PENGERTIAN ETNISITAS BUDAYA MASYARAKAT

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Antropologi

Etnisitas adalah suatu penggolongan dasar dari suatu organisasi sosial yang keanggotaannya didasarkan pada kesamaan asal, sejarah dan yang dapat meliputi kesamaan budaya, agama atau bahasa. Etnisitas dibedakan dari kesukuan karena kesukuan didasarkan pada warisan biologis. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, etnos, yang dapat diartikan sebagai masyarakat atau bangsa. Salah satu definisi yang paling banyak dianut adalah yang dikemukakan Max Weber dalam Economy and Society yang diterbitkan ulang pada tahun 1968. Menurut pendapatnya, kelompok ras adalah suatu “kelompok manusia yang (selain kelompok kesukuan) menghormati pandangan serta memegang kepercayaan bahwa asal yang sama menjadi aiasan untuk penciptaan suatu komunitas tersendiri. Kesulitan untuk membuat suatu definisi yang tepat tercermin pada terlalu banyaknya kata- kata yang berbeda yang digunakan dalam literatur untuk menunjuk konsep-konsep yang sama atau berhubungan seperti ras dan bangsa. “Ras”, seperti halnya suku. mempunyai konotasi biologis, sekalipun hal itu tidak disertai alasan yang kuat, sementara “bangsa” menyangkut suatu agenda politis tujuan pembentukan suatu kenegaraan yang sesungguhnya di luar hal-hal yang bisa dikaitkan dengan kelompok-kelompok ras. Menurut Weber, daiam buku yang sama, “suatu bangsa adalah bentuk politis dari komunitas ras ketika anggota dan pemimpin sama-sama mencari suatu struktur politik tersendiri dengan mendirikan negara merdeka”. Dalam masyarakat-masyarakat yang didominasi oleh imigran, seperti Amerika Serikat, Argentina, Australia dan Kanada, studi mengenai kelompok-kelompok ras menjadi tema utama dari kehidupan sosial, ekonomi dan politis. Riset-riset mendalam mengenai berbagai kelompok ras di AS dilakukan oleh ahli sosiologi aliran Chicago pada tahun 1920-an, dimulai oleh W.I. Thomas dan Robert Ezra Park, yang mempunyai perhatian besar terhadap proses asimilasi aneka ras ke dalam kelompok yang dominan, yaitu White-Anglo-Saxon Protestant (WASP). “Lingkaran hubungan ras!: yang diajukan Park menunjukkan suatu urutan tahap yang meliputi “hubungan, persaingan, akomodasi dan asimilasi”, yang berarti bahwa kelompok-kelompok ras imigran yang belakangan datang akan terserap ke dalam masyarakat AS (imigran lama) yang relatif lebih homogen. Asumsi yang mendasari konsep kelompok ras adalah bahwa suatu proses bertahap akan menghilangkan kelompok-kelompok ras yang tadinya berbeda ke dalam suatu mangkok adonan tunggal bangsa Amerika. Interpretasi yang berbeda-beda memberi kesempatan tumbuhnya konsepsi yang majemuk mengenai etnisitas di Amerika. Banyak dimensi asimilasi yang telah diidentifikasikan oleh ahli sosiologi seperti Milton Gordon (1964). Gordon membedakan asimilasi budaya (akulturasi) dan asimilasi struktural. Yang pertama berkait dengan penerimaan bahasa, nilai-nilai dan ide kelompok dominan. Yang kedua mencerminkan penyatuan kelompok ras ke dalam institusi yang dimiliki kelompok utama. Jika asimilasi budaya tidak selalu berarti masuknya semua kelompok ras ke dalam institusi utama masyarakat, asimilasi struktural berarti asimilasi dimensi-dimensi lainnya dari identitas perorangan sampai perkawinan silang telah berjalan. Konseptualisasi ini berbeda dengan yang diajukan oleh M.G. Smith yang menyatakan isu utama dalam suatu teori yang lebih umum mengenai hubungan antar-ras adalah penyatuan berbagai kelompok ras ke dalam unit-unit sosial yang lebih besar. Smith membedakan tiga jenis penggabungan sosial. Yakni penggabungan universalistik yang menggabungkan individu-individu secara langsung ke dalam suatu masyarakat berdasarkan kondisi-kondisi yang serupa; penggabungan diferensial, yang sama dengan penggabungan universalistik, kecuali bahwa individu-individu digabungkan dengan dasar yang berbeda, yakni berdasarkan posisi lebih tinggi atau rendah; dan penggabungan segmental, di mana semua kelompok ras digabungkan dalam masyarakat selaku unit-unit yang berstatus setara berdasarkan syarat-syarat atau kriteria yang sama. Dalam kasus terakhir, individu tidak secara langsung digabungkan, berdasarkan syarat yang setara maupun tidak, sehingga membuka kemungkinan timbulnya akibat-akibat yang berbeda. Perhatian yang meningkat terhadap masalah etnisitas dan ras dimulai sejak tahun 1960-an, terutama didorong oleh meningkatnya gerakan-gerakan separatisme di seluruh penjuru dunia, dan timbulnya sesuatu yang dinamakan “ras yang tidak dapat dicampurkan “di wilayah Amerika Utara. Para ilmuwan dihadapkan pada asumsi-asumsi yang selama ini mendasari berbagai teori mengenai modernisasi sehingga mereka menghadapi kesulitan untuk menjelaskan masalah-masalah itu. Keyakinan bahwa modernitas akan memudahkan proses transformasi dari gemeinschaft komunitas) menjadi gesselschaft (asosiasi) dengan tahapan afiliasi antar-ras tidak lagi sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Beberapa ilmuwan sosial menyodorkan argumen mengenai adanya dasar-dasar primordial yang memungkinkan penggabungan ras, sementara ilmuwan-ilmuwan lain menjelaskan adanya unsur-unsur etnisitas dalam kriteria tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk memobilisasi massa secara politis. Selain loyalitas terhadap ras yang telah memainkan peran baru di berbagai masyarakat majemuk, pemisahan ras makin menyulitkan upaya pembentukan negara-bangsa pada masyarakat-masyarakat pasca kolonial. Bahkan negara-negara komunis juga memiliki masalah dengan kemaje-mukan ras warganya dan pemerintahnya harus menggunakan kombinasi metode kooptasi dan opresi/penindasan untuk menjaga keutuhan bangsa. Fokus riset mengenai etnisitas telah berpindah dari studi terhadap kelompok tertentu kepada proses pertumbuhan ras, pembentukan dan pengabadian batas-batas ras, dan arti dari identitas ras. Pertanyaan mengenai asal mula ras di suatu bangsa¬† juga menghasilkan perselisihan antara kelompok ilmuwan yang mementingkan kontinuitas sejarah ras dengan mereka yang menekankan aspek situasionalnya. Ketika sebagian besar ilmuwan sosial mengakui fleksibilitas pengakuan ras, beberapa di antaranya masih menganggap bahwa dampaknya dibesar-besarkan karena hal itu seringkah hanyalah pengelompokan ras secara simbolis atau hanya merupakan ilusi yang didasarkan pada pembentukan tradisi sebagai alat untuk melayani kepentingan penguasa. Salah satu penulis paling berpengaruh mengenai batas-batas ras adalah antropolog Fredrik Barth yang menekankan proses masuk dan keluarnya kelompok sebagai suatu perkembangan paralel dari pandangan sosiologis Max Weber. Weber menjelaskan kecenderungan kelompok-kelompok sosial yang berupaya untuk memonopoli kekayaan, prestise dan kekuasaan politis dengan secara sengaja menghalangi masuknya orang-orang luar menjadi anggota kelompoknya. Pembatasan-pembatasan imigrasi merupakan salah satu cara yang digunakan dalam masyarakat- masyarakat moderen. Contoh lain adalah prinsip bahwa kewarganegaraan ditentukan oleh negara, seperti yang terjadi di Jerman, termasuk prinsip-prinsip yang mencerminkan suatu rasa persamaan berdasarkan nenek moyang yang sama, jus sanguinis. Sedangkan di Perancis, faktor penentunya adalah kediaman jus soli. Beberapa penulis menekankan sifat sukarela keanggotaan kelompok ras dan pilihan yang tersedia pada masyarakat pasca industri. Ada pula yang menunjukkan unsur-unsur paksaan yang dapat ditemukan pada semua bentuk stratifikasi ras yang lebih berpengaruh daripada unsur-unsur preferensi dan pilihan. Fokus umum para ilmuwan sosial adalah upaya memahami sifat-sifat konflik dan kekerasan ras. Masa pasca Perang Dingin memunculkan beberapa isu penting seperti peperangan antar-ras dan pembasmian ras yang terjadi pada masyarakat-masyarakat majemuk seperti Bosnia dan Rwanda. Sebaliknya masyarakat-masyarakat lain, seperti yang terdapat di Afrika Selatan, misalnya, perpindahan kekuasaan telah berlangsung secara relatif lancar (belakangan ini) dan damai melalui pemilihan umum walaupun kekuasaan yang sekarang bertumpu pada suatu kompromi yang rapuh di antara berbagai ras (Adam dan Moodley, 1993). Dewasa ini terdapat beberapa pandangan teoretis yang mendukung studi mengenai ras dan konflik ras masa kini. Beberapa di antaranya adalah teori pilihan rasional yang bersifat individualistik dan
menerapkan suatu formula untung-rugi untuk menjelaskan kecenderungan ras dan dinamika pembentukan kelompok ras. Teori-teori itu mendapat kritik tajam karena tidak memperhitungkan dinamika bersama dari tingkah laku ras dan dimensi irrasonal dari kekerasan rasial.
Perspektif umum lainnya memusatkan perhatian kepada stratifikasi ras: teori-teori Neo-Marxis menekankan komponen ekonomis sebagai dasar diskriminasi ras. Ada pula yang lain yang mengikuti tradisi Weber mengajukan interpretasi ganda mengenai perbedaan kekuatan ras. Pada umumnya, kekuatan ras berasal dari peperangan dan migrasi, dan terbiasa digunakan untuk menetapkan suatu tatanan hirarkis kelompok etnis dan rasial. Teori- teori selanjutnya menunjuk faktor-faktor psikologis seperti prasangka dan etnosentrisme, sebagai penjelasan penting bagi ketahanan ras. Dua argumen kontroversial berikutnya menggunakan alasan keturunan genetik yang difungsikan melalui seleksi keluarga dan menjadi bagian dari pemikiran sosiobiologis mengenai hubungan antar ras. Teori-teori neo-konservatif memusatkan perhatian kepada ciri-ciri budaya yang tidak secara merata terbagi kepada beberapa kelompok ras. Teori- teori ini secara serius ditentang karena klasifikasi sepihak yang dikandungnya. Panasnya perdebatan memperkuat kesimpulan bahwa tidak ada teori yang memberikan paradigma yang mendalam dan dapat diterima secara luas untuk menjelaskan kerumitan pembentukan kelompok-kelompok etnis atau bertahannya konflik-konflik ras di dunia masa kini.

PENGERTIAN ETNISITAS BUDAYA MASYARAKAT | ok-review | 4.5