PENGERTIAN ESTETIKA

By On Tuesday, March 18th, 2014 Categories : Filsafat

Suatu penilaian indah atau buruk, me­nyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap suatu hal atau objek. Penilaian ini muncul dari diri sendiri secara subjektif atau akibat pengaruh lingkungan dan pengalaman.
 
ESTETIKA
Suatu cabang filsafat yang membicara­kan keindahan, kesenian, karya seni. Ketiga bidang yang berbeda satu sama lain menunjukkan kesulitan untuk mencapai kesepakatan mengenai arti istilah este­tika, suatu kesulitan yang sudah lama terdapat dalam lingkungan filsuf, seniman, pencipta maupun peng­gemar karya seni, serta pencipta keindahan alam.
Istilah estetika berasal dari kata bahasa Yunani yang~berarti mengamati secara lahiriah jasmani, inderawi. Filsafat keindahan, nilai seni dan karya seni sudah dibahas sejak jaman Yunani kuno Plato sering menjabarkannya sebagai ide dari yang terindah yang secara bawaan tetapi tersembunyi diingat setiap manusia, warisan dari ide abadi da: –ahi Aristoteles suka menguraikan apa yang terjadi dalam diri manusia yang mengalami, mengamati atau me­nikmati apa yang disebut indah. Plato berusaha mem­beri definisi tentang keindahan secara objektif, mi­salnya keteraturan yang sempurna. Aristoteles me­nyelidiki mengapa manusia secara subjektif suka mengamati apa yang memberi pemurnian rasa (khatarsis) padanya sampai ia menjadi manusia lebih baik. Sekitar tahun 400, Agustus melihat keindahan {pulchrum) dalam konteks iman kepada Tuhan yang mem­beri terang kepada manusia sehingga sanggup mem­bedakan keteraturan yang gemilang di alam ini. Thomas Aquino (abad ke-13) meneruskan tradisi Aristoteles dan Agustinus dengan mengemukakan bahwa indah adalah yang menyenangkan ketika di­amati (quod visum placet).
Selama masa modern Barat, anggapan tentang este­tika, keindahan, dan karya seni dipengaruhi pandang­an empiris dan sekular, apalagi mengalami perluasan sesuai dengan semakin meluasnya karya seni, sambil menjauhkan diri dari faham lama tentang keindahan yang terlalu subjektif diganti faham cita-rasa yang le­bih terbuka akan penyelidikan empiris.
Kata estetika dimasukkan ke dalam perbendaha­raan istilah filsafat Barat oleh Alexander Gottlieb Baumgarten setelah masa modern (abad ke-18). Kata ini dipakai untuk menunjukkan pengetahuan inderawi manusia tertinggi, tetapi tanpa menjamah wilayah akal budi maka menyangkut kesatuan, keterpaduan serta jelasnya pengetahuan inderawi manusia secara me­muaskan bagi subjek pengetahuan.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak aliran seni (impresionisme dan ekspresionisme) ikut menentukan definisi serta faham keindahan dan ka­rya seni. Pada masa itu diperbaharui juga diskusi yang sudah jadi sejak masa Plato, yaitu apakah karya seni didefinisikan sebagai tiruan atau ciptaan. Muncullah diskusi apakah estetika hanya menyangkut karya se­ni atau juga alam.
Dengan munculnya eksistensialisme pada perte­ngahan abad ke-20 penyelidikan pengalaman subjek ditekankan lagi dan Mike Dufrenne merancang feno­menologi pengalaman estetis. Dalam lingkungan kritik 2 sosial masyarakat industri modern (Adorno, Horkhdfjj mer) karya seni dan pengalaman estetis dipelajari s bagai dasar pendekatan pada kaum buruh guna mem-j bebaskannya dari dunia dan kebutuhan material. Demikian juga Bertolt Brecht dalam bidang teori/ filsafat mengenai teater dan drama. Sebagai reaksi beberapa sikap yang dianggap terlalu spiritual atau melayang, dari lingkungan yang lebih berhaluan prag­matis empris, misalnya Amerika Serikat, ada usaha” untuk mengubah estetika menjadi kritik karvr seni dan kritik kesenian, agak lepas dari filsafat, menjadi suatu pengetahuan.

PENGERTIAN ESTETIKA | ok-review | 4.5