PENGERTIAN FOLIKEL GRAAF

By On Saturday, March 15th, 2014 Categories : Review

Yang disebut juga folikel vesi- kuler, folikel tersier atau folikel stadium pra-ovulasi, ialah suatu stadium dalam pertumbuhan folikel (kan­tung) sel kelamin wanita yang ditandai oleh adanya rongga (antrum) berisi cairan (liquor folikuli) yang di­sekresikan oleh sel-sel granulosa.
Pertumbuhan folikel pada manusia mulai dari sta­dium awal atau folikel primer sampai menjadi folikel graaf dan pada akhirnya menjadi folikel matang da­pat dijelaskan sebagai berikut. Pada waktu bayi pe­rempuan dilahirkan, di dalam ovariumnya terdapat oosit atau sel kelamin yang berjumlah lebih kurang dua juta buah. Tiap oosit dikelilingi oleh lapisan sel folikel yang disebut juga sel granulosa. Keseluruhan sel folikel dan sel oosit (ovum) di dalamnya disebut folikel. Dari keseluruhan sel oosit yang terdapat di da­lam tiap ovarium anak perempuan yang baru lahir, hanya sekitar 400 buah yang berkembang sampai ma­tang dan mengalami ovulasi atau mengikuti siklus menstruasi sekali tiap bulan. Sisa oosit lainnya juga berkembang, tetapi tidak sampai matang dan meng­alami degenerasi yang disebut folikel atresia. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain ke­gagalan sel dalam menerima rangsangan hormonal.
Pada akhir perkembangan stadium fetus, oosit mu­lai mengalami pembelahan meiosis I. Oosit ini mula- mula dikelilingi oleh sel-sel folikel yang bentuknya agak gepeng dan jumlahnya belum lengkap untuk membentuk satu lapisan sel. Keseluruhan struktur ini disebut folikel primordia.
Setelah kelahiran sampai pada usia anak-anak, fo­likel primer yang terdapat di dalam ovarium memben­tuk sejumlah mikrovili baik pada sel ovum maupun pada sel-sel folikel yang berbatasan. Mikrovili, yang berupa saluran kecil, merupakan sarana untuk per­tukaran zat antara kedua macam sel folikel dan ovum tadi. Sementara itu di sebelah luar membrana vitelina (membran yang membungkus sitoplasma ovum) mu­lai dibentuk lapisan zonepelusida, suatu lapisan non- seluler dan translusen.
Pada masa pubertas, folikel primer membesar, se­bagai akibat dari (1) bertambah besarnya diameter ovum, (2) terbentuknya zone pelusida, dan (3) bertam­bahnya sel-sel folikel baik dalam jumlah maupun ukurannya. Selanjutnya di sebelah luar lapisan sel-sel folikel (sel-sel granulosa) mulai terbentuk membrana granulosa, yaitu lapisan yang tidak mengandung pem­buluh darah, tetapi masih dapat mengatur nutrisi dan oksigenasi bagi sel-sel granulosa yang terdapat di se­belah bawahnya dengan cara difusi.
Folikel primer berkembang dengan cara proliferasi sel-sel granulosanya sampai menjadi beberapa lapisan di sekitar ovum. Hal ini terjadi tanpa pengaruh dari hormon kelamin. Pada perkembangan selanjutnya, ternyata ada pengaruh hormon, antara lain FSH (Follicle Stimulating Hormone) yang dikeluarkan go­nadotropin hipofisis. Di samping itu, terdapat pula estrogen yang mungkin diproduksi oleh folikel itu sen­diri. Kedua hormon ini menyebabkan terbentuknya rongga yang disebut antrum pada folikel tersebut. Antrum folikel ini diisi oleh cairan yang disebut liquor folikuli yang mula-mula disekresikan oleh sel-sel gra­nulosa dan kemudian berasal dari kapiler membrana granulosa. Apabila sudah terbentuk antrum, folikel ini disebut folikel sekunder. Intinya masih tetap dalam stadium meiosis I. Bagian luar folikel sekunder ini se­lanjutnya dilapisi oleh jaringan ikat (stroma) ovarium, yakni teka folikuli yang berdiferensiasi menjadi dua lapisan: (1) teka interna yang terdapat di sebelah da­lam, mengandung banyak vaskularisasi, dan (2) tekaeksterna yang terdapat di sebelah luar dan mengan­dung lebih banyak jaringan ikat. Pada teka folikuli ini terdapat reseptor untuk LH (Luteinizing Hor­mone). Dengan adanya rangsangan LH yang disekre­sikan dari hipofisis, sel-sel teka akan membuat tes­tosteron yang selanjutnya menembus membrana gra­nulosa sampai pada sel-sel granulosa. Pada sel-sel gra­nulosa ditemukan reseptor FSH dan reseptor siklik- AMP (Amino Mono Phosphate) yang penting untuk konversi testosteron menjadi estradiol, yaitu suatu de­rivat estrogen.
Oleh pengaruh rangsangan hormon dari hipofisis, folikel sekunder cepat membesar dan menjadi folikel graaf. Folikel tersier ini berpindah letak ke daerah per­mukaan ovarium. Liquor folikuli semakin bertambah jumlahnya dan mempunyai tekanan hidrostatik dari dalam folikel ke jaringan di sekitarnya. Hal ini meng­akibatkan terjadinya penonjolan folikel ke permukaan ovarium yang dikenal sebagai stigma. Menjelang akan terjadinya ovulasi, folikel tersier membuat banyak estradiol di samping juga membuat banyak reseptor LH maupun reseptor FSH.
Kadar LH, FSH, dan mungkin juga estrogen di da­lam darah mencapai puncaknya pada saat ovulasi dan turut mengatur pendewasaan folikel. Di bawah pe­ngaruh hormon-hormon tersebut, folikel graaf mem­bengkak karena bertambah banyaknya liquor folikuli dan membesarnya folikel itu sendiri. Folikel tersier akhirnya menonjol ke permukaan ovarium sebagai stigma. Dengan meningkatnya kadar LH, disertai ber­tambahnya reseptor pada folikel, akan terjadi per­ubahan pada dinding stigma, yaitu terjadinya lisis di samping adanya pembendungan darah di sekitar stigma yang mengakibatkan kurangnya aliran darah ke dinding tersebut. Sebagai akibatnya, kira-kira sa­tu jam kemudian dinding stigma akan rusak. Dari tem­pat ini cairan folikel dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya ovum dan sel-sel granulosa folikel. Peristiwa ini dikenal sebagai ovulasi.

PENGERTIAN FOLIKEL GRAAF | ok-review | 4.5