PENGERTIAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEKAYAAN

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Ekonomi

Ada dua hal yang dipentingkan para ekonom dari istilah distribusi pendapatan: distribusi pendapatan dan faktor (produksi) yang lazim disebut distribusi fungsional pendapatan, dan distribusi pendapatan antar-orang, atau distribusi ukuran pendapatan. Distribusi pendapatan antar-faktor merupakan bagian integral analisis ekonomi tentang harga-harga relatif, output dan penyerapan faktor produksi (employment). Ada beberapa teori yang berbeda cakupan dan ideologinya, meskipun kesemuanya memakai konsep-konsep ekonomi yang sama seperti jenis faktor produksi (tanah, tenaga dan modal), metode pemanfaatan atau penyerapannya, serta penghitungan biayanya (sewa, upah dan bunga). Unsur-unsur ini selalu hadir, termasuk dalam analisis tentang kewirausahaan dan nilai ekonomis waktu (yang melandasi penghitungan biaya atau bunga pinjaman, misalnya). Kalau yang ditelaah adalah pendapatan seseorang. rumah tangga, atau kelompok tertentu dari masyarakat (analisis mikroekonomi), maka unsur tambahan harus disertakan, yakni pendapatan transfer (transfer income), seperti tunjangan dari pemerintah, potongan pajak, dan sebagainya, yang takkan dihitung dalam analisis makroekonomi (yang menghitung perekonomian secara keseluruhan). Dalam perkembangannya, banyak unsur-unsur pendapatan baru yang harus dimasukkan dalam kalkulasi. Pendapatan dari upah, misalnya. Dahulu, pangsanya dalam pendapatan nasional dianggap konstan, namun belakangan disadari bahwa anggapan itu tidak bisa dipertahankan lagi mengingat dalam kenyataannya proporsi pendapatan dari upah terus meningkat. Di Inggris, kontribusinya mencapai tigaperempat dari total pendapatan, sedangkan di AS bahkan mencapai empatperlima. Sedangkan distribusi antar-orang (ini yang disebut distribusi kekayaan) merupakan konsep utama dalam statistik yang penghitungannya melibatkan berbagai metode rumit seperti kurva Lorenz (untuk mengukur pertumbuhan proporsi distribusi pendapatan kumulatif seseorang). Kurva yang menghitung frekuensi distribusi dari setiap kuantitas ini berbentuk melengkung, yang ujungnya kian tinggi kalau jumlah unit dalam suatu kelompok populasi kian sedikit (biasanya adalah kelompok berpenghasilan tertinggi). Dispersi atau penyebaran frekuensi distribusi bisa dihitung dengan berbagai cara, dan hal ini berfungsi sebagai indikator ketimpangan atau merata-tidaknya distribusi ukuran pendapatan atau kekayaan di suatu negara. Ada dua hal menonjol dari distribusi ukuran pendapatan di banyak negara: tajamnya ketimpangan pendapatanAekayaan, dan terus berlanjutnya ketimpangan itu. Sebagai ilustrasi, di AS, seperlima penduduk terkaya di tahun 1947 menguasai 45,5 persen dari total pendapatan perorangan, sedangkan seperlima penduduk termiskin hanya menerima 3,5 persen. Di tahun 1977, pangsanya tidak banyak berubah, yakni 45 dan 4 persen, dengan pengecualian pada tahun-tahun tertentu (Blinder, 1980). Untuk lebih memahami distribusi ukuran pendapatan, kita perlu mengetahui distribusi ukuran kekayaan.
Salah satu kesulitan terbesar dalam analisis distribusi kekayaan di masyarakat mana pun adalah menetapkan definisi dari kekayaan itu sendiri. Ini bukan persoalan semantik atau teoretis, karena secara ekonomis pun istilah kekayaan itu punya banyak arti. Ada “kekayaan yang bisa dipasarkan” (marketable wealth), yakni kekayaan yang nilainya diakui nyaris universal dan mudah dipertukarkan atau diperjual-belikan seperti uang tunai, saham, obligasi, dan aset-aset fisik seperti bangunan, tanah, dan permata, serta “pendapatan di masa mendatang” seperti slip pensiun, polis asuransi, dan sebagainya. Lalu ada pula kekayaan yang tidak bisa dipasarkan seperti gelar akademik, pengalaman bertualang, dan sebagainya. Jadi, kalkulasi distribusi kekayaan sangat peka terhadap asumsi tentang pengertian kekayaan, dan juga pada jenis unit populasi yang dipakai. Metode penghitungan aset juga bervariasi (jangka pendek, jangka panjang, likuid, non likuid, dan seterusnya). Sebagai ilustrasi, 1 persen penduduk terkaya di Inggris di tahun 1976 menguasai 14 persen kekayaan perorangan (jika hak pensiun, dan keseluruhan pendapatan di masa mendatang termasuk warisan turut diperhitungkan, maka mereka menguasai 25 persen dari total kekayaan perorangan); sementara itu 1 persen penduduk penerima gaji terbesar di negara itu menerima 5,5 persen dari total pendapatan berupa gaji (3,5 persen sesudah dipotong pajak). Besarnya penguasaan kekayaan oleh kalangan yang itu-itu saja di Inggris nampaknya lebih dikarenakan warisan, bukan karena akumulasi harta baru (Harbury dan Hitchens, 1979). Yang terakhir, jika kita mengalihkan perhatian dari analisis distribusi ukuran pendapatan per negara ke analisis dunia keseluruhan, maka yang bertambah bukan saja kerumitan perhitungan dan perbandingan, namun juga tingkat dispersinya. Namun secara garis besar bisa dikatakan bahwa ketimpangan kekayaan antar-penduduk di satu negara jauh lebih kecil ketimbang ketimpangan kekayaan antar-negara.

PENGERTIAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEKAYAAN | ok-review | 4.5