PENGERTIAN FILSAFAT FENOMENOLOGI

By On Friday, March 14th, 2014 Categories : Filsafat

Salah satu aliran fil­safat yang berpengaruh pada abad ke-20, sebagai ilmu pengetahuan tentang apa yang tampak. Istilah itu su­dah mulai digunakan para pemikir sejak pertengahan abad ke-I8 dalam pelbagai disiplin ilmu.
Pada tahun 1764, Lambert dalam karyanya Orga non Baru, mengaitkan istilah fenomenologi dengan teori ilusi. Hegel dalam bukunya Fenomenologi Roh, tahun 1807, mengartikan fenomenologi sebagai ilmu yang berusaha mengetahui pikiran dalam diri sendiri melalui penelitian bagaimana proses objek tampak ba­gi manusia. Pada pertengahan abad ke-19, definisi fe­nomenologi diperluas seluas fakta atau segala sesuatu yang diamati. Sebagai akibatnya, kata itu bermakna studi deskriptif murni tentang hakikat yang diterima begitu saja. Dalam arti ini, Sir W. Hamilton dalam tulisannya Ajaran tentang Metafisika, tahun 1858, membahas fenomenologi sebagai studi deskriptif mur­ni tentang pemikiran. Eduard von Hartmann meng­gunakan istilah fenomenologi dalam buku Fenome­nologi tentang Kesadaran Moral tahun 1878. Ia me­nyatakan bahwa fenomenologi bertugas memerikan kesadaran moral secara lengkap.
Istilah fenomenologi masuk ke dalam filsafat $an mendapat makna khusus berkat jasa Edmund Hus­serl (1859-1938). Baginya fenomen adalah realitas yang tampak. Tidak ada selubung tirai yang memisahkan manusia dari realitas.’ Realitas itu tampak bagi kesa­daran manusia. Dalam bukunya Penelitian tentang Logika, tahun 1900-1901, Husserl memberi nama pe­nelitian dan teori sebagai lanjutan semua karya dan tulisan yang diterbitkan dengan judul Filsafat Ilmu Hitung, tahun 1891. Dalam tulisannya, ia menegas­kan arti pokok fenomenologi namun konotasi feno­menologi ini mengalami perkembangan.
Dalam edisi pertama Filsafat Ilmu Hitung, feno­menologi didefinisikan sebagai analisis deskriptif pro­ses subjektif (Erlebnisse). Tema itu tidak sama dengan tema utama psikologi. Psikologi hanya mencari sebab atau asal-usul dan menerangkan apa fenomen itu, se­dangkan fenomenologi dapat dikatakan murni kare­na seorang fenomenolog membedakan subjek dan objek.
Munculnya fenomenologi merupakan reaksi atas saintisme yang mencolok dalam naturalisme dan po­sitivisme. Naturalisme mengabaikan peranan subjek karena kesadaran manusia dianggap sebagai fakta alam tanpa memperhatikan fungsi khasnya. Positivis­me menganggap eksistensi manusia sama dengan du­nia yang dikuasai hukum alam. Maka Husserl mem­berikan arah dan cara kerja baru filsafat maupun ilmu pengetahuan pada umumnya. Ia menghendaki ilmu pengetahuan yang ketat dan bercirikan apodik- tif (yang tidak diragukan) serta absolut (tak dapat berubah, mutlak). Hal ini sesuai dengan ciri ilmu yang menjadi keahliannya, yaitu ilmu ukur. Sebagai ahli ilmu ukur, ilmu yang menuntut ciri-ciri tersebut, ia bermaksud menghindari realisme maupun idealisme, sehingga ia menentukan titik tolak filsafatnya dengan semboyan: “Kembalilah ke benda-benda itu sendiri.” Menurut semboyan itu, bila manusia mau sampai ke­pada inti hakiki benda, ia harus menanggalkan sega­la praduga, prasangka, atau pengandaian a priori da­lam dirinya. Yang menjadi titik pangkal penelitian adalah gejala menampakkan diri kesadaran manusia. Cara pandang semacam itu bertujuan agar manusia dapat memahami objeknya dalam keadaan murni.
Untuk mencapai cita-citanya, Husserl memperke­nalkan cara kerja fenomenologis. Perlu disadari bah­wa secara langsung manusia dapat mengenal seluruh aspek serta ciri objek yang hendak dikenalnya. Jelas­lah bahwa Husserl bermaksud membuang jauh-jauh apa yang tidak hakiki. Pengetahuan yang hakiki itu tidak didasarkan pada abstraksi, melainkan pada sua- tu intuisi. Manusia merasa dirinya mampu menang­kap, memetik apa yang hakiki itu secara langsung me­lalui segala perubahan, pengamatan dalam pemba­yangan sehingga ia mengalami apa yang disebut Hus­serl Wesenserschauung, yaitu pandangan hakiki.
Kata kunci untuk memahami pemikiran Husserl adalah intensionalitas kesadaran manusia. Intensio- nalitas salah satu ciri khas kesadaran, pengetahuan bahkan seluruh kegiatan manusia pada umumnya. Ke­sadaran pemahaman Husserl selalu berarti kesadaran akan sesuatu. Kesadaran selalu ditandai dengan inten­sionalitas karena terarah pada realitas. Karena inten­sionalitas itu, maka fenomen harus dipahami sebagai yang menampakkan diri. Intensionalitas itu sama atau korelatif dengan fenomen.
Dalam rangka kupasan Husserl tentang kesadaran bersifat intensional itu, ia mengemukakan dua macam reduksi. Pertama, reduksi eidetis (dari bahasa Yuna­ni eidos yang berarti inti atau hakikat). Hakikat itu­lah yang sedang disaksikan, dikenal manusia, dan di­upayakan dalam reduksi taraf ini agar sampai pada hakikat sesuatu yang sedang diselidiki. Menurut Hus­serl, semua sikap ilmu pengetahuan alam dan kema­nusiaan, serta pernyataan dan penyelidikan maupun generalisasinya harus ditempatkan antara tanda ku­rung. Itulah sikap fenomenologis epoche yang berarti penangguhan, penundaan. Semuanya itu bertujuan agar eidos yang sedang diupayakan itu menampak­kan diri secara murni dan asli. Kedua, reduksi tran­sendental, reduksi yang dicita-citakan Husserl. Hus­serl berusaha mereduksi taraf lebih tinggi. Dunia yang tampak tidak dihubungkan dengan satu kesadaran individual, melainkan dengan kesadaran pada umum­nya atau dengan ego transendental. Dengan reduksf
transendental dicari sumber terakhir segala struktur pengenalan sehingga manusia sampai pada pengeta­huan akan “hakiki” yang dicita-citakan i: sebagai inti hakiki dalam seluruh hakiki dunia ini.
Reduksi kedua mengarah pada apa yang disebut ke­sadaran transendental, artinya kupasan kesadaran ma­nusia intensional menghasilkan pengetahuan paling umum. Dengan lain kata, pengetahuan manusia me­nyempit kembali pada kutub subjektif. Menurut mu­rid Husserl, terbuktilah bahwa gurunya kembali ke salah satu bentuk idealisme yang justru dihindarinya. Penyimpangan itu disebabkan sifat ilmu pengetahuan yang dicita-citakannya, yaitu ilmu pengetahuan yang ketat. Pada akhirnya fenomenologi Husserl menutup diri terhadap pengaruh yang disebabkan di luar kesa­daran manusia sendiri.
Husserl pada akhir hidupnya mendekati idealisme yang menitikberatkan segi “formal”, yang logis, a priori dari filsafat dan mengabaikan segi “material” empiris, aposteriori. Bahkan dapat dikatakan bahwa ia mendekati anggapan Kant dan Descartes.
Sebetulnya dalam arti tertentu kekurangan itu di­sadari Husserl, terutama karena ia tidak mampu mem­pertanggungjawabkan adanya baik gejala intersubjek- tivitas maupun historisitas. Kedua hal itu hanya da­pat dipelajari atau dibahas jika isinya tidak diletak­kan antara tanda kurung. Sebaliknya, keduanya ha­nya dapat dipahami isinya apabila kita mengupas “Lebenswelt”, artinya dunia konkret tempat manu­sia hidup. Itulah yang dipelajarinya dalam bukunya yang terakhir Die Krisis der Europaeischen Wissen- sehaften, 1936, yang sebetulnya salah satu tanda bah­wa anggapan karyanya terdahulu seakan-akan telah memasukkannya pada jalan buntu. Walaupun demi­kian harus dikatakan bahwa pandangan Husserl me­mang berhasil mendirikan fenomenologi dan merin­tis jalan munculnya eksistensialisme.
Dalam perkembangan fenomenologi selanjutnya, banyak murid Husserl menolak kecenderungan idealis­me yang tampak jelas dalam karyanya. Namun me­reka tetap menerapkan cara kerja Husserl pada bidang penyelidikan tertentu dengan mengupas isi pengalam­an manusia mengenai gejala yang dihadapi dan di­alaminya; misalnya pada bidang logika dan psikolo­gi, etika dan filsafat agama, filsafat hukum, ilmu ha­yat, fenomenologi agama, dan estetika. Sementara fil­safat Husserl memusatkan perhatian terutama pada kesadaran diri sendiri, khususnya masalah kesadaran intelektual dan prosesnya, Max Scheler (1874-1928) berpaling pada filsafat nilai yang menjadi tema po­kok dalam karyanya Formalismel dalam Etika dan Etika Nilai bersifat Material, 1913-1916. Dalam bu­ku tersebut tampak bahwa ia berusaha menjauhkan diri dari idealisme dalam fenomenologi Husserl. Ber­dasarkan analisis fenomen kesadaran moral, Scheler menolak formalisme kosong Kant dan menunjukkan bahwa manusia bertindak untuk mencapai nilai. Ni­lai ditentukan olehnya sebagai suatu kualitas mate­rial, suatu sifat berisi. Nilai itu tidak begitu saja ada melainkan berlaku. Nilai itu tidak dapat dikembali­kan kepada unsur empiris dunia manusia. Baginya, suatu nilai tidak ditangkap dengan cara berpikir me­lainKan dirasalcalTTTji antara nilai-nHaTitu, manusia wajib memilih yang lebih tinggi karena menurut Sche­ler ada hierarki nilai. Akhirnya oleh Martin Heideg­ger, fenomenologi diubah menjadi filsafat eksisten­sial Inti atau esensi yang ada bukanlah kesadaran transendental melainkan esensi sejarah dan waktu.
Pemikir aliran fenomenologi lainnya adalah Mau­rice Merleau-Ponty (1908-1961). Ciri khas fenomeno­loginya terletak dalam pandangannya mengenai inten­sionalitas dan reduksi eidetik. Intensionalitas dipahami sebagai relasi ontologis yang mengungkapkan pertaut­an subjek dengan dunianya dan bersifat pra-sadar ka­rena mendahului segala refleksi. Merleau-Ponty me­nolak anggapan reduksi eidetik Husserl dengan me­nyalakan bahwa hakikat itu hanyalah tahap peralihan saja, hanyalah suatu tahap berpikir yang akan dilam­paui dengan menghayati pikiran.
Pierre Teilhard de Chardin (1881-1955) menyebut teori evolusinya sebagai fenomenologi ilmiah evolu­si. Fenomenologi Teilhard memiliki sedikit perbedaan dengan fenomenologi Husserl dan Merleau-Ponty. Pandangan Teilhard dapat disebut fenomenologi ka­rena teorinya merupakan pandangan dunia yang di­dasarkan pada perkembangan dunia sebagai fenome­na. Metode fenomenologi Teilhard adalah metode ilmiah yang berusaha mengumpulkan data lewat peng­amatan terhadap fenomena; menyusun data menuju bentuk hipotesis, verifikasi, dan menyusun hipotesis sehingga terbentuk teori evolusi umum. Kriterianya adalah koherensi dan produktivitas. Hipotesis atau teori dapat dikatakan benar jika mempunyai makna yang dapat memberi daya terang atas data yang ada dan bermanfaat untuk meramal serta berguna untuk penelitian lebih lanjut.

PENGERTIAN FILSAFAT FENOMENOLOGI | ok-review | 4.5