PENGERTIAN EAST INDIA COMPANY

By On Tuesday, February 25th, 2014 Categories : Antropologi

Disingkat EIC, adalah maskapai perdagangan Inggris yang terutama berda­gang rempah-rempah di Kepulauan Indonesia. Ada perusahaan lain semacam ini yang aktif berdagang di kepulauan sejak pergantian abad ke-16 dan 17, yakni VOC (maskapai perdagangan Belanda) Inggris, ju­ga Belanda, terdorong untuk memperoleh rempah-rempah langsung dari daerah penghasil, sehubungan dengan terjadinya peperangan antara Belanda dan Spanyol. Peperangan ini mengakibatkan terhentinya arus perdagangan rempah-rempah untuk konsumsi Eropa Barat melalui Antwerpen, seperti juga per­dagangan rempah-rempah melalui Suriah, akibat di­kuasainya Selat Gibraltar oleh Spanyol dan Portugal.
Oleh karena itu, Inggris dan Belanda hampir da­lam waktu yang bersamaan mengadakan pelayaran perdagangan untuk memperoleh rempah-rempah ke Kepulauan Indonesia. Pada tahun 1600, Ratu Inggris memberikan izin kepada EIC untuk melakukan per­dagangan rempah-rempah langsung dari daerah peng­hasil rempah-rempah. Pada tahun 1602 armada da­gang EIC telah sampai di Aceh, dan dari sana be­rangkat ke Banten. Di Banten mereka memperoleh izin mendirikan pos perdagangan dari penguasa setempat. Pada tahun 1604, armada dagang EIC yang kedua sampai pula di Ternate, Tidore, Ambon, Banda, daerah-daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia Timur.
Armada dagang VOC (Belanda) pada tahun 1595 berangkat ke Indonesia, dan pada tahun 1596 sam­pai di Banten. Ketika EIC tiba di daerah penghasil rempah-rempah di Kepulauan Indonesia Timur, VOC telah berhasil menanamkan pengaruhnya dalam usaha memperoleh monopoli pembelian rempah-rempah di sana. Bahkan kemudian pada tahun 1610 VOC ber­hasil membangun pos perdagangan di Ambon, dan menjadikan Ambon sebagai pusat perdagangan VOC di kepulauan. Kedatangan armada dagang EIC di dae­rah ini tentu saja menyebabkan timbulnya persaingan keras antara EIC dan VOC. Persaingan antara kedua­nya makin meluas ketika VOC berusaha memperoleh tempat pusat perdagangan baru sebagai pengganti Ambon yang letaknya kurang strategis dalam rute pe­layaran internasional, dan menguasai daerah penghasil rempah-rempah lainnya di kepulauan. Sementara itu, dalam periode tahun 1611-1617 EIC telah berhasil membangun pos-pos perdagangan di berbagai tempat, seperti di Sukadana (barat daya Kalimantan), Ma­kasar, Jayakaria, Jepara, Aceh, Pariaman, dan Jam­bi. Konflik yang makin tajam antara EIC dan VOC dalam usaha menguasai produksi rempah-rempah ti­dak terhindarkan.
Pada tahun 1620 pernah terjadi kerja sama antara EIC dan VOC. Kerja sama ini sebenarnya tidak disu­kai oleh VOC, tetapi situasi diplomatik di Eropa Ba­rat pada waktu itu memaksa VOC untuk mau beker­ja sama. Pada waktu itu, EIC diizinkan mendirikan pos perdagangan di Ambon. Akan tetapi pada tahun 1623 terjadi peristiwa A m boy na Massacre, penyerbuan perdagangan EIC di Ambon oleh VOC dan pem­bunuhan terhadap pejabat-pejabat EIC di sana (lihat juga Amboyna Massacre). Peristiwa ini mengaki­batkan timbulnya keguncangan diplomatik di Eropa, tetapi tidak mengakibatkan pertikaian baru. Setelah peristiwa ini, tidak pernah lagi ada kerja sama antara EIC dan VOC. EIC kemudian lebih banyak memper­hatikan daerah lainnya di Asia, dan sedikit demi se­dikit mengurangi aktivitasnya di kepulauan, kecuali di daerah sekitar Semenanjung Malaka. Pada tahun 1619, Jan Pieterszoon Coen diangkat menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda (1619— 1623). Melalui campur tangan terhadap pertikaian antara Banten dan Jayakarta (vassal Banten), Coen akhirnya berhasil menguasai Jayakarta (lihat juga Batavia). Tempat ini kemudian dijadikan pusat per­dagangan VOC di kepulauan dan namanya diganti menjadi Batavia.

PENGERTIAN EAST INDIA COMPANY | ok-review | 4.5