PENGERTIAN ETNOGRAFI

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Antropologi

Etnografi adalah suatu istilah yang mempunyai banyak penafsiran. Dalam pengertian yang paling umum. istilah ini mengacu pada suatu studi mengenai budaya sekelompok orang yang memiliki persamaan tertentu. Istilah ini juga kerap ditafsirkan ganda dan mempunyai implikasi baik terhadap metode studi maupun hasil studi itu sendiri. Sebagai suatu metode, etnografi secara khusus merujuk pada suatu penelitian lapangan (alternatif, sasaran observasi) yang dilakukan oleh seorang peneliti yang “hidup dengan dan hidup seperti” orang-orang yang menjadi obyek penelitiannya, yang biasanya berlangsung selama satu tahun atau lebih. Sementara sebagai suatu hasil, etnografi biasanya merupakan pemaparan tertulis mengenai suatu kebudayaan. Para pemerhati budaya kontemporer cenderung menekankan pada masalah adat atau kebiasaan. Jadi mereka menafsirkan etnografi sebagai ciri-ciri topik, gaya dan retorika suatu kebudayaan. Ada tiga peristiwa (fase aktivitas yang dapat dilihat) yang berkaitan dengan etnografi. Peristiwa pertama adalah pengumpulan informasi atau data tentang suatu budaya tertentu. Kedua, berkaitan dengan pembuatan laporan etnografi, terutama mengenai praktek-praktek pembuatan karangan yang dilakukan oleh peneliti untuk memaparkan potret sebuah budaya. Ini berkaitan dengan bacaan dan tanggapan yang peneliti terima. Masing-masing melahirkan masalah yang berbeda. Dalam ilmu-ilmu sosial, perhatian terbesar dicurahkan pada aspek pertama dari etnografi, yakni penelitian atau karya lapangan. Bentuk penelitian sosial ini merupakan hasil dan reaksi dari studi budaya yang pernah dilakukan pada pertengahan hingga akhir abad 19. Pada mulanya, etnografi banyak berkutat dengan masalah jarak antara peneliti dengan yang diteliti. Tulisan-tulisan tentang budaya yang dibuat oleh para antropolog pada saat itu tidak didasarkan pada studi khusus yang dilakukannya sendiri, melainkan dari sumber-sumber lain seperti dokumen, laporan dan surat-surat yang berasal dari para penjelajah, anggota ekspedisi ilmiah, misionaris, petualang, pejabat pemerintah kolonial dan mungkin yang terpenting adalah korespondensi jarak jauh dengan sahabat-sahabat pena mereka. Namun sebelum memasuki abad ke 20. para peneliti etnis (etnographer) mulai melakukan studi untuk masuk, mengalami sendiri dan tinggal dalam kurun waktu yang tidak singkat di sebuah dunia sosial yang aneh yang akan mereka tulis. Bronislaw Malinowski (1922:1-25) adalah salah satu ilmuwan yang paling raiin memajukan studi seperti ini dengan memberikan contoh suatu bentuk penelitian lapangan modern yang menuntut para peneliti etnis agar mengenal secara pribadi, akrab dan terus-menerus berhubungan dengan “segala sesuatu yang diucapkan dan diperbuat penduduk asli”. Namun terdapat suatu variasi mengenai kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam kerja lapangan itu, dan yang lebih penting lagi, bagaimana hasil kegiatan-kegiatan itu dipaparkan menjadi gambaran tentang suatu kebudayaan. Praktek penelitian yang paling lazim dilakukan selama ini mencakup wawancara intensif, perhitungan dan klasifikasi hasil-hasil survei lapangan, keterlibatannya secara rutin atau upacara-upacara seremonial, pengumpulan sampel tentang perilaku penduduk asli di semua lapisan, dan lain sebagainya. Bahkan dewasa ini tengah dikembangkan suatu karya penelitian yang lebih lengkap untuk membantu para peneliti lapangan yang sudah dianggap veteran (tua) dalam meneliti etnografi.
Banyak masukan telah diberikan oleh para ilmuwan lain berkaitan dengan masih adanya kelemahan dalam kodifikasi manual dari penelitian lapangan dan juga karena kurangnya konsensus di antara para ahli etnografi. Masalah catatan kaki sebagai contoh, yang bagi kepentingan dokumentasi jelas sangat penting. Ternyata masih belum disepakati bentuk catatan kaki yang dianggap standar akibat banyaknya jenis catatan kaki yang ada. Meskipun sudah lama dipersoalkan, kerancuan itu terus saja berlangsung. Perkembangan penting kedua dari etnografi adalah munculnya apa yang disebut dengan “Realisme Etnografi”. Aliran ini mengubah gambaran tentang bahasa suatu suku terpencil yang semula relatif bersifat umum (holistik), tertutup dan jarang dipahami, menjadi lebih terbuka, lebih mudah dipahami dan bersifat khusus mengenai apa-apa yang diucapkan dan dilakukan oleh mereka. Namun, aliran realisme ini tetap menemui kesulitan untuk menentukan gaya penuturan etnografi, khususnya apakah dalam bentuk deskriptif atau interpretatif. Hal ini ditandai dengan adanya sejumlah kebiasaan penulisan yang mencakup, misalnya, penindasan terhadap perspektif anggota kultur individual yang harus selaras dengan pandangan penduduk asli baik secara umum maupun lebih spesifik terutama dikaitkan dengan upaya menempatkan sebuah kebudayaan dalam etnografi modern dan suatu penegasan mengenai validitas interpretasi atau deskripsi yang didasarkan pada pengalaman “pengarang yang berada di tempat penelitian”. Beberapa ahli etnografi ada yang secara terang-terangan memperlihatkan ketidakpuasan mereka atas aliran realisme ini. Sebagian mengkritik keberadaan mereka yang menganut aliran tersebut. Menurut mereka bagaimana mungkin pengalaman pribadi dapat dijadikan dasar bagi studi ilmiah tentang sebuah kebudayaan. Sebagian ahli etnografi mendasarkan pada prosedur dan praktek-praktek penemuan. “Confessional Ethnography” diperoleh pada saat karya lapangan itu sendiri dijadikan fokus dari teks etnografi. Komposisinya terletak pada berpindahnya pekerja lapangan tersebut ke pusat penelitian dan menjelaskan bagaimana pengarang etnografi menulis mengenai suatu budaya. Berbeda dengan penulis etnografi beraliran realis, “confessional ethnography” seringkah menonjolkan hal-hal yang baik dari beberapa jenis pengetahuan budaya seperti yang dilakukan oleh karya realis konvensional namun dengan gaya yang lebih personal (misalnya. Rabinow 1977). Beberapa aliran justru memanfaatkan keberadaan laporan-laporan etnografi guna mengembangkan pemikiran-pemikirannya. “Dramatic Ethnographies” sebagai contoh, mendasarkan narasinya pada peristiwa-peristiwa tertentu dari obyek dan anggota budaya yang tengah ditelitinya. Etnografi seperti ini berusaha menjelaskan hal-hal yang belum terungkap dan lebih banyak bertumpu pada teknik kesusasteraan yang digambarkan lewat fiksi, dan bukan pada teknik dokumentasi atau ucapan belaka serta gaya non-gaya” yang didasarkan dari laporan ilmiah. “Critical Ethnograhies” memberikan format lain dimana budaya yang diketengahkan diletakkan dalam suatu konteks simbolik, sosial, ekonomi, politik dan sejarah yang lebih luas dan bukan sekedar hanya berusaha memperoleh pengakuan dari anggota kebudayaannya. Cara ini memacu penulis untuk tidak sekedar menggunakan kepentingan dan kerangka etnografi tradisional pada saat mulai menulis etnografi. Sedangkan oto-etnografi lebih banyak menyoroti keberadaan kebudayaan dari kelompok para penulis etnografi itu sendiri. Tulisan-tulisan yang dihasilkannya banyak menawarkan suara emosional dan memelas dari para peneliti lapangan yang mengungkapkannya secara eksplisit, sehingga menghapus perbedaan yang biasa muncul antara peneliti dan yang diteliti. Salah satu konsekuensi dari penyebaran disiplin ilmu antropologi dan sosiologi yang ditulis secara khusus dan dangkal pada dasawarsa 1970-an adalah munculnya berbagai bentuk tulisan mengenai etnografi. Meningkatnya minat terhadap pemikiran kontemporer mengenai kebudayaan yang bisa pula dilakukan terhadap kelompok-kelompok, masyarakat dan organisasi tertentu membuat minat terhadap etnografi meluas di mana-mana. Etnografi tidak lagi dikelompokkan hanya berdasarkan atas wilayah geografis. organisasi atau masyarakat. Seiring dengan meningkatnya minat terhadap etnografi ini maka literatur-literatur yang berkaitan dengan etnografi seperti etnografi medis, etnografi organisasi, etnografi percakapan, etnografi sekolah, etnografi pekerjaan, etnografi keluarga, dan masih banyak lagi lainnya, dengan mudah memperoleh tempat. Hasil nyata dari kemajuan baik dari dimensi intelektual maupun teritorial ini memacu perkembangan gaya yang mencakup ruang dan peningkatan jumlah aktivitas penelitian mengenai etnografi. Bertambah luasnya gaya. metode dan minat etnografi adalah hasil dari peristiwa ketiga dari etnografi. Buku-buku teks mengenai etnografi untuk pembaca tertentu dan berbagai macam respon yang muncul menjadi hak yang paling lazim. Pengelompokan pembaca yang memiliki minat tertentu terhadap buku teks etnografi lantas didasarkan pada pilihan topik, teknik analitis. dan bentuk karangan. Ada tiga kategori pembaca etnografi. Pertama, pembaca dari kalangan kampus yang mengikuti pembagian ruang etnografi secara utuh. Umumnya mereka adalah pembaca yang sangat kritis dan hati-hati dan sangat memahami perkembangan etnografi baik di masa lalu maupun di masa sekarang. Kedua, pembaca dari kalangan ilmu sosial secara umum yang berada di luar lingkaran etnografi. Umumnya mereka adalah pembaca yang tertarik pada etnografi tertentu karena adanya fakta-fakta yang valid (ditambah dengan argumentasi) yang diungkapkan dalam penelitian lapangan yang dianggap dapat membantu agenda penelitian mereka sendiri. Ketiga, mereka yang tertarik membaca etnografi hanya karena ingin mendapatkan kesenangan, dan bukan bertujuan untuk memperluas profesionalisme. Beberapa karya etnografi mampu menarik minat orang-orang khususnya melalui cara penyampaiannya yang cukup menarik dan juga karena sifat etnografi sendiri yang memang penting. Pembaca-pembaca seperti ini biasanya berusaha mencari format yang gampang dikenal dan dipahamiĀ  legenda petualang, kisah petualangan, laporan penyelidikan dan barangkali yang paling terkenal adalah kisah klasik etnografi yang ditulis dalam bentuk pengetahuan populer mengenai masa lampau. Ironisnya, para penulis etnografi yang mempunyai pembaca dalam jumlah besar oleh teman-teman atau ilmuwan sosial lain malah dianggap tak jauh beda dengan penulis novel. Bagi pembaca umumnya, gaya tulisan yang disajikan dalam etnografi khusus malah tidak terlalu menarik. Bagi pembaca dari kalangan kampus etnografi tersebut berselera rendah dan sukar dimengerti. Sebaliknya, pembaca di luar kalangan kampus, banyak menemui kesulitan untuk memahaminya sebab penelitian etnografi yang ditulis secara khusus karena lebih banyak membahas teknik penelitian dan ditulis dengan gaya sebuah prosa yang kaku sehingga agak susah untuk dinikmati. Kondisi ini jelas menimbulkan dilema bagi para penulis etnografi. Untuk itu disarankan adanya jarak yang tegas antara pembaca umum dengan spesialis etnografi karena jarak antara para spesialis etnografi sendiri juga semakin lebar. Perkembangan etnografi sendiri sebenarnya tidak terlalu mengecewakan. Hal yang memprihatinkan adalah kurangnya minat baca generasi sekarang tentang apa itu etnografi. Hal ini tentu memalukan, sebab etnografi yang tak terbaca sesungguhnya bukan etnografi.

PENGERTIAN ETNOGRAFI | ok-review | 4.5