PENGERTIAN ENERGI DAN EKONOMI

By On Monday, October 21st, 2013 Categories : Ekonomi

Dari hubungan itu terlihat bahwa transformasi perekonomian dunia sejak 1840 an, dari agraris ke industri lalu pasca industri, dibarengi dengan lonjakan pemakaian energi hingga 25 kali lipat (dibandingkan dengan skalanya pada 1860). Kelanggengan suatu masyarakat tergantung pada ketersediaan energi dalam kuantitas yang memadai dan dengan biaya yang terjangkau. Hubungan antara tingkat kemajuan ekonomi dan penggunaan energi. Laju kenaikan pemakaian energi terus menerus yang konsisten selama periode itu (sekitar 2,2 persen per tahun), kecuali periode 1950-1973 yang lajunya mencapai 5 persen.
Permintaan energy. Meskipun sikap terhadap situasi energi dunia tergantung pada gagasan tentang ketersediaan dan peran energi terhadap pertumbuhan ekonomi, pemakaian energi tetap tinggi; seteiah sempat melonjak tinggi (lihat Peraga 2), polanya pulih kembali sejak 1973. Antara 1950-1973. pemakaian energi semua negara mencapai puncaknya (lihat lonjakan kurva yang semula mendatar pada Peraga 1). Ada beberapa alasan. Pertama, pada periode ini pertumbuhan ekonomi dunia mencapai puncak. Negara-negara kaya tengah meniti tahapan akhir industrialisasinya (produk andalannya banyak menghabiskan energi seperti kendaraan bermotor, perlengkapan rumah tangga berlistrik, dan petrokimia). Di perkotaan, jumlah kendaraan berlipat-ganda. demikian pula gedung-gedung dengan alat penyejuk dan penghangat udara, sehingga pemakaian energi sangatlah besar. Kedua, Uni Soviet dan Eropa Timur tengah giat-giatnya memacu industrialisasi yang tentunya memerlukan energi berskala raksasa. Kenaikan standar hidup penduduknya juga membuat konsumsi energi mereka bertambah. Hal lain yang harus diperhitungkan adalah kurang efisiennya manajemen energi di Blok Timur ini sehingga energi yang dihabiskan lebih banyak daripada yang seharusnya., Ketiga, negara-negara Dunia Ketiga memulai industrialisasinya setelah lama “tertidur“. Ini dibarengi dengan lonjakan urbanisasi sehingga jumlah penduduk pemakai energi berlipatganda. Bila semula mayoritas penduduk Dunia Ketiga adalah para petani dan penghuni pedesaan yang sangat hemat energi, maka pada periode ini kebanyakan dari mereka menjadi kaum urban yang boros energi. Hal lain yang ikut berpengaruh (khususnya pada periode 1950-1960) adalah relatif murahnya harga energi (bahkan harganya cenderung turun pada periode itu). Ini dapat disaksikan pada Peraga 3 yang menunjukkan perkembangan harga energi yang diwakili oleh harga minyak mentah Arab Saudi (dalam satuan nilai US$ tahun 1974) sejak 1950. Tampak bahwa harga riil energi pada 1950-1970 turun hampir 60 persen. Yang turun bukan saja minyak, tetapi juga jenis-jenis energi lainnya, khususnya di lingkungan perekonomian terbuka Barat (misalnya batubara, minyak dan gas di AS dan Eropa Barat cenderung turun terus pada periode itu). Pihak perusahaan terdorong untuk memakai lebih banyak energi guna mendongkrak produksi dan menekan harga demi memenangkan kompetisi. Cadangan energi saat itu masih banyak, sehingga kekhawatiran terhadap penipisan cadangan energi dunia tidak relevan. Dalam kondisi ini muncul berbagai produk padat energi yang tentu saja ikut memperbesar konsumsi energi dunia.
Dampak kenaikan harga. Perubahan harga minyak pada 1970-an  dan juga harga energi lainnya memaksa dihentikannya penghambur-hamburan energi. Dampak kenaikan harga itu sangat besar. Laju pemakaian energi dunia merosot tajam sehingga menyamai periode-periode jauh sebelumnya (2 persen per tahun). Perubahan paling drastis dapat dilihat pada susutnya berbagai kegiatan ekonomi boros energi di negara-negara industri. Di Eropa Barat, pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan energi pada periode 1973- 1982 turun lebih dari separuhnya, dan sejak 1982 laju pertumbuhannya 20 persen lebih rendah bila dibandingkan dengan sebelum terjadinya kenaikan harga energi. Konsumsi juga ditekan, antara lain melalui pengembangkan aneka teknologi hemat energi. Mesin-mesin diperkecil agar tidak terlalu haus energi, dan aneka peralatan listrik juga dibuat sedemikian rupa agar bisa irit listrik. Sementara itu mulai muncul dorongan untuk mencari sumber-sumber energi alternatif. Misalnya listrik tidak lagi dibangkitkan dengan generator minyak, melainkan dengan turbin gas yang 50 persen lebih efisien. Namun langkah-langkah ini tidak begitu mudah dilakukan oleh negara-negara berkembang yang karena berbagai keterbatasannya sulit memacu efisiensi pemakaian energi sehingga laju konsumsi energinya relatif masih tinggi, namun tidak dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang sepadan. Negara-negara sosialis juga mengalami kesulitan, karena pada aspek efisiensi itulah terletak kelemahan mereka. Sampai sekarang pun mereka belum dapat mengikuti derap negara-negara maju dalam menghemat energi meskipun hal itu sejak lama menjadi prioritas utama mereka.
Penawaran energi fosil. Di sisi penawaran, muncul temuan yang mengejutkan bahwa persediaan energi dunia sesungguhnya sangat terbatas dan terpusat di sejumlah negara saja. khususnya di kawasan Timur Tengah. Kemandirian dalam bidang energi segera menjadi inti kebijakan sejak 1973. Negara-negara Barat untuk pertama kalinya merasakan pukulan yang sangat hebat dari negara-negara berkembang yang biasanya mereka abaikan. Embargo minyak OPEC sangat efektif dalam memaksakan kehendak politik mereka, disamping melipatgandakan harga bagi keuntungan mereka. Ini menjadi masalah serius, dan ancamannya menjadi terus membayang karena sedikit saja negara, termasuk AS, yang punya cadangan energi sendiri dalam jumlah memadai. Sejak awal 1970-an. hampir semua negara dipaksa mengadakan penghematan, termasuk AS yang sangat kaya dengan sumber daya. Betapa pun, diperlukan investasi yang luar biasa besar untuk menggali sumber-sumber energi di AS tersebut sehingga masih lebih ekonomis baginya untuk membeli minyak dari Timur Tengah. Situasi energi dunia benar-benar berubah drastis sejak adanya embargo minyak OPEC yang melon-jakkan harga. Antara 1970 hingga 1975, harga minyak melambung lima kali lipat. Kenaikan harga terjadi lagi di tahun 1981, meskipun dalam skala lebih kecil. Hikmahnya, ini mendorong banyak negara untuk mengeksplorasi berbagai kawasan terpencil yang masih menyimpan minyak seperti di Laut Utara Eropa. Hal serupa juga diiakukan oleh negara-negara sosialis sehingga secara keseluruhan mengubah pola ekspor-impor energi OPEC dan non-OPEC sejak 1986. Betapa dramatisnya pengaruh OPEC terhadap penyusutan penawaran energi fosil di negara-negara non-komunis. OPEC benar-benar merajai peta energi dunia pada saat itu. Namun kemunculan sumber-sumber baru lambat-laun juga berpengaruh, sehingga sejak 1986 peran OPEC sudah jauh berkurang. Arti penting minyak, batubara dan gas, serta perkembangannya, diperlihatkan pada Peraga 5. Ketersediaan pasokan, preferensi konsumen, dan keamanan terhadap lingkungan, nampaknya akan menjadikan gas alam sebagai sumber energi terbesar dalam beberapa tahun mendatang. Ada satu hal penting yang belum tercakup dalam pembahasan di atas, yakni pasokan energi lokal yang dipenuhi sendiri oleh masyarakat-masyarakat yang pola hidupnya masih subsisten Pemakaian energi per kapita di lingkungan tersebut relatif sangat kecil; sumber ener¬ginya pun sangat terbatas, yakni kayu dan kompos, dan digunakan secara terbatas pula mema¬sak dan memanaskan sesuatu). Namun karena jumlah warga masyarakat itu secara keseluruhan cukup banyak, maka pangsa konsumsi energi mereka ternyata cukup besar, yakni sekitar 20 persen. Angka rinciannya bervariasi, mulai dari nyaris nol di negara industri (yang tidak punya masyarakat terpencil), 15 persen di kawasan Amerika Latin, hingga 90 persen di negara-negara termiskin. Meskipun tampak sepele, hal ini juga menjadi bagian dari masalah energi dunia. Sekiranya pola konsumsi energi mereka bisa diperbaiki, maka mereka akan ikut memberikan kontribusi penting, bersama-sama dengan sektor-sektor modern di negara berkembang maupun negara maju.

PENGERTIAN ENERGI DAN EKONOMI | ok-review | 4.5