PENGERTIAN DINAMIKA KELOMPOK

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Antropologi

Istilah dinamika kelompok muncul dan populer pada 1930-an hingga 1950-an, untuk menyebut studi tentang perubahan-perubahan dalam kehidupan kelompok yang dirintis oleh Kurt Lewin dan rekan-rekannya. Namun secara bertahap istilah ini mengalami pergeseran makna, dan kini kurang-lebih sinonim dengan studi tentang kelompok kecil. Pengertian inilah yang digunakan di sini. Sebuah kelompok kecil terdiri dari tiga atau empat orang, yang satu sama lain berlaku dan memperlakukan sebagai individu tersendiri. Pengelompokan mereka didasarkan pada persepsi bahwa mereka bersatu dalam suatu kelompok kecil sehingga mereka melangsungkan interaksi khusus secara berkesinambungan, dan sering bertindak bersama untuk mencapai tujuan bersama, berdasarkan nilai-nilai bersama. Itulah kriteria minimal bagi sebuah kelompok kecil. Menurut Hare (1976), pada akhir dekade pertama abad 10, baru ada sekitar 20 artikel ilmiah tentang kelompok kecil. Pada 1898, Triplett melaporkan hasil penelitiannya mengenai pengaruh kelompok terhadap individu. Baru enam tahun kemudian muncul artikel penting berikutnya dari Cooley mengenai arti penting kelompok primer, disusul oleh karya Simmel tentang konsekuensi ukuran kelompok; lalu Taylor yang memaparkan teknik-teknik manajemen ilmiah yang didasarkan pada tekanan individu untuk menyesuaikan terhadap norma kelompok yang mengutamakan produktivitas; serta studi Terman tentang pemimpin dan kepemimpinan kelompok. Sejak 1920, barulah jumlah artikel seperti itu bertambah cukup pesat. Periode 1930-an menyaksikan terbitan tiga karya klasik yang didasarkan pada riset, yakni karya Lewin dan kawan-kawan tentang aneka gaya kepemimpinan; hasil riset kelompok pada pabrik Western Electric Company di Hawthorne yang dipopulerkan oleh Mayo; serta laporan-laporan Moreno tentang teknik-teknik sosiometrik yang dirancang untuk memetakan pilihan, preferensi atau pola pengaruh dalam kelompok.
Sejak akhir 1930-an, studi tentang proses-proses dalam kelompok berkembang pesat di AS, sebagai bagian dari kajian tentang pentingnya variasi kelompok demi mempertahankan demokrasi dan mencegah munculnya tirani. Hal ini terus berlanjut hingga 1940-an, 1950-an, dan awal 1960-an. Pada periode itu Bales menciptakan sistem kategori yang rinci mengenai proses interaksi kelompok, kepekaan kelompok dan pengaruhnya, serta serangkaian studi eksperimental laboratorium. Pada 1970-an, minat tentang studi ini khususnya di laboratorium mulai mengendur, meskipun tidak mati. Masih ada serangkaian studi penting tentang kerja sama dan persaingan dalam dan antar-kelompok, kepemimpinan, kohesi atau kekompakan, pengaruh minoritas, polarisasi dan proses pembuatan kepu- tusan dalam kelompok. Ini kontras dengan kian canggihnya metodologi yang digunakan. Awalnya, studi tentang kelompok kecil dimak-sudkan untuk mencari jabawan atas berbagai persoalan di seputar demokrasi; dalam perkembangannya, aspek-aspek internal kelompok lebih diminati. Pergeseran ini tampaknya bertolak dari sikap skeptis bahwa studi tentang dinamika kelompok biasa memunculkan solusi bagi masalah-masalah nyata (Steiner 1974). Akibatnya, kian banyak hal-hal remeh dan tidak relevan dengan masalah praktis yang mengisi agenda risetnya. Para psikolog sosial yang banyak melakukan hal itu. Selanjutnya, yang dipelajari bukan lagi soal-soal keluarga, jaringan persaha¬batan, komunitas tetangga atau kelompok kecil lainnya yang menjadi bagian penting dari masyarakat, melainkan kelompok-kelompok buatan yang terlalu jauh dari realita sehari-hari (misal¬nya kelompok mahasiswa yang mengambil suatu mata kuliah yang sama). Fraser dan Foster (1984) menyebutkan sebagai “kelompok-kelom-pok omong kosong”. Pada 1970-an dan awal 1980-an, studi ini kehilangan banyak peminat. Meskipun demikian, studi kelompok kecil nampaknya kini mulai bangkit kembali. Para psikolog sosial akademik tidak saja mengusahakannya, namun juga merumuskan gagasan-gagasan teoretis baru dalam melacak berbagai topik kunci di laboratorium (misalnya, Turner 1991) dan menyuburkan kembali studi tentang fungsi-fungsi kelompok (Levine dan Moreland 1990) yang ditumpukan pada fakta sehari-hari, termasuk kajian tentang terbentuknya kerumunan (crowding), operasi dukungan sosial dari dan melalui kelompok, serta hubungan-hubungan antar-kelompok (Barron et al 1992). Namun perubahan utama yang perlu dicatat di sini adalah lunturnya dominasi psikologi sosial, jika dibandingkan dengan pengaruhnya pada 1940-an. Studi tentang berbagai kelompok kecil di masyarakat kian banyak dilakukan oleh para periset dari disiplin lain, misalnya peneliti tentang keluarga, organisasi, pekerjaan, dan juga peneliti kepemimpinan. Kita masih harus menunggu untuk melihat apakah perubahan itu terus berlangsung atau tidak untuk memunculkan studi tersendiri tentang dinamika kelompok yang kebanyakan bertumpu pada kelompok-kelompok kecil, serta hubungannya dengan individu dan masyarakat di mana mereka berada.

PENGERTIAN DINAMIKA KELOMPOK | ok-review | 4.5