PENGERTIAN FERTILITAS

By On Tuesday, October 22nd, 2013 Categories : Antropologi

Fertilitas atau natalitas (angka/tingkat kelahiran) biasanya merujuk pada salah satu istilah demografi yang digunakan untuk mengukur besar kecilnya angka kelahiran yang selamat (hidup sampai dewasa). Istilah ini berasal dari kata Latin ferre (melahirkan) yang kontras dengan arti bahasa Inggrisnya yakni fertilize (menyuburkan). Dalam ilmu sosial berbahasa Inggris, kapasitas melahirkan itulah yang disebut sebagai fertilitas. Jadi, maknanya sesungguhnya terbalik dengan yang terdapat pada bahasa Perancis dan bahasa-bahasa turunan Romawi lainnya. Makna tadi juga bertentangan dengan istilah yang digunakan dalam dunia medis dan biologi di mana “infertilitas” diartikan bukan sebagai kondisi tanpa anak melainkan sebagai sterilitas, atau ketidak-mampuan memiliki anak (kerancuan mulai timbul karena istilah-istilah tersebut semua digunakan dalam demografi). Dalam penggunaannya secara umum, fertilitas sejak lama diidentifikasikan sebagai kesuburan dan produktivitas, bukan hanya dalam reproduksi manusia namun juga dalam dunia perburuan dan pertanian. Tergantungnya fertilitas pada hubungan menunjukkan bahwa fertilitas juga menduduki peran penting dalam kebudayaan dan moralitas manusia. Di sejumlah masyarakat tertentu, terutama di Timur Tengah, kehamilan dan kelahiran bayi dari seorang wanita yang telah menikah disambut sebagai peristiwa yang sangat mengembirakan, namun kegembiraan itu berubah menjadi rasa malu dan kecaman bila si ibu belum atau tidak menikah. Terlepas dari anjuran agama, fertilitas yang tinggi dianjurkan oleh masyarakat pra-industri karena hal tertentu juga dapat memenuhi tujuan-tujuan sosial tertentu di masa itu. Namun fertilitas di luar pernikahan tidak disukai karena hal itu bisa mengacaukan hasrat masyarakat bagi terciptanya pernikahan yang baik. Wanita yang pernah memiliki anak di luar nikah sama sekali tidak dianjurkan untuk memiliki anak berikutnya karena resiko kesehatan dan moral yang dihadapinya begitu tinggi. Secara tradisional, batasan-batasan ini juga dapat ditemukan pada ajaran agama dan di situ moral lebih ditekankan ketimbang soal kesehatan. Fertilitas bisa diekspresikan sebagai suatu ukuran perilaku masyarakat, dan juga bagi pasangan suami istri atau individu tertentu. Secara teoretis, ukuran reproduktif sama sahihnya untuk pria maupun wanita, namun hitungan fertilitas untuk kaum pria jarang dilakukan karena fungsi pengasuhan anak oleh seorang ayah acapkal: dinilai tidak seberapa bila dibandingkan dengan pengasuhan anak oleh ibu. Fertilitas lebih sering digunakan untuk mengacu masyarakat secara keseluruhan ketimbang individu atau wanita tertentu. Ukuran agregat yang paling lazim digunakan adalah angka kelahiran per tahun atau angka kelahiran hidup per tahun per seribu penduduk. Untuk tahun 1993, angka itu sangat bervariasi di dunia, mulai dari yang paling tinggi di Malawi yakni mencapai 53, sampai dengan yang terendah yakni 10 di Jerman, Yunani. Italia dan Spanyol. Angka kelahiran kasar tahunan itu acapkali kurang memuaskan, khususnya bagi masyarakat yang tingkat migrasi atau perpindahan penduduknya tinggi. Konsep berikutnya yang sering digunakan adalah tingkat fertilitas umum, yakni rasio kelahiran selama satu tahun terhadap total jumlah wanita berusia 15 hingga 49 tahun. Ukuran yang mencerminkan pengaitan tingkat kelahiran dengan jumlah kaum wanita pada usia tertentu itu diistilahkan dengan tingkat kelahiran per usia (atau biasa disebut sebagai “tingkat fertilitas” saja). Angka rata-ratanya untuk seluruh usia reproduktif disebut “tingkat fertilitas total”. Pada tahun 1993, tingkat fertilitas total juga sangat bervariasi mulai dari 7,7, di Malawi hingga 1,2 di Hongkong, 1.3 di Italia dan Spanyol serta 1,4 di Jerman dan Macao. Angka terendah sesungguhnya dapat kita temukan pada wilayah bekas Jerman Timur. Sedangkan di Asia, tingkat-tingkat terendah dapat ditemukan di Jepang (1,5), Korea Selatan (1,6), Singapura (1,7), Cina(l,9).
Biasanya dalam penelitian atau sensus, yang dilibatkan hanyalah kaum wanita yang sudah menikah Jika kaum wanita yang tidak menikah juga diperhitungkan maka ukuran yang diperoleh disebut “tingkat reproduksi bruto”. Karena bagi kebanyakan masyarakat ukuran efektif reproduksi bukanlah sekedar kelahiran namun jumlah bayi yang terus tumbuh hingga dewasa, maka muncul lagi ukuran lain yang disebut “tingkat reproduksi neto . Tingkat reproduksi neto adalah rasio jumlah wanita yang melahirkan pada generasi mendatang terhadap jumlah wanita yang melahirkan pada generasi sekarang dengan catatan angka fertilitas dan mortalitasnya konstan, sehingga hal itu dapat mengukur penambahan jumlah anggota suatu masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya, dengan asumsi struktur usia tidak mengalami perubahan-perubahan berarti. Pada tahun 1980, tingkat yang di bawah rata-rata tercatat pada 36 negara Eropa (kecuali Islandia, Irlandia, dan Moldavia), 7 negara Asia Timur (termasuk Cina), 7 negara Karibia dan juga Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Georgia. Hanya Hongaria yang tercatat mengalami penurunan (sementara itu angka di Bul-garia, Cekoslowakia, Denmark, Yunani, Irlandia, Itali. Latvia, dan Rumania tetap, karena jumlah kaum wanita pada usia subur relatif banyak). Secara ilmiah pun, kelahiran dari wanita yang menikah dan yang tidak menikah masih dibedakan. Jangkauan reproduksi wanita bervariasi, baik itu antar-wanita secara individual dan juga antar-masyarakat secara keseluruhan. Namun kira-kira jangkauan reproduktif atau usia subur di semua masyarakat adalah antara 15 hingga akhir usia 40 tahun. Kalau fertilitas tidak dibatasi pada wanita yang menikah saja maka angka kelahiran akan lebih tinggi. Sebagai contoh, Bongaarts (1982) memperkirakan bahwa angka kelahiran keselu¬ruhan bukan 15, melainkan 15,3. Tingkat fertilitas keseluruhan dari semua wanita yang menikah di Hutterites, sebuah komunitas religius yang sangat menentang keluarga berencana, pada akhir 1920-an mencapai sekurang-kurangnya 12,4. Angka itu yang digunakan Coale (1967) dalam model demografinya, namun angka itu sesungguhnya masih lebih kecil dari yang sebenarnya karena periode penyusuan bayi tidak dimasukkan dalam perhitungan. Namun belum tentu pula kalau periode itu dimasukkan maka hasilnya akan jauh bergeser dari angka di atas mengingat banyak masyarakat seperti suku Ashanti di Afrika Barat yang penyusuan bayi bisa dilakukan oleh orang selain ibu kandung sehingga angka kelahirannya lebih tinggi lagi. Demikian pula halnya di masyarakat-masyarakat yang tingkat pernikahan ulangnya tinggi seperti di India. Masyarakat industri yang tidak mempersoalkan kedudukan janda, dan juga di Eropa Barat sebelum revolusi industri, memperlihatkan hal yang serupa. Dalam kaitan ini ada istilah “fertilitas alamiah” yang berarti tingkat fertilitas dalam kaitannya dengan struktur usia kaum wanita di berbagai masyarakat yang tidak secara sengaja membatasi kelahiran. Namun di iain pihak terdapat sejumlah mekanisme yang membatasi jumlah anak seperti masa tenggang (tanpa hubungan) yang cukup lama bagi seorang ibu yang baru melahirkan, atau kebiasaan menabukan seorang ibu yang sudah menjadi nenek untuk melahirkan lagi. Minat untuk mengkaji fertilitas dewasa ini terus berkembang, terutama bertolak dari turunnya fertilitas di semua negara industri dan sebagian negara berkembang. Hal terakhir antara lain disebabkan oleh keberhasilan program keluarga berencana yang telah diterapkan secara efektif oleh sebagian besar pemerintah dunia ketiga (dimulai oleh India di tahun 1952). Para peneliti tertarik kembali menelusuri berbagai macam determinan atau faktor-faktor penentu fertilitas dan mengklasifikasikannya (misalnya oleh Davis dan Blake, 1956) berdasarkan usia, kelompok produktif, keikutsertaan dalam program keluarga berencana, dan sebagainya. Bongaart (1982) menunjukkan bahwa hanya ada 4 faktor yang benar-benar berpengaruh terhadap fertilitas, yakni proporsi waktu yang dihabiskan oleh kaum wanita dalam periode berkemungkinan hubungan (di banyak masyarakat hal ini ditafsirkan sebagai periode pernikahan), proporsi periode yang tidak memungkinkan seorang wanita terlibat hubungan seperti ketika ia mengalami menstruasi, konsekuensi praktek kontrasepsi dan upaya untuk memperbesar efektivitasnya, serta frekuensi aborsi. Menurut Bongaarts keempat faktor itu meliputi 96 persen dari seluruh faktor penyebab atau determinan variasi tingkat fertilitas di hampir semua masyarakat. Bermula di Perancis pada akhir abad 18, yang kemudian merambah ke semua negara industri di akhir abad ke 19. tingkat fertilitas terus menerus turun sehingga kita dapat mengatakan bahwa suatu negara yang ekonominya kian maju angka fertilitasnya kian kecil sehingga mendekati angka pertambahan penduduk nol. Hal ini terutama disebabkan oleh kian majunya teknologi kontrol kelahiran yang memungkinkan banyak orang melakukan hubungan tanpa resiko kehamilan. Pada tahun 1993, angka fertilitas di berbagai penjuru dunia turun kecuali di kawasan sub Sahara Afrika (namun angka kelahiran di Afrika Selatan, Botswana, Zimbabwe dan Kenya, sudah mulai turun meskipun itu tidak cukup untuk mempengaruhi perkembangan tingkat fertilitas regional secara keseluruhan). Angka fertilitas juga tetap tinggi di kawasan Timur Tengah dan Asia Barat Daya. Tampaknya hubungan antara tindakan dan kelahiran kian susut dan pada gilirannya hal ini memperlemah pula hubungan antara kegiatan dan pernikahan.

PENGERTIAN FERTILITAS | ok-review | 4.5