PENGERTIAN ETOLOGI

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Psikologi

Rumusan klasik etologi mulai populer sejak terbitnya karya Lorenz di tahun 1930-an (lihat misalnya Lorenz, 1937). dan berpuncak pada munculnya karya Tinbergen yang berjudul The Study of Instict (1951). Lorenz mulai menelaah perilaku binatang dan karakteristik-karakteristiknya yang sekiranya berkaitan dengan ciri-ciri anatomis yang terjabarkan dalam tabel taksonominya. Dari kajiannya itu Lorenz berkesimpulan bahwa perilaku tertentu ternyata tidak berhubungan dengan pengalaman atau perkembangan anatomis, dan terpisah pula dari pengaruh stimulasi peripheral pada organ pola motorik yang biasanya berfungsi sebagai “pengubah niat menjadi tindakan”. Energi khusus itu pula yang sering menciptakan “perilaku apetitif” (dilakukan semata-mata berdasarkan kata hati) yang seringkah terlepas dari mekanisme kontrol (Lorenz, 1950). Tinberger (1951) membangun komponen-komponen konsepsi ini sehingga berkembang menjadi teori yang komprehensif. Di dalamnya termuat pula kelas-kelas pokok fungsional perilaku mulai dari pemberian makan, reproduksi dan sebagainya. yang dinyatakannya terorganisasi secara hirarkis dan dilandaskan pada mekanisme tertentu yang bertumpu pada energi motivasional. Naluri merupakan bagian penting dari energi tersebut.
Menurut Tinbergen, keseluruhan sistem fungsional itu bahkan bisa disebut sebagai naluri dan untuk menjelaskannya ia menghubungkan konsepsi mekanisme sensorik dan motorik. evolusi perilaku, perkembangan kepribadian, fungsi dan interaksi sosial untuk membuat sintesis etoiogis klasik. Namun pada perkembangan selanjutnya, rumusan-rumusan Lorenz dan Tinbergen itu dihujani kritik dalam dan luar etologi, yang antara lain mempersoalkan lemahnya kesesuaian model-model yang mereka susun, serta kurang jelasnya fungsi sistem syaraf yang mereka kemukakan di dalamnya Kritik juga tertuju pada lemahnya teori-teori motivasional uniter dan juga paparan mereka tentang naluri yang ternyata tidak dapat menjelaskan kompleksitas pola perilaku; serta terbatasnya bukti transmisi turunan tentang perkembangan individu dan kebakuan motivasional. Berbagai kritik keras dan lunak itu kemudian memunculkan pemikiran baru yang lebih didasarkan pada aspek empiris, metodologi yang lebih cermat, serta pengujian eksperimental yang selanjutnya melahirkan pendekatan-pendekatan terhadap perilaku yang lebih bersifat kuantitatif. Bahkan Tinbergen sendiri mulai menekankan perlunya pemilahan permasalahan di seputar perilaku dan naluri, yang lantas menciptakan cabang baru dalam etologi, yakni “studi tentang naluri”. Konsepsi naluri sebagai suatu bentuk energi motivasional tertolak oleh fakta bahwa kontrol perilaku bersumber dari berbagai faktor yang berhubungan dengan sistem syaraf yang sangat kompleks; hal ini antara lain diungkapkan melalui konsep state space oleh McFarland. Pandangan klasik tentang naluri yang cenderung pasif itu pun goyah; peranan naluri ternyata tidak mutlak, dan serangkaian pengujian menunjukkan bahwa naluri bisa saja dinamis, karena ia sendiri bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor yang muncul seiring dengan perkembangan kepribadian seseorang. Kini, para ahli etologi jarang mengulas naluri secara spesifik, karena makna ilmiahnya sendiri kurang jelas (lihat misalnya, Dawkins, 1986). Ambisi untuk mengupas hakikat dan peran naluri melalui pengamatan terhadap perilaku hewan dan binatang juga ada pada kalangan sosiobiologi. Konsep naluri yang terus meluas tampaknya membuka peluang bagi kajian-kajian khusus mengenainya di masa mendatang. Namun selama persoalan-persoalan dasar, misalnya tentang pengertiannya yang baku, belum terpecahkan, maka yang akan terjadi hanyalah pengulangan-pengulangan yang tidak berguna.

PENGERTIAN ETOLOGI | ok-review | 4.5