PENGERTIAN FOKUS KEBUDAYAAN

By On Saturday, March 15th, 2014 Categories : Antropologi

Suatu unsur atau pranata kebudayaan tertentu yang seolah-olah menjadi unsur- pusat dari keseluruhan kebudayaan suatu masyarakat. Unsur-pusat itu mempunyai jaringan hubungan luas dengan unsur-unsur lain, sehingga mendominasi atau mempengaruhi banyak aktivitas dalam kehidupan ma­syarakat bersangkutan. Fokus kebudayaan suatu ma- 1 yarakat mungkin berbeda dengan yang terwujud pada masyarakat lain. Kesenian mungkin merupakan fo­kus kebudayaan masyarakat Bali, seperti agama pa­da masyarakat Aceh, perang pada masyarakat Dani di Irian Jaya, kalo pada masyarakat Tolaki, perda­gangan kula pada penduduk Kepulauan Trobriand, dan sebagainya.
Masyarakat Kepulauan Trobriand yang terletak di sebelah tenggara Papua Nugini mengenal suatu sistem perdagangan barter yang disebut perdagangan kula. Dalam rangka perdagangan itu, perahu-perahu ber­cadik berlayar dari.pulau ke pulau, menempuh jarak puluhan mil dan memakan waktu berbulan-bulan. Perahu-perahu ini mengedarkan benda-benda suci be­rupa kalung-kalung (,sulava) dan gelang-gelang (mwali) yang terbuat dari kerang. Setiap benda suci ini dan benda ekonomi lainnya dibawa dari arah yang ber­beda-beda. Untuk melakukan perdagangan, masya­rakat Trobriand harus memiliki berbagai pengeta­huan, seperti pengetahuan tentang pembuatan pera­hu, sistem pengerahan tenaga untuk melaksanakan pelayaran, upacara ilmu sihir dan ilmu dukun, dan sistem persaingan untuk mendapatkan benda-benda suci. Sistem perdagangan barter yang terkait dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat Trobriand ini pernah dilukiskan oleh seorang ahli antropologi, Bronislaw Malinowski, dalam bukunya The Argo­nauts of the Western Pacific (1922).
Suku bangsa Tolaki yang mendiami Jazirah Sulawesi Tenggara mengenal suatu simbol budaya berupa benda berbentuk lingkaran, yang disebut kalo. Ben­da itu dapat terbuat dari rotan, akar, benang, logam, atau bahan lainnya. Simbol ini mengandung makna yang berfungsi sebagai acuan perilaku dalam berba­gai aktivitas di tengah kehidupan masyarakat Tola­ki. Kalo, sebagai simbol, terkait dengan penggunaan bahasa, kegiatan ekonomi, sistem organisasi sosial, kesenian, dan sistem religi orang Tolaki. Hal ini per­nah dilukiskan secara luas dan dianalisis secara men­dalam oleh A. Tarimana, sebagai disertasi yang di­pertahankan di Universitas Indonesia. Karya ilmiah tersebut berjudul Kalo sebagai Fokus Kebudayaan To­laki (1985) (lihat juga Kalo).
Dalam kehidupan masyarakat suku bangsa Aceh, agama dengan segala nilai dan kaidahnya terjaring luas dan ada dalam berbagai unsur kebudayaannya. Hal ini tercermin, misalnya, dalam asas budayanya, dasar penamaan daerah itu sebagai daerah istimewa, pola perkampungan tradisional (gampong), unsur organisasi pemerintahan desa, letak rumah, kesenian, kesusastraan, perang, mata pencaharian, dan sistem pendidikan masa lalu. Masyarakat Aceh mempunyai pandangan bahwa agama (hukom) dan “adat” tidak dapat dipisahkan satu sama lain, seperti tak terpisah­kannya satu zat dan sifat zat itu sendiri (Hukom ngon adat lagee dzat ngon sifeuet). Predikat “istimewa” yang diberikan pada tahun 1959 untuk Propinsi Aceh ini ditetapkan berdasarkan eksistensi agama, “adat”, dan pendidikan.
Dalam setiap kampung di Aceh, selain bangunan tempat tinggal, harus ada pula sebuah tempat ibadah yang disebut meunasah. Dalam setiap wilayah mukim harus ada pula sebuah mesjid. Dalam struktur orga­nisasi pemerintahan kampung dan mukim masing- masing ada imeum meunasah dan imeum mesjid, yang mengatur perihal keagamaan dalam wilayahnya. Le­tak rumah pun harus sesuai dengan kaidah agama, yaitu menghadap kiblat.
Kesenian dan kesusastraan masyarakat Aceh ter­kait pula dengan ajaran agama. Salah satu kesenian tradisional yang terkenal adalah tari seudati. Tarian ini pada awalnya adalah salah satu sarana penyam­paian dan pengembangan ajaran agama Islam. Da­lam bidang kesusastraan, Aceh kaya dengan hikayat yang bernapas keagamaan. Hikayat itu dibacakan di meunasah dan dalam berbagai kesempatan lain. Di antara»hikayat yang terkenal misalnya Hikayat Perang Sabil, yang berfungsi menyalakan semangat rakyat yang sedang berlaga di medan perang melawan bala­tentara kolonial Belanda. Ketegaran rakyat Aceh da­lam perang melawan kolonial yang berlarut-larut itu dijiwai oleh semangat keagamaan.
Pendidikan keagamaan di Aceh telah dikembang­kan sejak berabad-abad lalu. Meunasah yang terda­pat di setiap kampung berfungsi pula sebagai lemba­ga pendidikan. Pengetahuan yang diperoleh di ting­kat kampung dikembangkan lagi dalam pendidikan rangkang yang diselenggarakan di mesjid-mesjid ting­kat mukim. Pengetahuan agama ini masih bisa diting­katkan lagi dalam lembaga dayah yang tersedia di se­tiap daerah uleebalang. Semua tingkat pendidikan ini merupakan sarana proses penanaman ajaran agama ke dalam diri anggota masyarakat Aceh sampai men­darah daging.

PENGERTIAN FOKUS KEBUDAYAAN | ok-review | 4.5