-satunya benteng yang masih berdiri dalam penguasaan Belanda, diubah na­manya menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman memilih nama itu sesuai dengan kota kelahirannya, Rotterdam.
Selain mengubah nama, ia iuga banyak mengubah bangunan dalam benteng itu. Benteng Rotterdam me­rupakan pusat pemerintahan, militer dan kegiatan ekonomi Belanda. Benteng ini sekitar 200 tahun la­manya digunakan oleh Belanda.
Cornelis Speelman, yang dianggap sukses mena­namkan kekuasaan Belanda di Ujungpandang, diang­kat menjadi Gubernur oleh pimpinan Belanda di Ba­tavia.
Ketika Jepang datang, banyak bangunan yang ru­sak dalam benteng itu akibat pertempuran. Tetapi Je­pang juga menambahkan bangunan yang disesuaikan dengan lingkungan yang ada dalam benteng itu, yakni dalam gaya Eropa dengan Gotik, tetapi tidak berting­kat seperti bangunan lainnya.
Pada tahun 1950, peristiwa KNIL menyebabkan oenteng itu juga semakin rusak. Benteng itu oleh KNIL digunakan untuk pertahanan melawan TNI. Setelah pengakuan kemerdekaan, benteng itu digunakan untuk tempat permukiman tentara dan warga sipil.
Pada tahun 1970. benteng itu dikosongkan dari peng­huninya dan diserahkan kepada Departemen Pendi­dikan dan Kebudayaan untuk dipugar dan dilestarikan. Sebagian dari kompleks benteng ini kini digu­nakan sebagai museum sejarah.

PENGERTIAN FORT ROTTERDAM | ok-review | 4.5