PENGERTIAN EKONOMI INSTITUSIONAL

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Ekonomi

Ekonomi institusional adalah studi tentang sistem-sistem sosial yang membatasi penggunaan dan pertukaran sumber daya langka, serta upaya untuk menjelaskan munculnya berbagai bentuk pengaturan institusional yang masing-masing mengandung konsekuensi tersendiri terhadap kinerja ekonomi. Melalui kontrol terhadap akses para aktor ekonomi ke berbagai sumber daya, institusi/ pranata dapat mempengaruhi kinerja ekonomi dengan berbagai cara:
1. Kontrol yang lemah akan mendorong pemborosan dan pemanfaatan sumber daya secara sembrono (contohnya penangkapan ikan secara serampangan).
2. Kontrol yang tertib akan menurunkan niat curang dan memperkecil biaya transaksi yang selanjutnya memacu spesialisasi produksi dan investasi jangka panjang.
3. Pemilahan kontrol sosial mempengaruhi distribusi kekayaan.
4. Kontrol organisasional mempengaruhi pilihan organisasi ekonomi (misalnya, pelarangan struktur perusahaan tertentu akan memaksa para pengusaha memilih struktur lain).
5. Kontrol bisa secara langsung mengatur pemakaian sumber daya ke sektor-sektor yang dianggap paling tepat.
6. Struktur kontrol mempengaruhi pengembangan jangka panjang sistem ekonomi karena struktur itu mempengaruhi nilai relatif investasi dan jenis-jenis proyek yang akan diutamakan.
 
Kontrol sosial terhadap sumber daya mencerminkan struktur kelembagaan di masyarakat yang bersangkutan. Institusi adalah batasan atau kendala ciptaan manusia yang mengontrol dan mengarahkan interaksi antar-manusia melalui aturan-aturan formal (hukum, undang-undang) maupun informal (norma, tradisi). Institusi berada di luar individu, dan keberlakuannya tergantung pada kondisi sosial yang ada. Struktur institusional ini bervariasi menurut waktu dan posisi seseorang yang memandangnya; dalam jangka panjang individu-individu berpotensi mengubahnya. Penguasaan seseorang atas sumber daya tidak hanya bersumber dari kontrol sosial, namun juga kontrol pribadi (dalam memantau dan menegakkan kontrak, transaksi, dan sebagainya). Usaha- usaha pribadi dalam memelihara penguasaan sumber daya inilah yang memunculkan biaya transaksi, yang berhubungan terbalik dengan dukungan dari kontrol sosial. Untuk mencapai tujuannya, pemilik sumber daya melibatkan diri dalam kontrak pembentukan organisasi yang akan mendukung usahanya, namun mereka selalu menghadapi kendala institusional. Sampai 1980-an, analisis ekonomi standar berfokus pada kegiatan pertukaran di pasar-pasar yang mapan, sehingga transaksi-transaksi yang diamati pun tampak selalu ideal dan bebas masalah (bebas dari biaya transaksi, informasi tak sempurna, maupun kendala institusional). Dalam kondisi seperti ini, rumusan matematisnya pun menjadi sederhana, dan aneka model bisa dikembangkan dengan mudah, baik itu model pilihan rasional, model optimisasi, model ekuilibrium dan sebagainya. Situasi mulai berubah ketika kendala institusional dan berbagai masalah lain tidak bisa diabaikan. Para ahli ekonomi institusional sejak lama telah mengingatkan hal itu, karena metode dan analisis ekonomi standar sesungguhnya terlalu menyederhanakan persoalan sehingga tentu saja tidak sesuai dengan kenyataan. Namun kritik mereka tidak ditanggapi sehingga gagal berkembang menjadi program-program riset alternatif yang koheren. Namun pada akhirnya ketidakakuratan model-model standar menyadarkan para ekonom, dan juga ilmuwan sosial pada umumnya, bahwa analisis institusional memang tidak sepatutnya dihindari. Para tokoh yang sejak lama mengingatkan hal itu antara lain adalah Alchian dengan karyanya mengenai hak cipta, Coase dengan tulisannya tentang biaya transaksi, Coleman yang merintis konsep “modal sosial”, North yang membuat tinjauan historis tentang perubahan institusional, serta Williamson yang mengembangkan logika organisasi ekonomi. Upaya-upaya pengembangan teori ekonomi umum yang baku tentang institusi, yang memperoleh momentumnya pada 1980-an, sampai sekarang belum tuntas, meskipun sudah banyak pelajaran-pelajaran penting yang dimunculkannya. Penyempurnaan pendekatan standar dalam ilmu ekonomi telah berhasil dilakukan, bersamaan dengan munculnya ekonomi neo-institusional yang mencoba mencakup berbagai hal penting yang semula tidak termasuk dalam pendekatan konvensional. Modifikasi-modifikasi ini kemudian bahkan diterima sebagai bagian dari aliran utama (mainstream) ilmu ekonomi serta cabang-cabangnya seperti studi organisasi industri dan ekonomi hukum. Ekonomi neo-institusional juga mampu menelaah berbagai elemen lingkungan institusional dan perubahan-perubahannya. Analisis biaya transaksi dan model pilihan rasional kini juga mampu memberi petunjuk penting perihal struktur organisasi politik yang demokratis, misalnya susunan parlemen atau aturan hukum seperti apa yang layak untuk disebut demokratis (Alt dan Shepsle 1990). Sejumlah studi juga menerapkan teori permainan guna mengungkap sifat-sifat dasar, kemunculan dan peluruhan institusi-institusi informal seperti norma dan tradisi, dengan perhatian utama pada kemungkinan berlangsungnya kerja sama ketika pihak ketiga yang berfungsi sebagai pemersatu tidak ada (Hechter dan kawan-kawan 1990). Hanya saja, penerapan ekonomi neo-institusional untuk menelaah institusi-institusi informal masih diragukan. Institusi informal erat kaitannya dengan konsep preferensi (selera) dalam teori ekonomi neo-klasik yang bertumpu pada banyak asumsi untuk membakukan kedudukan preferensi eksogen. Model ekonomi manusia ternyata tidak mampu menjelaskan soal mentalitas dan terciptanya nilai-nilai sosial. Konsep rasionalitas terikat (bounded rationality) adalah upaya awal untuk memodifikasi model pilihan rasional, namun konsep itu sendiri masih diliputi banyak kelemahan. Pergeseran yang lebih radikal, dan ini merupakan perkembangan logis dari revolusi informasi dalam ilmu-ilmu sosial, adalah munculnya upaya merumuskan model-model yang memadukan aspek moral dan fisik. Sebagian elemennya diambil dari biologi evolusioner dan ilmu kognitif. Namun sampai sejauh ini, terobosan dan konsensus yang diinginkan belum kunjung tercapai. Pembahan institusional bisa bersifat sengaja atau tidak sengaja. Biasanya, perubahan-perubahan atas aturan formal bersifat sengaja, sedangkan perubahan atas institusi informal bersifat tidak sengaja karena hal tersebut merupakan dampak dari interaksi sosial. Untuk mencakup semua jenis perubahan ini. diperlukan sebuah teori dua tingkat. Tingkat pertama adalah tingkat individual. Artinya, teori itu harus bisa merangkum proses belajar dan pergeseran mentalitas yang melandasi persepsi individu terhadap lingkungannya. Mungkin temuan-temuan biologi dan ilmu kognitif bisa dipinjam untuk keperluan ini. Pada tingkat kedua, yakni tingkat sosial, teori tersebut harus bisa memperlakukan mentalitas individu sebagai faktor eksogen, dan menetapkan model-model pilihan rasional dan individualisme metodologis guna menganalisis bagaimana aktor-aktor ekonomi memberi respon terhadap berbagai perubahan di lingkungannya, serta bagaimana mereka berreaksi terhadap produk- produk sosial agregat.

PENGERTIAN EKONOMI INSTITUSIONAL | ok-review | 4.5