PENGERTIAN EMPAT SERANGKAI

By On Thursday, February 27th, 2014 Categories : Antropologi

Istilah yang digunakan un­tuk menunjukkan empat pemimpin nasionalis Indo­nesia yang memegang pucuk pimpinan gerakan Pu­sat Tenaga Rakyat (Putera). Keempat pemimpin bang­sa ini ialah Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan K.H. Mas Mansur. Mereka tokoh pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerde­kaan Indonesia melalui cara kerja sama dengan pe- meriniah pendudukan Jepang.
“Segera setelah Jepang menguasai Kepulauan Indo­nesia, gerakan-gerakan yang memperjuangkan kemer­dekaan Indonesia dimatikan. Setelah larangan meng­adakan rapat (8 Maret 1942), yang disusul larangan terhadap perkumpulan yang ada (20 Maret 1942), dan sebagainya, Jepang berusaha menghidupkan gerakan- gerakan bagi kepentingannya. Untuk itu pemerintah pendudukan melancarkan propaganda besar-besaran yang tujuannya menggerakkan seluruh rakyat Indo­nesia agar membantu Jepang memenangkan perang­nya. Gerakan ini disponsori bagian propaganda ten­tara Jepang (Sendendu), dan kemudian terkenal se­bagai Gerakan Tiga A: Jepang Pemimpin Asia, Je­pang Pelindung Asia, dan Jepang Cahaya Asia. Se­bagai ketua diangkat Mr. Syamsuddin, yang dibantu tokoh-tokoh lain dari Parindra, seperti K. Sutan Pa- niuncak dan Mohammad Saleh.
Gerakan ini tidak berlangsung lama. Pemerintah pendudukan Jepang tidak puas, sehingga membubar­kan gerakan ini dan membentuk gerakan baru dengan menampilkan pemimpin-pemimpin bangsa yang lebih dikenal oleh masyarakat. Dibentuklah Putera (Pusat Tenaga Rakyat), yang diresmikan pada tanggal 9 Ma­ret 1943 dengan Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Ha­djar Dewantara, dan K.H. Mas Mansur sebagai pe­mimpinnya.
Dalam gerakan baru ini, kepentingan Jepang dan kepentingan bangsa Indonesia secara diam-diam sa­ling bersimpangan jalan. Bagi pihak Jepang, Putera diharapkan menjadi wadah penggalang kekuatan rak­yat Indonesia untuk membantu Jepang dalam perang­nya. Sebaliknya, para pemimpin Indonesia berusaha memanfaatkan Putera sebagai tempat menggembleng dan menggelorakan semangat kemerdekaan di kalang­an rakyat. Melalui Putera, Jepang berusaha mem­bangkitkan perasaan anti-Barat. Sebaliknya, pemim­pin-pemimpin bangsa Indonesia mempergunakan ke­sempatan ini untuk menggalang persatuan nasional dan rasa kebangsaan bangsa Indonesia.
Jepang akhirnya melihat bahwa Putera lebih ba­nyak menguntungkan usaha perjuangan kemerdekaan Indonesia daripada kepentingan perangnya. Oleh se­bab itu, Putera kemudian dibubarkan dan digantikan dengan Djawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Rakyat Jawa). Kalau Putera lebih merakyat sifatnya, Djawa Hokokai dengan tegas dinyatakan sebagai organisasi resmi pemerintah pendudukan Jepang. Kepemimpinan Djawa Hokokai tidak lagi diserahkan kepada Empat Serangkai, meskipun Sukarno tetap menjadi ketua­nya. Mohammad Hatta, bersama-sama dengan Su­karno, lebih sibuk dalam Chuo Sangi In. Sementara Ki Hadjar Dewantara, setelah dibubarkannya Pute­ra, diangkat menjadi anggota Naimubu Bunkyokyoku Sanyo (Kantor Urusan Pengajaran dan Pendidikan).

PENGERTIAN EMPAT SERANGKAI | ok-review | 4.5