PENGERTIAN FOLKLOR

By On Saturday, March 15th, 2014 Categories : Antropologi

Bagian kebudayaan berbagai kolektif (folk) di dunia, yang disebarkan turun menurun di antara kolektif-kolektif di dunia (termasuk Indone­sia), baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat {mnemonic device). Kata folklor adalah pengindone­siaan kata Inggris folklore, dari folk atau kolektif dan lore atau tradisi. Menurut Alan Dundes, ahli folklor terkemuka, folk adalah sekelompok orang yang me­miliki ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, se­hingga dapat dibedakan dari kelompok lain. Yang le­bih penting lagi, kolektif ini mempunyai kesadaran akan identitas kolektifnya. Jadi, folk dari sebuah folklor dapat berupa orang kota, orang desa, orang terpelajar, orang buta huruf, dan sebagainya. Tradisi dari folk, yakni sebagian kebudayaannya, memiliki – ciri-ciri pengenal sebagai berikut: (#) penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan; {b) ber­sifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk re­latif tetap atau standar, dan telah beredar sedikitnya selama dua generasi; (c) terdiri atas berbagai versi atau varian; (d) bersifat anonim, artinya nama pencipta­nya sudah tidak diketahui lagi; (e) biasanya mempu­nyai bentuk berumus atau berpola, untuk dongeng, misalnya, selalu digunakan pembukaan dengan kata “Menurut yang empunya cerita…, demikianlah ko­non;” (/) mempunyai kegunaan bagi kehidupan ko­lektif pendukungnya; (g) bersifat pralogis, yakni mem­punyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika ilmu pengetahuan; (h) menjadi milik bersama kolek­tif tertentu; (z) pada umumnya bersifat polos dan lu­gu, sehingga sering kali kelihatan kasar dan terlalu spontan.

Yang pertama kali memperkenalkan istilah folklor 1 ke dalam dunia ilmu pengetahuan adalah William John Thoms, ahli kebudayaan antik (antikuarian).

Istilah itu diperkenalkannya pertama kali pada wak­tu ia menerbitkan sebuah artikel berbentuk surat ter­buka dalam majalah The Athenaeum No. 982 tang­gal 22 Agustus 1846, dengan menggunakan nama sa- maran Ambrose Merton. Menurut Thoms, istilah ini dipergunakan untuk menyebutkan sopan santun Ing­gris, takhyul, balada, dan sebagainya, dari masa lam­pau, yang sebelumnya disebut dengan istilah anti­quities, popular antiquities, atau popular literature.
Folklor dapat dikategorikan ke dalam tiga golong­an besar, folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan. Golongan folklor bukan lisan da­pat dibagi lagi atas yang material dan yang bukan ma­terial. Setiap golongan mempunyai beberapa genre atau bentuk. Folklor lisan, misalnya, terdiri atas bentuk-bentuk ujaran rakyat (logat, julukan, pang­kat tradisional, dan gelar kebangsawanan), ungkapan tradisional (peribahasa, pepatah), teka teki, cerita prosa rakyat (mite, legenda, dongeng, termasuk lelu­con dan anekdot), dan nyanyian rakyat. Folklor se­bagian lisan terdiri atas bentuk-bentuk keyakinan rakyat, permainan rakyat, teater rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara, pesta rakyat, dan sebagainya. Folklor bukan lisan yang material terdiri atas bentuk- bentuk arsitektur rakyat (bentuk rumah tradisional, f bentuk lumbung padi), seni kriya rakyat, pakaian dan perhiasan tubuh tradisional, alat musik tradisional, alat permainan rakyat, masakan dan minuman tradi­sional, obat-obatan tradisional. Yang termasuk folklor bukan lisan yang bukan material, antara lain, gerak isyarat tradisional, bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat (kentongan tanda bahaya di Jawa atau bunyi gendang untuk mengirim berita di Afrika), dan mu­sik rakyat.
Sangat pentinglah mengumpulkan bentuk folklor segala bangsa di dunia, karena bentuk-bentuk itu da­pat dijadikan bahan untuk menganalisis tata kelakuan kolektif pendukungnya. Hal ini disebabkan karena se­tiap bentuk folklor mempunyai beberapa fungsi pen­ting bagi kehidupan pendukungnya. Menurut William R. Bascom, ahli folklor dari Amerika Serikat, sedi­kitnya ada empat fungsi folklor: (1) sebagai sistem proyeksi, (2) sebagai alat pengesahan budaya, (3) se­bagai alat pedagogik, dan (4) sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma masyarakat dan pengenda­lian masyarakat.
Sebagai sistem proyeksi, contohnya di Indonesia adalah dongeng “Bawang Putih Bawang Merah” dari orang Betawi, atau dongeng “Joko Kendil” dari orang Jawa Tengah dan Timur. Kedua dongeng ini menu­rut penganut psikoanalisis sebenarnya adalah pro­yeksi angan-angan terpendam para remaja dari ka­langan rakyat miskin untuk dapat hidup senang me­lalui pernikahan dengan keluarga bangsawan atau orang kaya raya.
Sebagai alat pengesah budaya, folklor dapat ter­bentuk dalam adat kebiasaan, misalnya yang tercer­min dalam dongeng “Cecak yang Mengkhianati Nabi Muhammad saw.” Dalam dongeng ini seekor cecak berwarna kelabu menyindir para musuh Nabi dengan bunyinya “Cek, cek, cek! Matamu picek (buta),” yang hampir mengundang perhatian mereka ke tempat per­sembunyian Nabi. Untunglah para musuh Nabi me­rasa mustahil beliau bersembunyi dalam gua yang mu­lutnya terbendung sarang labah-labah, sedangkan di dekatnya ada seekor burung merpati yang sedang me­ngerami telurnya. Legenda ini sampai sekarang tetap dipergunakan orang di Jawa Tengah dan Timur un­tuk membenarkan anak-anak kampung membunuh cecak berwarna kelabu dengan sumpitan, pada setiap hari Jumat Legi.
Contoh folklor sebagai alat pedagogik adalah pe­ribahasa Minangkabau yang berbunyi: “Sehari selem­bar benang, lamo-lamo menjadi selembar kain.” Pe­ribahasa ini mengandung pesan kepada anak-anak agar mereka pandai membagi waktu dalam pekerjaan, mencicil dan mempelajari ilmu, atau mengumpulkan
kekayaian, karena bila semua itu dilakukan secara teratur; tujuan akan tercapai. Dengan kata lain, di dunia ini tidak ada pekerjaan yang berat apabila di­lakukan sedikit demi sedikit secara teratur.
Fungsi folklor sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma masyarakat dan pengendalian masya­rakat terdapat, misalnya, dalam peribahasa “Pagar Makan Tanaman,” yang digunakan untuk menyindir alat negara yang sering memeras rakyat, yang seha­rusnya dilindunginya. Sewaktu mendengar sindiran yang berupa ungkapan tradisional itu, alat negara yang bersangkutan biasanya tidak dapat marah, ka­rena ia sadar bahwa celaan tersebut tidak berasal dari satu orang, melainkan dari kolektif yang mewajibkan dia, sebagai salah satu anggota, turut mendukung­nya.
Dari contoh-contoh di atas, tidak syak lagi bahwa penelitian folklor sangat penting, karena di dalamnya terkandung nilai-nilai, norma-norma, dan pandangan hidup suku bangsa pendukungnya. Dengan mengeta­hui semua itu, kita dapat mengetahui tata kelakuan kolektif yang bersangkutan, sekaligus mengetahui ke­pribadian dasar mereka.
Folklor sebagai ilmu pengetahuan antardisiplin per­tama kali diperkenalkan di Indonesia ketika Prof.Dr. James Danandjaja mengajarkan ilmu ini di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI pada tahun 1971. Ilmu ini menjadi populer setelah diadakannya Semi­nar Inventarisasi dan Dokumentasi Folklor Indone­sia dalam rangka Pengkajian Kebudayaan Melayu yang disponsori oleh UNESCO, pada tanggal 28—31 Mei 1973 di Jakarta.

PENGERTIAN FOLKLOR | ok-review | 4.5