PENGERTIAN ETNOMETODOLOGI

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Psikologi

Istilah etnometodologi dikembangkan oleh Harold Garfinkel yang dalam karyanya berjudul Studies in Ethnometodology (1967) membuat serangkaian petunjuk atau pedoman untuk melaksanakan suatu penyelidikan sosiologi yang dianggap unik. Kata “etnometodologi” dapat diartikan sebagai studi tentang “metode awam”. Metodologi ini mirip dengan etnoantropologi (studi mengenai sistem penilaian masyarakat, klasifikasi tumbuh-tumbuhan, kategori warna, astronomi dan musik), akan tetapi ruang lingkupnya setiap metode ini menghasilkan gambaran perihal tatanan sosial tersendiri lebih luas. Dalam berbagai kasus yang ada, studi yang dilakukan oleh para ahli etnometodologi berkaitan dengan berbagai kegiatan yang terjadi di lingkungan masyarakat asli tempat mereka berasal. Ketika mereka melakukan studi mengenai lingkup tempat praktek yang khusus dan eksotik, mereka akan mencoba belajar menguasai bahasa setempat dan membuat serangkaian persiapan untuk turut mengembangkan organisasi kemasyarakatan setempat. Etnometodologi tidak hanya didefinisikan oleh masalah subyeknya sendiri melainkan juga oleh konsepsi tatanan sosial yang unik dan bahkan cenderung kontroversial. Dari Talcott Parsons (1937), Garfinkel mewarisi suatu orientasi sosiologi umum hingga ke aksi dan struktur sosial. Namun demikian, ia telah mengubah secara radikal “masalah” teori mengenai tatanan menjadi suatu orientasi yang bersifat deskriptif dan juga mengenai “produksi” tatanan sosial. Jalan keluar yang dtawarkan Garfinkel tidak dimaksudkan sebagai jawaban teoritis yang koheren mengenai masalah yang paling mendasar yakni bagaimana tatanan itu diciptakan sebagai jawaban dari akibat munculnya kekacauan. Sebaliknya. Garfinkel ingin menjelaskan bahwa produksi ad hoc dari aktivitas sosial yang biasa itu tidak memerlukan solusi teoretis yang bersifat formal. Pemikiran ini dimaksudkan untuk mengidentikasi dan menjelaskan permainan bahasa yang beragam melalui tatanan sosial yang diperlihatkan di jalan. Gagasan ini umumnya bersumber dari fenomenologi dan tulisan-tulisan Wittgeenstein. Namun, tentu yang lebih penting adalah pemikiran seperti itu telah dikembangkan oleh Garfinkel dibantu murid- muridnya yang telah melakukan penyelidikan aktivitas sehari-hari secara mendetail. Di samping melakukan studi mengenai aktivitas sehari-hari dan komunikasi misalnya, bercakap-cakap, berdiskusi mencari solusi, mengemudikan mobil di jalan raya para ahli etnometodologi juga menyelidiki hasil dari metode ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam. Mereka tidak hanya berusaha memaparkan keunggulan dari tatanan atau pranata sosial, melainkan juga mencoba mengungkap produksi pranata alamiah tanpa melibatkan unsur fakta-fakta ilmiah yang justru dipandang malah kurang efektif. Tidak seperti ilmuwan sosial lain, mereka tidak membuat “konstruksi fakta” seperti dalam hubungan sebab-akibat. Mereka umumnya juga tidak berusaha secara skeptis untuk menyentuh obyektivitas ilmu pengetahuan dan matematika.
Mereka cenderung berusaha menunjukkan apa yang “dimaksudkan”, dari semua jenis keadaan dalam penelitian dan tujuan yang sesungguhnya ingin dicapai baik melalui fakta-fakta, perkakas atau senjata kuno, penemuan dan sebagainya. Sebutan yang lebih cocok adalah “acuh tak acuh , bukannya skeptis. Etnometodologi sendiri bukanlah metode ilmu sosial. Fakta-fakta yang diketemukan di lapangan berulangkah menegaskan tidak adanya kewajiban untuk selalu menggunakan metode tertentu. Di samping itu juga tidak ada larangan untuk tidak menggunakan prosedur penelitian apapun namanya, selama metodologi etnis dipandang sudah “laik” untuk meneliti fenomena tertentu. Tetapi harus diakui, bahwa para ahli etnometodologi cenderung menggunakan teknik-teknik penelitian tertentu. Khusus berkaitan dengan program analisis percakapan yang terpadu, para praktisi umumnya menganalis rekaman audio dan video dari percakapan itu, melakukan pertemuan untuk melakukan penyidikan, dan memakai bentuk-bentuk kegiatan lainnya. Data-data seperti ini malah tidak dianggap sebagai bukti empiris mengenai dunia luar melainkan sebagai unsur utama yang paling mudah dimengerti mengenai suatu dunia kehidupan yang dihuni oleh para peserta dan analis etnografi. Sedangkan Harvey Sacks, pembuat analisis percakapan, berpendapat bahwa “kelebihan utama” sumber-sumber yang direkam lewat tape recorder adalah karena kemampuannya memberikan catatan-catatan kegiatan yang memungkinkan dilakukannya studi ulang dan sekaligus diperluas cakupannya oleh para peneliti. Ini dimaksudkan untuk menghindari fakta-fakta yang kurang jelas, agar data-data yang ditawarkan oleh pranata alam sebelum munculnya teori, mampu berfungsi sebagai “perekam” yang kuat tentang perilaku-perilaku masyarakat, yang terkadang malah menantang para analis untuk menjabarkan silsilah pranata sosial. Target utama dari jenis penelitian seperti ini adalah untuk menemukan, melalui suatu teknik “anamnesis” sikap yang beorientasi pada perilaku-perilaku yang komunikatif. Status keilmiahan etnometodologi sampai sekarang masih diragukan dan tetap menjadi per-debatan panjang. Meskipun para ahli etnometodologi telah berusaha keras untuk menjelaskan peristiwa dan perilaku yang mereka pelajari secara aktual dan cermat, mereka tetap tidak mampu mengembangkan teori-teori sebab-akibat atau model-model penjelas. Dalam beberapa hal, hasil yang diperoleh kajian etnometodologi dapat dikaitkan dengan petunjuk-petunjuk “umum” yang menceriterakan bagaimana permainan bahasa yang menjadi bagian dari kajian tersebut berlangsung. Jika hasilnya memuaskan, deskripsi praksiologis seperti ini akan dapat mengungkap masalah-masalah yang kurang jelas dari pelaksanaan kajian tersebut yang beresiko menghilangkan skema kognitif dan model-model baku. Dengan demikian, prospek jangka panjang dari eksistensi etnometodologi tidak hanya terbatas pada kontribusinya bagi pengembangan dasar pengetahuan bagi disiplin ilmu sosial saja. Etnometodologi juga mampu mendorong berbagai upaya akademis maupun non-akademis untuk membukukan pengetahuan-pengetahuan dasar duniawi, yang tak mungkin dikodifikasikan semuanya yang menjadi bagian dari praktek-praktek kehidupan yang amat beragam.

PENGERTIAN ETNOMETODOLOGI | ok-review | 4.5