PENGERTIAN FEDERASI OLAHRAGA KARATE-DO INDONE­SIA (FORKI)

By On Thursday, March 13th, 2014 Categories : Review

Adalah induk nasional organisasi cabang olahraga bela diri karate-do. Namanya semula Per­satuan Oiahraga Karate Indonesia (PORKI), tetapi di­ganti setelah Kongres ke IV (1972) dan Musyawarah Nasional pada tahun 1973. Dari kedua pertemuan itu selain terjadi penggantian nama, juga penggunaan se­butan karate-do bagi cabang bela diri asal Jepang itu dan perubahan keanggotaan. Ketika badan itu masih menggunakan nama PORKI, keanggotaan tetap per­orangan, sedangkan perguruannya (alirannya) meru­pakan organisasi penunjang dengan hak otonomi se­bagai anggota Musyawarah Lembaga Aliran. Kemu­dian pada Kongres FORKI VII, anggota FORKI di­tetapkan sebagai perguruan.
Pada waktu ini anggota FORKI meliputi 25 pergu ruan (aliran) karate-do, yakni: Amura, BKC, Black Panther Karate Indonesia, Punakhosi, Gabdika Shi- toryu Indonesia, Goyukai, Gojuryu Ass, Ichigawa, Inkado, Inkai, KNNS, Kandaga Prana, KKI, Lem- kari, MKC, Kyokushinkai, Kala Hitam, Kei Shin Khan, Tako, Prodibya, Perkaindo, Shindokai, Shiroite, dan Wadokai.
Pada sekitar tahun 1963, muncul karateka beraliran Shoto-kan. Aliran ini pada umumnya dibawa oleh para mahasiswa Indonesia yang menjalankan studi “pampasan perang” di Jepang. Mereka adalah Setyo Haryono, Anton Lesiangi, Sabeth Mukhsin, dan Chaerul Taman. Selain itu para pengusaha Jepang yang membuka bisnis di Indonesia pun ikut menye­marakkan perkembangan karate di Indonesia. POR- KI menjadi anggota KONI sejak tahun 1971. Pembi­na karate di Indonesia antara lain Wijoyo Suyono dan Soerono. Sejak PON VIII di Jakarta, 1973, karate di­pertandingkan. Ketika itu pertandingan diikuti 10 dae­rah dengan 94 karateka. Pada PON IX 1977, karate didominasi atlet Jakarta. Pada PON X di Jakarta, ca­bang olahraga karate-do dibagi menjadi tujuh kelas, yakni perorangan dan beregu untuk nomor kata (tek­nik) dan kumite (pertandingan).
Induk olahraga dunia karate-do kemudian pecah menjadi dua organisasi, yakni World Union of Karate- do Organization (WUKO) dan International Amateur Karate-do Federation (IAKF). Di samping kedua organisasi berskala internasional tersebut, terdapat ju­ga organisasi wilayah, yakni Asia Pasific Union of Karate-do Organization (APUKO). FORKI adalah anggota APUKO dan pernah dua kali menjadi tuan rumah penyelenggara kejuaraan karate-do, APUKO II (1976), dan APUKO VII, yang keduanya berlang­sung di Jakarta. Selain APUKO dikenal juga Euro­pean Karate-do Organization (EKU) dan Pan Ameri­can Union of Karate-do Organization (PUKO) dan Union African Karate-do (UAK). Sampai tahun 1987, anggota WUKO mencapai 112 negara. APUKO dite­rima sebagai anggota General Assembly Internatio­nal Sport Federation (GIASF) (setingkat dengan KO­NI), 1985. Pada tahun 1985, APUKO diterima seba­gai anggota International Olimpic Committee (IOC). Menurut rencana, pada Olimpiade di Barcelona, 1992, untuk pertama kalinya karate-do akan ditetapkan se­bagai nomor dalam Olimpiade.
Sebagai tradisi pada cabang karate-do, kursi ketua umum PB FORKI selalu diduduki orang dari kalang­an ABRI, yakni Wijoyo Suyono (1972-1977), Sumadi (1977- 1980), Subhan Djajaatmauja (1980-1984) dan sejak 1984, Rudini, Menteri Dalam Negeri.

PENGERTIAN FEDERASI OLAHRAGA KARATE-DO INDONE­SIA (FORKI) | ok-review | 4.5