PENGERTIAN ETIKA DALAM RISET SOSIAL

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Sosiologi

Etika riset sosial meliputi pertimbangan dan implikasi moral atas riset dalam ilmu sosial. Etika terkait dengan kepekaan terhadap hak orang lain terutama karena manusia disadari lebih daripada sekedar alat dalam penelitian yang dikerjakan ilmuwan-ilmuwan sosial. Isu-isu etika seringkah membawa masalah-masalah lain seperti aturan riset, kedudukan periset pada struktur kekuasaan, dan dampak sosial riset. Para pelaku riset sosial perlu lebih memperhatikan dampak etika dan politis dari tindakan-tindakan mereka. Perlindungan terhadap subyek manusia dikandung oleh suatu doktrin “sadar dan mengetahui”. yang dicetuskan dalam riset dunia kesehatan. Doktrin tersebut menyatakan kesadaran individu bahwa dirinya sebagai subyek penelitian sangat penting dan hal itu harus bersifat sukarela, tanpa paksaan, serta punya pengetahuan dan pengertian akan hal-hal yang terlibat dalam riset. Sebagian besar riset sosial, baik yang dilaksanakan secara eksperimental (melalui percobaan), survei sosial maupun observasi (pengamatan) lapangan, harus menghargai prinsip-prinsip tersebut. Akan tetapi sering muncul pertentangan-pertentangan yang cukup tajam ketika subyek-subyek percobaan atau pengamatan terabaikan oleh riset, atau jika mereka menghadapi riset yang tidak mereka pahami. Demikian pula halnya, dalam praktek, seringkah para ilmuwan sosial tidak mengikuti prosedur formal yang digunakan dalam riset-riset kesehatan seperti formulir persetujuan yang harus ditandatangani oleh individu yang diteliti. Kontroversi lainnya menyangkut ketidak- terus-terangan dalam riset sosial. Sekalipun mayoritas ilmuwan sosial terbuka dengan tujuan riset yang mereka lakukan, ada beberapa kasus di mana penipuan terjadi dengan alasan metode-metode praktis atau dampak moral yang tidak akan memungkinkan riset dilaksakan secara terbuka (misalnya riset mengenai kepatuhan terhadap pemerintah atau penyimpangan). Keberatan terhadap ketidak terus-terangan pada umumnya karena elemen-elemen penelitian itu merendahkan atau mengandung ciri-ciri palsu, dampak sosialnya yang berbahaya, alasan keselamatan periset, dan kecurigaan yang mungkin timbul di antara obyek dan perpecahan sikap/pendapat di antara mereka. Riset pada beberapa situasi dapat mempengaruhi privasi obyek riset (misal kebebasan individu untuk menentukan sejauh mana mereka mau memberikan keterangan pribadi kepada orang lain, kapan dan kepada siapa). Informasi tertentu dapat bersifat sensitif. Beberapa keadaan (ruang panelis, pertemuan kabinet) dapat seluruhnya bersifat rahasia. Problem-problem seperti itu dapat diselesaikan dengan mengumpulkan keterangan-keterangan sukarela atau dengan membuat pengumpulan data yang bersifat anonim. Sebagai contoh, lokasi di mana riset dilakukan tidak usah diungkapkan dan identitas individu-individu yang terlibat disamarkan. Situasi ketika data dikumpulkan, tempat penyimpanan, diseminasi analisis dan analisis ulang, juga bisa dibuat sedemikian rupa. Kerahasiaan juga sering menjadi masalah setelah data terkumpul. Apa yang akan terjadi terhadap data yang telah terkumpul? Siapa yang boleh mengakses data itu. Akibat apa yang mungkin terjadi terhadap individu yang memberikan data kepada periset? Pertanyaan-pertanyaaan itu juga didorong oleh kemajuan teknologi komputer yang mampu menyimpan data dalam jumlah besar. Hal tersebut berdampak besar terhadap data sensus atau data-data survey sosial berskala besar. Berbagai teknik telah dikembangkan untuk memastikan agar identitas individu tidak terpublikasikan secara luas. Teknik itu antara lain berupa penghapusan identitas individu seperti nama. alamat atau tempat tinggal, penghapusan tabel-tabel yang memuat kasus-kasus kecil, dan injeksi kesalahan secara acak. Di samping faktor keamanan fisik, ada cara-cara teknis yang bisa membuat data-data anonim dalam file-file komputer, termasuk pemisahan identitas dari data serta pengamanannya dengan kode-kode tertentu. Respon acak juga merupakan suatu cara untuk memastikan kerahasiaan data ketika sedang dikumpulkan. Isu-isu etika dalam riset jauh melebihi soal kesantunan perlakuan terhadap subyek-subyek riset dan penanganan data yang telah terkumpul. Dampak sosial riset telah menjadi perhatian dan berbagai lapisan masyarakat punya pendapat yang berbeda (seperti yang ditimbulkan oleh laporan Moynihan mengenai keluarga-keluarga kulit hitam di Amerika) dan masyarakat internasional (seperti proyek Camelot di Chili pada tahun 1960-an). Perhatian terhadap promotor riset (siapa yang membayar) juga meningkat, demikian pula dengan soal untuk apa, dan untuk kepentingan siapa riset itu dilaksanakan. Negosiasi mengenai akses riset (khususnya peran yang dimainkan oleh para aparat tertentu yang berwenang memberikan izin), dan mengenai efek-efek yang mungkin ditimbulkan oleh publikasi hasil-hasil riset terhadap beberapa kelompok yang lebih lemah atau yang menduduki status lebih rendah dalam masya-rakat, kian penting. Peneliti atau periset biasanya tidak dapat mengendalikan faktor-faktor ini. namun kehati-hatian atau kecermatan akan dapat membantu untuk menghasilkan kinerja yang lebih efektif. Kecermatan khusus juga diperlukan untuk mengkaji dampak etis dari riset dan penerapan riset yang mengundang intervensi masyarakat (sebagai contoh percobaan-percobaan berskala besar mengenai kebijakan sosial). Pertimbangan terhadap masalah yang lebih besar ini akan membawa dampak politis terhadap riset ilmu sosial serta penilaian masyarakat terhadapnya.
Tidak ada teori tersendiri khusus mengenai etika riset yang secara spesifik mempelajari dan mengevaluasi resep-resep yang harus dipenuhi, atau manfaat pelaksanaan riset tertentu. Sukar untuk menentukan kapan dan sejauh mana obyek riset dapat dipengaruhi oleh pelaksanaan riset. Salah satu pendekatan yang sering dipakai adalah analisis manfaat, meskipun ada beberapa masalah yang belum terpecahkan dengannya. Resiko dan keuntungan sulit untuk diperkirakan dan diukur. Pengaruh terhadap individu hanya dapat diukur berdasarkan manfaat-manfaat sosial, dan periset biasanya juga menjadi hakim untuk masalah itu sendiri. Pendekatan yang lain menggunakan cara pandang etika situasional di mana periset diharapkan bijaksana dalam menimbang rang-kaian tindakan yang patut dalam riset yang sesungguhnya. Pendekatan berikutnya berlangsung di seputar prinsip-prinsip moral secara absolut untuk diterapkan pada berbagai situasi. Namun tidak ada pendekatan yang telah benar-benar diterima dan pembuatan keputusan etika dalam riset masih merupakan suatu pertimbangan individual. Konsekuensi praktis dari riset yang berdampak sosial dan ketidakpastian dari pembuatan keputusan etis mengenai riset adalah diterapkannya pengaturan secara baku. Banyak perhimpunan ilmuwan sosial profesional yang telah menentukan kode etiknya sendiri yang wajib dipatuhi oleh segenap anggotanya. Maraknya penelitian ulang terhadap hasil kerja rekan sejawat adalah suatu perkembangan yang cukup melegakan. Dewan Institutional Review yang dibentuk oleh sejumlah universitas di Amerika merupakan satu contoh dari upaya-upaya untuk menghindarkan perilaku tidak etis oleh periset sosial.

PENGERTIAN ETIKA DALAM RISET SOSIAL | ok-review | 4.5