PENGERTIAN EMPU

By On Thursday, February 27th, 2014 Categories : Antropologi

Merupakan gelar atiu julukan bagi seorang seniman yang telah mampu membuat mahakarya da­lam pengabdiannya terhadap seni. Ahli tatanegara, sastrawan, ahli karawitan, arsitek, dan pembuat ke­ris yang berprestasi, mendapat gelar resmi sebagai se­orang empu dari kerajaan. Namun di masyarakat, ge­lar empu lebih dikenal sebagai gelar bagi pembuat keris, misalnya Empu Gandring, Empu Supo, Empu Pitrang. Gelar empu juga pernah diberikan kepada almarhum Profesor Purbotjaroko oleh Universitas Nasional pada tahun 1964.
Empu Keris memulai kariernya dari tukang tempa yang membantu pandai keris. Di Pulau Jawa, pem­bantu pandai keris atau empu disebut panjak. Bertahun-tahun ia menempa dan membentuk besi ca­lon keris sehingga ia mahir mengukur panas besi mem­bara hanya dengan mengamati warna pijar dan per- cikan api dari pijar besi. Ia pun kemudian hafal cara menempa yang baik dengan memperhatikan kekuatan pukulan palunya, arah pukulannya, dan bentuk palu yang harus digunakan untuk mendapatkan hasil tem­paan terbaik. Selain itu dengan bekerja sebagai pan­jak, orang dapat mendalami seluk beluk upacara pem­buatan keris serta doa mantranya. Setelah mahir sebagai panjak dan berani menem­pa keris sendiri sejak awal pekerjaan sampai meng­hasilkan keris, biasanya panjak lalu bekerja sendiri sebagai pandai keris. Sebelum mulai bekerja ia harus menyiapkan sebuah besalen, bangunan untuk beng­kel kerja dan peralatannya.
Peralatan Kerja Empu. Selain berbagai macam ben­tuk dan ukuran palu serta landasan besi, seorang empu harus memiliki beberapa peralatan lainnya. Sebuah prapen atau tungku pembakaran dan ububan atau penghembus udara, mutlak harus dimiliki. Kikirnya pun bermacam-macam. Ada yang berbentuk datar pi­pih biasa, ada yang datar cembung, ada yang segi ti­ga, dan ada pula kikir bulat kecil. Empu harus juga memiliki gurinda, beberapa alat penjepit atau catok, dan batu pengasah.
Sebelum mulai bekerja seorang empu harus pula menyiapkan bahan bakunya berupa beberapa jenis be­si tempa, baja, dan bahan pamor. Bahan pamor ini diperoleh dari beberapa jenis besi tertentu, misalnya besi yang berasal dari daerah Luwu, Sulawesi. Selain itu nikel pun dapat digunakan sebagai bahan pamor. Seorang pandai keris yang indah karyanya biasa­nya lalu diminta bekerja untuk keperluan keraton. Se­belum melayani pesanan sang raja, mula-mula ia me­layani para pangeran dan bangsawan keraton lainnya. Jika karyanya dianggap memuaskan, barulah ia me­layani kepentingan raja.
Sebelum melayani pesanan raja pandai keris akan berusaha meningkatkan kemampuan spiritualnya. Pa­da jaman dulu peningkatan itu dicapai dengan berta­pa atau tirakat, kemudian sejak jaman Kerajaan Ma­taram, para ulama keraton membimbingnya dengan pengetahuan agama. Jika sang raja kemudian puas akan hasil kerjanya, pandai keris itu diberi gelar empu.
Empu yang baik biasanya mendapat nama baru, gelar kebangsawanan dan dijamin hidupnya oleh ke­raton. Ada yang diberi gelar pangeran dan diberi se­bidang tanah bebas pajak. Bahkan beberapa di antara­nya dipungut menantu oleh pangeran atau raja. Empu yang mengabdi keraton, kadang-kadang datang dari daerah lain. Misalnya empu-empu Madura banyak yang bekerja di Mataram dan Kartasura. Yang terke­nal di antaranya adalah Empu Brajaguna, yang na­ma aslinya Bjraguna. Ada pula empu-empu asal Ma­taram yang kemudian bekerja untuk keraton Kesul­tanan Palembang.
Empu-empu Terkenal. Buku-buku kuno yang me­muat cerita tentang empu pembuat keris menyebut­kan kisah beberapa empu yang dianggap sebagai ke­turunan dewa, dan membuat pusaka bagi para dewa.
 
Pada jaman Majapahit empu yang terkenal adalah Empu Supa Mandrangi, Empu Jigja, Empu Jakasura, dan Empu Pangeran Sendangsedayu. Pada jaman Pa­jang, yang terkenal Empu Umyang dan Empu Kodok. Pada jaman Mataram dikenal antara lain Empu Ki- nom, Empu Tepas, Empu Mayang, dan Empu Gu­ling. Pada jaman Kartasura yang terkenal adalah Empu Brajaguna. Selain itu dari Madura yang terke­nal adalah Empu Kasa dan Empu Macan, sedangkan dari Tuban antara lain Empu Peneti. Jawa Barat pun memiliki beberapa orang empu terkenal. Pada jaman v Segaluh atau Galuh dan jaman Pajajaran, yang ter­kenal adalah Empu Nyi Sombro, dan Empu Keleng.
Empu Masa Kini. Sekarang ini sudah tak ada lagi pembuat keris yang secara resmi mendapat gelar empu dari keraton. Tetapi para pembuat di daerah Yogyakarta dan Surakarta tetap dianggap sebagai empu oleh masyarakat. Di Yogyakarta, yang terkenal adalah Empu Jeno- harumbrojo yang tinggal di dekat Godean. Tahun 1986 ia melayani pesanan pembuatan keris dari Ke­raton Yogyakarta. Di Surakarta, yang terkenal ada­lah Empu Fauzan Pusposukadgo dan Empu Suparman. Sebenarnya keris buatan empu masa kini sudah cu­kup indah. Tetapi adanya anggapan masyarakat bah­wa keris kuno yang tua lebih ampuh, lebih berharga, membuat para empu masa kini kurang dihargai hasil karyanya. Sekarang harga keris buatan baru yang baik sekitar Rp 450.000, dan karya itu dibuat sekitar satu setengah bulan.

PENGERTIAN EMPU | ok-review | 4.5