PENGERTIAN ETOLOGI

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Antropologi

Etologi terutama berkaitan erat dengan fungsi perilaku yang sekaligus berupaya untuk mempelajari pengaruh yang ditimbulkannya terhadap perilaku yang didasarkan atas variabel-variabel ekologis, psikologis, dan genetik.¬†Konrad Lorenz mendefinisikan etologi sebagai “disiplin ilmu yang mempelajari perilaku binatang dan manusia dengan memanfaatkan metodologi yang terdapat dalam semua cabang ilmu biologi khususnya sejak era Charles Darwin”. Para ahli etologi juga ingin menyingkap bagaimana dan mengapa bentuk-bentuk perilaku bisa berkembang di tengah-tengah interaksi dengan lingkungan yang terdiri dari individu-individu yang amat beragam. Mereka juga menyelidiki bagaimana perilaku itu dapat berkembang secara bertahap. Sehingga perilaku kemudian dianggap sebagai faktor penting untuk dapat beradaptasi dengan suatu lingkungan tertentu. Metode-metode etologi pada umumnya mengobservasi suatu spesies di lingkungan alami mereka. Setelah mengumpulkan data-data yang diperlukan, mereka lalu membuat sebuah etnogram, yakni suatu penemuan tentang perilaku spesies. Langkah ini kemudian disusui dengan tahap melakukan eksperimen secara sistematis dan studi banding.
Sesungguhnya asal mula etologi ini dapat ditelusuri kembali lewat karya Charles Darwin. Dalam bukunya berjudul The Origins of Species (“Asal Mula Spesies) (1859). Di situ Darwin mengulas konsep dasar insting (naluri), dan yang lebih penting lagi adalah teorinya yang menjelaskan bahwa seleksi alam didasarkan pada perilaku binatang dan morfologi serta fisiologinya. Whitman (1898) juga menegaskan arti pentingnya suatu perspektif perilaku yang evolusioner. Berbeda dengan Whitman, Heinroth (1910) menemukan adanya “pola-pola perpindahan” yang seperti halnya dengan struktur morfologi, juga dapat dibandingkan antara spesies yang satu dengan spesies lain. Melalui perbandingan seperti ini, perilaku-perilaku tertentu dapat digolongkan sebagai homonolog yang kemudian dapat ditelusuri kembali lewat garis nenek moyang mereka. Antiseden lain dari etologi adalah pendekatan psikologis yang dikembangkan oleh McDougall melalui karyanya berjudul An Outline of Psychology (1923) dan Tolman dalam Purposive Behaviour in Animals and Man (1932). Keduanya menyebutkan sebuah faktor penting yang disebut “naluri” dan menjelaskan bahwa perilaku binatang didasarkan pada tujuan yang digerakkan oleh instink (naluri) itu. Sebaliknya Craig (1918) membedakan antara tujuan dari rangkaian perilaku (tindakan yang diinginkan) dari permulaannya (perilaku untuk memuaskan seleranya). Perilaku yang mendorong untuk memuaskan nafsunya merupakan perilaku khusus yang selalu mencari situasi rangsangan agar tindakan yang diinginkan dapat dimulai. Etologi modem mulai dipakai pada tahun 1931 ketika Lorenz melakukan studi mengenai etologi “corvidae” sosial. Artikel ini dan artikel-artikel lainnya yang semula masih mengikuti alur yang sintesanya sangat terbatas, memperkenalkan suatu model baru dari perilaku binatang. Lorenz berpendapat bahwa interpretasi mengenai perilaku binatang hanya mungkin bisa dilakukan jika dilakukan observasi yang cukup detail tentang binatang tersebut di lingkungan atau habitat alamiahnya, serta dibandingkan dengan perilaku-perilaku spesies lainnya. Lorenz menggunakan suatu model hidraulik untuk menjelaskan interaksi antara faktor-faktor internal dan eksternal, dan ia mencoba mende-finisikan istilah Craig yakni perilaku “yang diinginkan” sebagai “pola-pola tindakan yang baku” (FAP, fix action pattern). Menurutnya, perilaku awal yang mendorong binatang untuk memuaskan nafsunya adalah suatu fase yang akan membawa binatang melakukan FAP. Perilaku yang didorong oleh nafsunya itu membuat binatang mencari konfigurasi rangsangan untuk melepaskan FAP. Rangsangan-rangsangan seperti ini menurut suatu mekanisme hipotetis memang sudah dibawa sejak lahir, “mekanisme membuang yang ada sejak lahir “. Sinyal-sinyal ini bukan sekedar obyek di lingkungannya melainkan juga sebagai signal yang dikeluarkan oleh anggota spesies lainnya, di mana terkadang mampu berperan sebagai fungsi sosial yang biasanya disebut dengan “pelepas’ (releaser). Pelepas ini tidak selalu efisien, disebabkan karena ukuran efisiensi ditentukan oleh suatu “energi perilaku tertentu” yang akan hilang bersamaan dengan dijalankannya FAP. Kecuali jika ada sedikit energi periiaku tertentu tadi, maka FAP akan dapat dijalankan meski tidak secara menyeluruh. Kondisi inilah yang memang diinginkan. Sebaliknya jika FAP tidak dijalankan dalam waktu yang cukup lama, maka kemampuan binatang menjalankan FAP itu akan berkurang, yang pada akhirnya akan membuat FAP bisa dilepaskan cukup dengan suatu rangsangan yang lemah. Lorenz menyebut istilah ini sebagai “aktivitas yang vakum”. Namun model yang ditawarkan Lorenz juga tak luput dari berbagai kritik yang menganggap model tersebut terlalu sederhana. Niko Tinbergen (1942) mencoba memperbaiki model asli Lorenz tersebut. Ia mengembangkan teknik pengamatan yang meskipun sederhana namun merupakan teknik eksperimen yang sahih, la juga mengembangkan istilah-istilah “pelepas dan “naluri secara lebih sempurna. Oleh Tinbergen. naluri diterjemahkan sebagai: “suatu mekanisme rasa gugup yang diorganisir secara hirarkis digerakkan untuk menyiapkan, melepaskan dan mengarahkan rangsangan baik yang diakibatkan oleh karakter eksogen maupun endogen. Reaksi tersebut terdiri dari suatu rangkaian pergerakan yang terkoordinasi yang memungkinkan terjaganya kelestarian individu dan spesies”. Tinbergen hanya memfokuskan pada perilaku reproduksi yang dari hasil penemuannya telah memperluas pemahaman kita mengenai organisasi naluri yang hirarkis. Eksperimennya terutama berkaitan erat dengan konflik motivasional, aktivitas yang dibelokkan arahnya, ambivalensi perilaku, dan mekanisme penggantian atau penyesuaian. Setelah Lorenz dan Timbergen menelurkan karya-karya besar mereka, etologi kemudian berkembang pesat di seluruh daratan Eropa dan (pada tingkat tertentu) Amerika Serikat. Kemajuan ini sempat terhenti sejenak akibat meletusnya Perang Dunia Kedua, kemudian kembali bangkit pada tahun 1950-an ketika karya kedua orang itu dipublikasikan secara luas, yakni karya Tinbergen yang berjudul The Study of Instinct (buku etologi pertama yang diterbitkan) pada tahun 1951, dan buku Lorenz berjudul King Solomon s Ring pada tahun 1952. Semakin berkembangnya etologi tersebut ternyata malah melahirkan konflik besar yang diakibatkan oleh perbedaan pandangan mengenai perilaku. Pertama. psikologi eksperimen di Amerika menerapkan orientasi perilaku yang menekankan pengaruh lingkungan dan faktor-faktor belajar. Para penganutnya melaksanakan serangkaian eksperimen laboratorium yang menggunakan tikus, kucing, anjing dan kera, sebagai model untuk menggantikan manusia. Kedua, etologi, dengan observasi sistematiknya terhadap berbagai spesies dalam habitat alamiahnya, mencoba mengungkapkan berbagai mekanisme evolusioner dan adaptif yang melandasi perilaku binatang, landasan berperilaku. Berbeda dari para psikolog eksperimental, para ahli etologi mempelajari berbagai macam spesies sehingga mereka mendapatkan pengamatan yang lebih tajam terhadap kepekaan dan insting dari berbagai jenis hewan. Diabaikannya faktor belajar oleh para ahli etologi membangkitkan reaksi keras terhadap disiplin ilmu ini dari kubu saingannya, terutama dari Lehrman (1953) yang mendasarkan kritiknya pada karya Kuo (1932). Namun perdebatan itu kini nampak steril dan tidak ada gunanya, karena keduanya tidak lagi dipandang sebagai dua kategori yang sama sekali terpisah. Para ahli etologi kontemporer kini sepakat bahwa perilaku berkembang secara ontogenetis melalui interaksi antara informasi genetik dan lingkungan. Namun ini tidak berarti bahwa karakteristik bawaan bisa diubah melalui proses belajar karena mereka yakin hal itu bersifat konstan. Hanya saja mereka mengakui bahwa segala sesuatunya memang harus dipelajari agar makhluk hidup dapat berperilaku sesuai dengan tuntutan lingkungan. Lorenz menamakan mekanisme tersebut sebagai sekolah alam”. Jadi kini yang menjadi masalah bukanlah apakah pola perilaku itu bersifat bawaan atau dipelajari, melainkan bagaimana perilaku dapat dimodifikasikan atau dapat dipelajari, serta kapan. Sejak awal, etologi juga berminat mempelajari berbagai aspek perilaku sosial seperti perilaku teritorial, struktur kelompok, dan komunikasi. Perkembangan penting dalam studi komunikasi etologis adalah munculnya konsep “ritualisasi“. Istilah ini mengacu pada modifikasi pola perilaku melalui seleksi alam demi mengasah fungsi komunikasi. Ekspresinya bisa berupa agresi, yang adakalanya dijadikan tumpuan fungsi sosial, dalam arti perilaku tersebut justru dimaksudkan untuk mencegah eskalasi konflik terbuka. Konsep “pengikatan” (bondingj, yang merupakan fungsi perilaku ritual, juga mendapat perhatian besar. Para ahli etologi juga melacak konsepsi peringkat sebagai salah satu aspek perilaku sosial. Skhilderup-Ebbe (1935) mendapati bahwa pada kumpulan ayam betina, ada beberapa yang diberi hak istimewa untuk mematuk makanan lebih banyak dan lebih dahulu ketimbang yang lain. Observasi ini kemudian menjurus pada studi mengenai dominasi yang didefinisikan sebagai kepemilikan prioritas akses terhadap sumber daya langka, yang bisa diukur berdasarkan jumlah kemenangan yang diraih dari semua konflik yang pernah dialami. Kon
sep ini kini didiskripsikan secara terbatas sebagai hubungan antara berbagai bentuk perilaku yang membentuk konstruksi hirarki sosial di mana individu dengan peringkat atas menikmati hak istimewa menjadi pusat perhatian dari anggota kelompok yang lain. Bidang-bidang kajian lainnya dari etologi, adalah hubungan antara organisasi sosial dan ekologi (Devore, 1965); perilaku permainan; serta peniruan atau bagaimana individu adakalanya begitu terikat oleh individu lain dalam kelompok yang sama). Keterikatan ini untuk pertama kalinya diamati oleh Lorenz pada kumpulan burung dan dipelajari secara lebih serius oleh Hess (1973) dan para ilmuwan lainnya. Para ahli etologi juga memberi banyak perhatian pada keterikatan antara perilaku dengan sistem saraf. Hoist dan St. Paul (1963) menjelaskan adanya berbagai reaksi perilaku ayam betina dalam eksperimen stimulasi listrik pada otak mereka, dan Delgado (1967) berhasil membuktikan bahwa teknik serupa juga bisa dimanfaatkan untuk mengontrol perilaku agresif. Riset neurofisiologis selanjutnya mengungkapkan adanya sel-sel atau neuron dalam otak yang bertanggung jawab atas fungsi kontrol terhadap berbagai aspek perilaku (Ewert, 1976). Perkembangan penting berikutnya dalam etologi adalah munculnya sosiobiologi. Para ahli sosiobiologi mengajukan suatu teori global mengenai perilaku yang bertolak dari konsep “kepentingan sepihak” yang dikatakannya akan berkembang ke berbagai ciri perilaku lainnya. Perangkat utama sosiobiologi adalah model-model matematis yang mengukur adaptasi filogenetik dan tekanan-tekanan ekologi. Menurut teori ini, setiap situasi bisa memunculkan perilaku yang berlainan, dan tekanan-tekanan akan mengakibatkan berkembangnya perilaku “strategis stabil evolusioner” (ESS, evolutionary stabile strategies).
Mereka juga mencoba memasukkan ilmu-ilmu sosial dalam suatu sintesis modern teori evolusioner, dan mereka menyatakan bahwa semua bentuk organisasi sosial (dari semua hewan berakal termasuk manusia) dapat dijelaskan dengan menggunakan parameter-parameter dan teori kuantitatif yang sama. Keyakinan mereka terhadap determinisme genetik yang model-model analitiknya yang diwarnai oleh Darwinisme sosial awal abad 20 itu mendapat hujanan kritik. Meskipun diliputi oleh banyak kelemahan, mereka terbukti telah memberikan perspektif baru mengenai struktur dan organisasi individu serta perilakunya, dan hal tersebut diakui penting dalam studi mengenai perilaku serangga, ikan dan burung. Namun penerapan hukum-hukum sosiobiologi yang mereka lakukan terhadap primata dan manusia masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Orisinalitas pendekatan etologi dalam studi mengenai perilaku manusia terletak pada observasi sistematik dan diskripsi kualitatifnya, tinjauannya mengenai akar-akar filogenetik dan konsepsinya mengenai fungsi perilaku yang dideduksikan dari pendekatan komparatif. Etologi manusia selanjutnya mempengaruhi berbagai bidang antropologi. psikologi dan sosiologi. Namun konstruksi kerangka teoretisnya masih diliputi oleh kelemahan-kelemahan yang mencolok. Kemampuan bicara merupakan karakteristik utama perilaku manusia yang tidak ditemukan pada mahkluk lain. Kemampuan itu memungkinkan manusia saling bertukar informasi antargenerasi di luar cara-cara genetis. Atas dasar itu revolusi budaya diasumsikan memainkan peran utama dalam adaptasi spesies ini. Mungkin saja evolusi budaya tersebut mengikuti prinsip-prinsip yang setara dengan yang mengatur evolusi filogenetik serta yang mendorong terjadinya modifikasi perilaku. Lagipula manusia mampu mengubah dan memperbaiki lingkungannya sehingga mereka dapat pula meredam tekanan-tekanan yang bersumber dari lingkungan alam. Berbagai kemungkinan ini mempersulit pemahaman atas nilai adaptif genetik perilaku manusia dan mengaburkan perbedaan antara ciri filogenetik dengan ciri budaya. Yang terakhir, para ahli etologi manusia cenderung mengabaikan modifikasi adaptif perilaku atau proses belajar. Beberapa buku populer mengenai etologis manusia antara lain adalah The Territorial Impera-tive (1966) karya Ardery, On Aggression (1963) karya Lorenz, The Naked Ape (1967) karya Morris, serta On Human Nature(1978) tulisan Wilson, yang kesemuanya berhasil menarik minat masyarakat luas. Para penulis tersebut mencoba menyajikan penjelasan biologis mengenai perilaku manusia, namun mereka acap kali menggunakan analogi-analogi yang naif dan juga berbagai perbandingan yang teriaiu sederhana. Namun dalam waktu bersamaan mereka telah berhasil mengembangkan etologi manusia yang otentik. Riset yang difokuskan pada penafsiran etologi manusia atas perkembangan anak (etologi anak-anak) seperti yang tertuang dalam karya Biurton-Jones (1972) dan McGrew (1972) mencoba mengungkap hubungan-hubungan antara anak dengan struktur-struktur kelompok yang dibentuknya. Perbandingan antar-budaya juga telah dilakukan oleh Eibl-Eibesfeldt melalui studi mereka tentang perilaku non verbal (1972). Ilmuwan ini juga telah mengadakan observasi terhadap perilaku ekpresif anak-anak yang dilahirkan dalam keadaan buta dan tuli (1973). Serangkaian studi tersebut menunjukkan bahwa kompleksitas dan sifat multidi-mensional ontogeni dan juga adanya ciri-ciri trans-budaya yang nyaris seragam dengan perilaku manusia seperti perilaku ekspresif dan ritualisasinya. Etologi manusia telah bergeser dari diskripsi awalnya dan kini tidak lagi membatasi diri pada upaya penelitian adaptasi-adaptasi filogenetik dalam perilaku. Bidang studi ini kini juga mempelajari pola-pola budaya yang berkaitan dengan adaptasi, serta strategi interaksi sosial di berbagai masyarakat dan kebudayaan. Pergeseran ini bertolak dari fakta bahwa unsur filogenetik dan pola-pola budaya dapat saling disubstitusikan secara fungsional, atau keduanya dapat diverbalisasikan. Betapa pun aturan struktural dasar tetap sama. Hal ini membuka jalan bagi dilakukannya studi mengenai perilaku sosial manusia dan hubungannya dengan tata bahasa. Pendekatan ini dapat merumuskan suatu kerangka teoritis, bersama dengan riset empiris yang tengah dilakukan, akan dapat menyempurnakan etologi manusia seperti halnya etologi binatang. Hasil-hasil yang dicapai oleh berbagai studi etologi manusia dapat memberi dampak penting terhadap upaya untuk menjawab berbagai persoalan sosial, dan bahaya yang bersumber dari pengabaian hakikat manusia akan dapat dihindari. Perilaku manusia memang dapat diubah, misalnya melalui program pendidikan, namun peluangnya terbatas. Tentu saja ini tidak dimaksudkan sebagai alasan untuk membekukan perubahan-perubahan sosial seperti yang dianjurkan oleh para tokoh konservatif ekstrim. Bahkan sesungguhnya pandangan ekstrim tersebut tidak mungkin dilaksanakan. Konsepsi-konsepsi universal yang diidentifikasikan oleh etologi manusia, terutama dalam komunikasi dan mekanisme kohesi serta pembinaan kelompok, agaknya bisa dijadikan landasan untuk memahami strategi- strategi politik etnosentrik.

PENGERTIAN ETOLOGI | ok-review | 4.5