PENGERTIAN FILSAFAT INDIA

By On Monday, March 31st, 2014 Categories : Filsafat

PENGERTIAN FILSAFAT INDIA – Suatu cara berpikir India yang berpangkal pada kenyataan fundamental dalam kom­ponen manusia, alam, individu, dan kosmos. Pemikir­an itu berkeyakinan bahwa ada suatu kesatuan funda­mental antara manusia dan alam, serta harmoni antara individu dan kosmos. Manusia bertugas menjaga dan memupuk kelangsungan harmoni melalui berbagai sa­rana, sehingga dunia tidak dirasakan sebagai tempat pengasingan atau sebagai penjara. Manusia harus ber­sahabat dengan dunia sekitarnya, bukan menguasai dunia.
Pembagian.
Sulit membagi filsafat India secara tepat dan komprehensif. Hal ini disebabkan berkem­bangnya filsafat ini pada sekolah religius yang meng­akibatkan adanya praktik menganaktirikan filsafat da­lam sistem individual. Berdasarkan kriteria ini filsafat India dibagi atas (1) kelompok ortodoks {saddharsana) yang menggunakan dasar Weda dengan enam sistem (sekolah): yoga (pengontrolan), samkhya (pemberian nama), mimamsa (penyelidikan), vendanta (akhir Weda), nyaya (metode logika), vaisesika; (2) kelom­pok non-ortodoks tidak menggunakan dasar Weda, seperti materialisme India, filsafat Budha (Budhisme) dan filsafat Jain (Jainisme).
Penyebab lain adalah kerumitan filsafat itu sendiri, sehingga menimbulkan konflik dalam berbagai pan­dangan. Karena bervariasinya pandangan religius India, setiap orang boleh mengikuti kecenderungan dalam dirinya lalu menemukan salah satu sekte yang mendukungnya. Penyebab ketiga ialah sulitnya pem­bagian berdasarkan periode karena adanya keparalel­an suatu tradisi dengan tradisi lain. Namun secara ga­ris besar pemikiran filsafat India dibagi empat, yaitu (1) periode formatif; (2) periode filsafat realistis atau filsafat alam; (3) periode mistik monistis dan ilusio­nis; (4) periode teistis.
Perkembangan Pemikiran.
Ide filsafat mulanya diekspresikan di berbagai himne yang dikomposisikan dalam konteks ritual purba. Sebagian himne ini di­kumpulkan dalam literatur suci bernama Weda yang masuk ke India sekitar tahun 1500 SM. Weda terdiri atas Samhita, Brahmana, Aranyaka, Upanisad. Da­lam Samhita ada rigweda (puji-pujian), samaweda (himne liturgis), yajurweda (rumus kurban), atharwa- weda (rumus magis), sedang Brahmana, Aranyaka dan Upanisad adalah komentar-komentar.
Dari konteks ini muncul kontrol untuk mengelola jagat raya, lalu pemikiran magis arkais mulai berspe­kulasi tentang satu kekuatan sentral yang menjadi da­sar semua dan dari kekuatan itu dunia nyata menimba keberadaannya. Muncullah berbagai pandangan yang mengkristal dalam gagasan brahman dan digambar­kan sebagai prinsip akhir kesatuan dalam sistem kosmos.
Upanisad mengkombinasikan konsep ini dengan situasi kesadaran lain yang diperoleh dengan medi­tasi. Suatu distingsi dibuat antara materi dan roh. Meditasi dan sarana lain dapat menyingkirkan beleng­gu material untuk mencapai kebebasan (moksa), bebas ruang, waktu, materi dan kelahiran kembali. Pada ke­adaan bebas ini atman (kenyataan diri manusia) me­realisasikan sifat sejati, diidentifikasikan dengan brah­man (sumber jagat raya) dan dipahami sebagai peng­gabungan monistik dari atman ke brahman.
Pada abad ke-5 SM muncul Budhisme dan Jainisme yang menolak metafisik Upanisad. Jainisme meng­gunakan interpretasi filsafat alam, sedang Budhisme membatasi dari pada analisis rasionalistis samsara (kelahiran baru), dengan tujuan merangsang praktik meditasi. Penekanan kefanaan dunia dengan pen­deritaan (duhkha) dan keterbelengguan manusia di dalamnya. Duhkha dapat diatasi dengan meditasi dan mencapai nirwana. Dengan menekankan bahwa rea­litas empiris tidak mengandung sesuatu yang esensial, ajaran peralihan ke dunia lain (transmigrasi) dike- mukakan secara fungsional sebagai satu rangkaian proses yang mempersiapkan proses selanjutnya, tan­pa referensi pada entitas permanen yang bertransmi­grasi. Juga dihindari segala pernyataan tentang sifat nirwana atau tentang aspek mana dari pribadi empi­ris yang tidak mengalami realisasi nirwana. Ini me- nirnbulkan sikap skeptis terhadap pikiran manusia da­lam menangkap apa yang ada di belakang dunia.
pemikiran Budhis tetap menjadi filsafat India yang sulit, kecuali sikap luwes wasiat Vijnanavada. Seko­lah Budhisme Theravada tertentu, yaitu Pudgalavada, mendalilkan entitas dan mempertimbangkan eksistensi enyelamat transendental untuk menyelamatkan pa­ham proses transmigrasi. Sekolah Budhisme lain me­nolak dalil ini dan menganggapnya bidah.
Suatu pendekatan yang berbeda ditunjukkan oleh perkembangan dalam filsafat natural. Perhatian hanya terbatas pada analisis kritis dunia eksternal. Tradisi terlihat pada bagian awal ajaran vaisesika, nyaya, fil­safat Jain dan pengaruhnya terlihat pada abhidarma, mimamsa dan samkhya. Fenomena dunia eksternal yang beragam diperkecil menjadi sejumlah faktor dasar. Struktur dunia berkaitan dengan faktor dasar dan hukum yang menguasai interaksi antarmereka. Akibat pendekatan ini muncul teori atom, distingsi dalam kategori dasar seperti substansi, sifat dasar, for­mulasi sistem logika dan eksege atau hermeneutika, serta pandangan dunia yang ilmiah. Prinsip pendekat­an ini berpengaruh berabad-abad.
Seluruh garis pemikiran ini terarah kepada gambar­an mekanistis dunia, tetapi bersikap netral terhadap yang religius. Hanya sekolah materialisme India yang memiliki ide mekanistis untuk menentang agama. Te­tapi iklim intelektual bergerak makin lama makin jauh dari pendekatan kwasi ilmiah ke masalah religius. Para pemikir menampung semua paham dengan membuat referensi paham transmigrasi serta pembebasan de­ngan mengusahakan bentuk tertib moral di samping hukum mekanistis.
Kecenderungan umum pemikiran india bergerak jauh dari sistem yang fundamental pluralis dan rea­listis ke arah pendekatan monistis dan ilusionis. Da­lam Budhisme dikenal Madhyamaka yang menggam­barkan fenomena kosong dan kekosongan digambar­kan sebagai realitas absolut universal. Asal mula feno­mena kosong dikaitkan dengan Vijnanavada. Di sini kesadaran sebagai absolut dan dunia fenomena se­bagai proyeksi mental bersifat ilusi. Selama periode sama ajaran Upanisad diformulasikan dalam cara yang sistematis, menandai awal vedanta sebagai sistem filsafat lain.
Pada awal penggabungan atman dan brahman da­lam keadaan moksa tetap tinggal pada paham lama tentang brahman sebagai sumber dunia riil. Di bawah pengaruh langsung dua sekolah Budhis, paham ini dinterpretasikan kembali selama abad ke-7 sesuai dengan pemikiran ilusionistis. Dunia fenomena dianggap sebagai gangguan tidak riil atas sesuatu yang riil, yaitu kesadaran universal, brahman. Vedanta menerima Upanisad sebagai basis tertulis dan meng­gunakan Upanisad seperti brahman dan atman yang anti Budhis. Bersama Mimamsa yang pada periode itu menampilkan teori pewahyuan membela tulisan Hin­du, vedanta muncul sebagai wakil renaisans Hindu dengan pemikiran Budhis sebagai latar belakang.
Pada periode tahun 1000 pertama muncul pemikir­an teistis yang membawa kerumitan baru. Sejak abad ke-4 SM sudah terdapat kepercayaan terhadap satu persona absolut sebagai salah satu sendi agama Hindu. Dalam Bhagawadgita gejala ini diidentifikasi walau dalam ekspresi sinkretis dan kurang sistematis. Pada abad-abad selanjutnya karya religius populer lainnya melanjutkan pendekatan ini, biasanya di bawah ben­dera Samkhya. Pernyataan yang dibuat mengenai hu­bungan Tuhan yang absolut dan materi awal serta jiwa individual terlalu samar, sehingga tidak dianggap fil­safat. Setelah berdirinya vedanta monistis, teisme Hindu bereaksi dengan memformulasikan pernyataan sistematis dan sangat filosofis mengenai pemikiran teistis. Namanya juga vedanta dan tokohnya adalah Ramanuja (pada abad ke-12). Pemikiran teistis ma­kin populer dan mempengaruhi perkembangan se­kolah tertentu vedanta ilusionis, namun materi fil­safat semakin berkurang. Baru pada abad ke-19 dan selanjutnya, filsafat Barat mulai masuk dan merang­sang perkembangan baru, walau masih terbatas pada satu golongan kecil masyarakat. Muncul pemikir se­perti Aurobindo (1872-1950) dan Vivekananda (1863- 1902).
Filsafat India adalah filsafat sekolah, maka yang berpengaruh adalah para ahli yang menurunkan ajar­an melalui para muridnya. Ajaran dasar suatu sekolah biasanya diformulasikan dalam rumusan singkat se­perti sutra (formula) dan kartika (ayat singkat), se­dang komentar disampaikan secara lisan. Komentar guru dikemukakan dalam bentuk tulisan.
Diskusi antarsekolah mulai membawa perkembang­an baru. Korelasi tertentu antarmasalah dibicarakan dan dunia perfilsafatan yang intitusional dan pro­fesional mulai terwujud. Logika tampil dengan sen­dirinya berkat debat publik yang diselenggarakan antarwakil sekolah. Analisis bahasa berkembang de­ngan mempelajari bahasa Sanskerta, dan walau tidak digunakan di luar sekolah tetap merupakan sarana mengajar dan debat eksklusif. Filsafat pemikiran mulai mendominasi sehingga pada kesempatan insti­tusi monastik (Budhisme, Jainisme dan Hindu) ber­partisipasi dalam diskusi filsafat. Pada abad terakhir sebelum Masehi, kepercayaan terhadap ajaran trans­migrasi dan ide pembebasan memperoleh pengakuan. Persaingan antara filsuf Budha dan Hindu menjadi suatu rangsangan bagi perkembangan sistem pemikir­an yang semakin mendalam; persaingan itu hanya ter­batas pada diskusi menyangkut topik yang diperdebat­kan. Karena ajaran yang sama tidak dibicarakan lagi, orang Budha, Jain, dan Hindu bersama-sama men­jalankan asumsi etis yang sama tanpa merefleksikan­nya secara filsafat.
Persaingan berjalan terus sampai Budhisme keluar dari India dan mendapat tempat di negara tetangga. Diskusi selanjutnya diadakan mengenai ajaran sosial politik yang relevan bagi Hindu dan tidak melewati sikap fundamental dan pragmatis dari kebiasaan dan karya religius yang telah mapan. Pengaruh Upanisad yang kuat terhadap atman dan brahman menyulitkan tokoh seperti Gandhi dan Nehru dalam mengintegrasi­kan paham Hinduisme pada pembentukan negara mo­dern. Mereka memperhatikan Hinduisme (pelepasan atman yang melebur ke dalam brahman), tetapi men- ciptakan negara sekular dan sosialis (atman).

PENGERTIAN FILSAFAT INDIA | ok-review | 4.5