PENGERTIAN EMPANG

By On Thursday, February 27th, 2014 Categories : Review

Dalam kehidupan orang Betawi (pen­duduk asli Jakarta), ialah kolam air tawar, tempat pembudidayaan ikan. Jenis ikan yang dibudidayakan di empang antara lain ikan mas, ikan gurame, mujair, tawes, atau nilem. Pemeliharaan ikan air tawar di empang merupakan salah satu sumber penghasilan atau bagian aktivitas mata pencaharian hidup orang Betawi. Pembudidayaan ikan di kolam air tawar se­rupa itu juga banyak dilaksanakan oleh orang Sunda (penduduk asli Jawa Barat), dan mereka menyebut­nya balong. Seperti empang pada masyarakat Betawi, balong bagi orang Sunda merupakan salah satu kom­ponen dari keseluruhan aktivitas mata pencaharian, yang terdiri atas, antara lain, bercocok tanam padi di sawah, sayur-sayuran atau palawija di tegalan, pel­bagai tanaman hias di pekarangan rumah, serta me­melihara ternak unggas, sapi, kerbau, atau kambing.
Empang atau balong umumnya dibuat dekat salur­an air atau aliran air permukaan, yang berupa parit- parit atau anak-anak sungai. Pembendungan air di­lakukan dengan membuat bendung dari bambu atau dengan menumpuk rumput-rumputan sebagai penahan air. Ada pula yang secara khusus membuat pintu air beserta saluran airnya.
Sesuai dengan kondisi topografi yang memungkin­kan, ada kolam yang dibuat secara bersusun untuk mengalirkan air dari kolam yang lebih tinggi ke ko­lam yang lebih rendah. Namun sebagian besar pen­duduk Sunda dan Betawi hanya mampu membuat ko­lam dengan membuat lubang untuk menampung air dan meninggikan gundukan tanah sebagai pematang di sekeliling kolam.
Empang semacam inilah yang banyak terdapat di daerah dataran rendah sekitar kota Jakarta, khusus­nya di wilayah selatan. Buangan air kolam ini disa­lurkan ke parit atau saluran air yang mengalir ke sungai-sungai, yang terletak lebih rendah dari per­mukaan air kolam.
Lahan di sekeliling pematang dimanfaatkan untuk menanam tumbuh-tumbuhan seperti pisang, pohon waru, atau talas. Selain itu, penduduk memanfaatkan kolam ini untuk membuang sisa-sisa makanan dan ko­toran manusia. Karena itu, di salah satu sudut atau bagian kolam dapat dilihat adanya bangunan kecil dari kayu, bambu, dan seng dengan atap atau tanpa atap, yang menjadi tempat membuang hajat. Kakus ini di­tancapkan pada dasar kolam dengan menggunakan  tiang dari kayu atau bambu. Sebilah papan kayu atau potongan bambu menghubungkan pematang dengan kakus tersebut.
Sisa makanan atau kotoran manusia dapat merupa­kan salah satu sumber makanan ikan yang dibudidayakan. Sumber makanan lain diperoleh dari kotoran ternak, seperti ayam, yang umumnya dipelihara oleh pen­duduk.
Selain itu, makanan yang lazim pula adaiah bekatul dan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di se­kitar kolam, misalnya daun talas khusus untuk ikan gurame. Bila penduduk bermaksud menjual hasil ikan yang dibudidayakannya dalam jumlah besar, peng­ambilan ikan dilakukan dengan menjala atau dengan mengeringkan kolam, yang disebut bedah empang pada orang Betawi atau bedah balong pada orang Sun­da. Untuk itu, penutup saluran air buangan dibuka, sehingga permukaan air kolam menyusut perlahan- lahan. Setelah air menyusut, dilakukan penangkapan ikan secara beramai-ramai. Beberapa orang dikerah­kan oleh pemilik kolam. Kegiatan gotong royong se­perti ini disebut nyambat. Sebagai balas jasa, orang yang membantu diberi sejumlah ikan untuk disantap bersama-sama. Ikan yang ditangkap dijual kepada tengkulak yang datang, kecuali bila hendak dipergu­nakan untuk keperluan hajatan atau kenduri. Sete­lah bedah empang atau bedah balong selesai, kolam diisi kembali dan bibit ikan baru dimasukkan.
Sekarang, di wilayah pinggiran kota Jakarta ber­kembang usaha “pemancingan ikan” di kolam yang dikelola oleh penduduk setempat. Berbeda dengan ikan empang atau balong biasa, ikan-ikan untuk ko­lam pemancingan ini secara khusus dibeli oleh pemi­liknya dan kemudian ditaburkan di kolam yang dise­diakan dengan tempat khusus untuk berpijak dan du­duk para pemancing. Ikan yang disediakan, antara lain, ikan mas, gurame, atau tawes. Ikan mujair atau nilem umumnya tidak disediakan untuk pemancingan. Transaksi yang terlaksana antara pemilik kolam dan pemancing dapat berlangsung berdasarkan jumlah be­rat ikan yang terpancing (per kilogram), atau lama­nya pemancingan (per setengah hari).
 

PENGERTIAN EMPANG | ok-review | 4.5