PENGERTIAN FEMINA

By On Thursday, March 13th, 2014 Categories : Review

Majalah wanita karier pertama di Indo­nesia yang bertata warna, lahir pada saat yang tepat karena situasi ekonomi sedang membaik, pola hidup tengah berubah, dan masyarakat sedang demam mem­baca. Majalah ini muncul dengan corak dan wajah ba­ru di tengah-tengah majalah-majalah wanita yang su­dah ada waktu itu, seperti Keluarga dan Mutiara (yang terakhir kemudian berubah menjadi majalah umum). Sukses Femina diikuti oleh perusahaan-perusahaan lain yang menerbitkan majalah serupa seperti Kartk ni, yang diterbitkan oleh bekas agen Femina, Lukman Umar, Sarinah, Pertiwi, dan Famili.
Femina nomor perdana terbit pada tanggal 18 Sep­tember 1972, dikerjakan oleh tiga ibu rumah tangga yang menjadi perintis bidang redaksi, yakni Mirta Kar- tohadiprodjo, Widarti Gunawan, dan Atika Anwar Makarim. Sebagai model pada sampul majalah no­mor pertama ditampilkan Tuti Indra Malaon, juga ibu rumah tangga selain pemain teater dan dosen bahasa Inggris, bersama anak perempuannya yang berumur enam tahun. Tuti dilambangkan dalam foto sampul muka itu sebagai wanita berperan ganda: ibu rumah tangga dan wanita karier. Ia bertangan sepuluh, dan setiap tangan memegang perabotan dapur dan alat-alat kantor.
Usaha lainnya ialah menerbitkan buku-buku di samping mengelola kegiatan sosial melalui Yayasan Sekar Mlati. Yayasan tersebut menyalurkan dana yang terkumpul dari pembaca Femina untuk menolong anak-anak di bawah usia 13 tahun dari keluarga ti­dak mampu yang menderita sakit. Kelompok pener­bitan itu memiliki percetakan offset sendiri, yang su­dah ada sebelum Femina lahir, dan perusahaan pe­misahan warna {color separation).
Pada bulan Agustus, September, dan Oktober 1988, Survey Research Indonesia (SRI), suatu lembaga pe­nelitian independen, melakukan survai media massa di 10 kota di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Se­marang, Surabaya, Bandar Lampung, Medan, Ujung­pandang, Manado, Balikpapan, dan Ambon. Survai dilakukan terhadap 7.500 responden dewasa (berusia 15 tahun ke atas). Jumlah pembaca Femina menurut hasil survai tersebut 721.000 orang, sedangkan maja­lah yang sejenis namun terbit sebagai dwimingguan, Kartini, 1.152.000 orang, dan Sarinah 692.000 orang. Survai ini dilakukan dengan sistem weighting, yakni dengan mengalikan angka-angka yang diperoleh dari survai sehingga sesuai dengan jumlah populasi di ko­ta yang disurvai. Selain itu, satu majalah diperhitung­kan dibaca oleh empat orang. Dengan demikian, angka-angka hasil survai tersebut tidak mencermin­kan oplah yang sebenarnya.

PENGERTIAN FEMINA | ok-review | 4.5