PENGERTIAN FEDERASI AERO SPORT INDONESIA (FASI)

By On Thursday, March 13th, 2014 Categories : Review

Induk nasional olahraga dirgantara di Indonesia. Ke­lahiran olahraga ini dirintis sejak tahun 1957. Ketika itu Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) me­ns rimkan lima calon instruktur terbang layang ke Y goslavia. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) VII, Surabaya, 1973, terbang layang mulai diperlom- I bakan. Saat itu diperlombakan tiga nomor, yakni race I flight duration flight, dan spot landing. Pada PON J VIII di Jakarta, 1977, cabang terbang layang tidak di- I perlombakan. Pada PON IX di Jakarta, 1981, tiga no- ]| mor itu diperlombakan lagi. Sampai saat itu terbang layang masih didominasi oleh atlet asal Jawa.
Kini Pengurus Besar (PB) FASI memiliki tujuh cabang olahraga dirgantara, yakni terbang layang, aeromodeling, terbang bermotor (mesin satu), terjun payung, layang gantung, pesawat ultra ringan, dan t swayasa. Pada cabang olahraga swayasa kegiatannya lebih banyak pada penciptaan pesawat terbang. Pa­da tahun 1986, cabang swayasa menghasilkan KR-I, KR-II, Lisa Pohoh, Star Light, dan Noni. Pada ca­bang olahraga ini dikenal dua jenis produk pesawat. Produk itu disebut “asembling”, bila pesawat meng­gunakan rancangan dan suku cadang impor, dan di- I sebut “produk” bila menggunakan rancangan impor tetapi suku cadangnya buatan dalam negeri. Umum- ny pesawat cabang swayasa masih menggunakan | rancangan pesawat impor.
Kemajuan olahraga dirgantara mengalami kema­juan seiring dengan kemajuan teknologi. Untuk ca­bang layang gantung (gantole), selain layang gantung tradisional, juga ada yang menggunakan mesin. Ma­ka cabang layang gantung sekarang tidak lagi harus menggunakan medan bertebing atau daerah pegu­nungan. Dengan menggunakan landasan datar pun, kini atlet layang gantung dapat mengudara dengan bantuan layang gantung bermesin sebagai penarik­nya.
PB FASI membina ketujuh cabang olahraga dir­gantara itu secara bersamaan, karena dalam cabang olahraga ini terdapat tiga unsur yang saling berkait­an, yakni bidang keilmuan, keolahragaan, dan ke­dirgantaraan.
Selain dalam PON, PB FASI memiliki kalender ke­giatan kejuaraan nasional dan ASEAN. Kini dalam usia tujuh tahun, PB FASI mulai merintis jalan un­tuk menjadi anggota Federation Aeronautique Inter­nat onale (FA I).
Struktur kepengurusan PB FASI terdiri atas 40 orang, tiap cabang memiliki kepala pusat sendiri, yang di tingkat pusat berbentuk pengurus besar, sedang di tingkat daerah berbentuk FASI Daerah (FASIDA). Sampai tahun 1988, PB FASI mempunyai 18 FASI­DA, yakni DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nu­sa Tenggara Timur, dan Timor Timur. Dalam sejarah olahraga dirgantara ini, tercatat pe­sawat terbang layang {glider) ciptaan sendiri, yakni WEL I R1-X, untuk nomor terbang layang pertama dalam PON Surabaya, 1969. Generasi pesawat terbang layang selanjutnya adalah Gunau Baby RI-I.

PENGERTIAN FEDERASI AERO SPORT INDONESIA (FASI) | ok-review | 4.5