PENGERTIAN ETHNIC SLUR

By On Saturday, March 29th, 2014 Categories : Antropologi

Suatu bentuk folklor yang dimak­sudkan untuk menertawakan, melecehkan, dan ka­dang-kadang menghina suatu kelompok atau suku bangsa lain. Bentuk-bentuk folklor yang termasuk ethnic slur bersifat esoteris, artinya hanya diperuntuk­kan khusus bagi orang dalam kelompoknya saja, se­hingga orang luar tidak mengetahui. Oleh karena itu, bentuk folklor semacam ini sebenarnya dirahasiakan oleh anggota pendukungnya. Di Indonesia, bentuk Moryang dapat digolongkan ethnic slur terdiri atas j teka-teki, dongeng berantai, lelucon, dan anekdot. Ethnic slur terdapat dalam kehidupan sehari-hari seperti contoh-contoh berikut, yang dikumpulkan oleh I James Danandjaja dalam bukunya, Folklor Indonesia. 1 Pada tahun 70-an, di kota-kota besar di Indonesia beredar semacam teka-teki yang agak bersifat mener­tawakan golongan warga negara Indonesia keturunan Cina yang telah menukar namanya dengan nama Indonesia. Bunyi teka-teki tersebut: “Apakah arti na­ma saudara kita Kasnawi Karna Dipanegarci itu?” Jawabnya: “Bekas Cina Betawi tukar nama dipaksa negara”. Nama ini sebenarnya berasal dari singkatan atau akronim yang diambil dari suku kata terakhir, atau permulaan, atau seluruh kata dari kalimat: Bekas C’ma Betawi tukar nama. dipaksa negara. Timbul­nya jenis teka-teki ini sangat menarik, karena meru­pakan wadah bagi tersalurnya ketegangan akibat pro­ses tukar nama warga negara Indonesia keturunan Cina, dari nama Cina menjadi nama Indonesia, yang terlalu cepat tanpa persiapan mental terlebih dahulu. Ketegangan itu muncul bukan saja di kalangan pen­duduk Cina peranakan, melainkan juga di kalangan penduduk Indonesia “asli,” yang mungkin merasa khawatir bahwa dengan tukar nama itu, orang Indo­nesia keturunan Cina dapat menyamar sebagai pen­duduk pribumi, sehingga dapat memperoleh hak le­bih banyak. Dengan demikian, fungsi teka-teki jenis ini adalah untuk menetralkan ketegangan itu secara seloroh dan melalui lelucon. Walaupun agak menya­kitkan hati kaum Cina peranakan, lelucon tersebut da­pat pula meredakan ketegangan, yang karena tidak tersalurkan dapat berubah menjadi letusan sosial yang sangat berbahaya sifatnya.
Bentuk ethnic slur juga ditemukan dalam dongeng berbagai suku bangsa di Indonesia, misalnya: “Dulu pernah ada tiga pemuda Indonesia suku bangsa Ba­tak, Minang, dan Jawa yang hijrah ke ibu kota un­tuk mengadu nasib. Namun, mereka mengalami ke­sukaran, karena ternyata kota impian Jakarta tidak memberikan sesuatu seperti yang mereka dambakan pada awalnya. Karena tidak memiliki tempat tinggal, ketiga pemuda tersebut berteduh di emperan sebuah toko. Pada suatu malam, tiba-tiba berhembus angin kencang yang membawa selembar kertas koran. Se­cara kebetulan kertas koran itu hinggap di atas tubuh pemuda Batak. Keesokan harinya, pemuda Tapanuli itu menggelarkan kertas koran di hadapannya seba­gai alas untuk membuka bandar perjudian kecil- kecilan di tepi jalan, sehingga sore harinya ia telah memperoleh penghasilan yang lumayan untuk dapat dipergunakan sebagai modal awal membuka kedai bensin dan bengkel tambal ban di pinggir jalan. Se­belum meninggalkan tempat berteduhnya, pemuda ” Tapanuli itu mewariskan kertas koran wasiatnya ke­pada kawan senasibnya yang berasal dari Minang. Keesokan Larinya, pemuda Minang menggunakan ker­tas koran itu sebagai alas menjual buah-buahan apkiran yang dipungut dari Fasar Paci, sehingga so­renya ia sudah mempunyai modal untuk berdagang di kaki lima di daerah pertokoan Pasar Baru. Karena dorongan kesetiakawanannya terhadap pemuda Jawajj yang belum bernasib baik, kertas koran wasiat tadi diwariskannya kepada pemuda Jawa itu. Apakah gerangan yang diperbuat pemuda Jawa tersebut terhadap kertas korannya? Ternyata kerfas pembawa itu segera dijadikannya alas tidur di emperan to­ko tempat ia berteduh setiap malam, untuk selama-lamanya.” Sudah tentu kisah di atas tidak benar-benar ter­jadi- Tetapi kisah ini menjadi menarik kalau kita menghubungkannya dengan adanya stereotip di Ja­karta, bahwa orang yang berasal dari Sumatra lebih berkemauan keras dalam mencapai sesuatu yang le­bih baik. Dari kisah itu juga kelihatan bahwa memang etos kerja setiap suku bangsa berbeda-beda.
Ragam ethnic siur lain yang ditemukan di Indone­sia berbentuk dongeng berantai, yang sering disebut dongeng bertimbun banyak, yakni dongeng yang di­bentak dengan cara menambahkan keterangan lebih terinci pada setiap pengulangan inti cerita. Contoh­nya: “Alkisah pada suatu hari di lorong sepi terlihat seorang ibu rumah tangga lari terbirit-birit ketakutan karena dikejar seekor tikus kecil. Si tikus lari terbirit- birit ketakutan karena dikejar seekor kucing garong. Si kucing lari terbirit-birit ketakutan karena dikejar seekor anjing. Si anjing lari terbirit-birit ketakutan ka­rena dikejar seorang Batak. Si orang Batak lari tunggang-langgang ketakutan karena dikejar seorang polisi. Dan si polisi pun lari tunggang-langgang ke­takutan karena dikejar petugas Opstib.” Dongeng berantai di atas menjadi lucu bila kita mengetahui bah­wa tokoh dalam cerita di atas lari karena salah sang­ka. Si anjing takut kepada orang Batak karena takut dimakan. Orang Batak takut kepada polisi karena, menurut stereotip orang Jakarta, tukang copet di Ja­karta kebanyakan berasal dari daerah Tapanuli. Po­lisi pun takut kepada Opstib (Operasi Tertib) karena pada masa itu sedang berlangsung operasi untuk me­mergoki polisi yang menyalahgunakan wewenang. Yang disebut juga ethephon, adalah suatu zat pengatur tumbuh tanaman. Rumus kimianya ialah asam 2-kloroetilfosfonat. Ethrel banyak digunakan dalam pertanian. Penggunaannya bertujuan antara lain untuk merangsang produksi getah karet (lateks) pada tanaman karet; untuk mempercepat proses pematangan buah; untuk mengatur agar pemasakan buah dapat terjadi secara serentak; untuk meningkat­kan hasil pada tanaman tomat; dan untuk merang­sang absisi (pengguguran) bunga.

PENGERTIAN ETHNIC SLUR | ok-review | 4.5