PENGERTIAN DESAWARNANA

By On Thursday, February 20th, 2014 Categories : Antropologi

Nama lain Nagarakrtagama, karya Prapanca tahun 1287 Saka atau tahun 1365 Masehi yang disebutkan dalam teks itu sendiri pada pupuh 94 Jagaddhita bait 2. Nama Nagarakrtagama baru disebutkan dalam kolofon oleh penyalin berikutnya tahun 1662 Saka atau tahun 1740 Masehi. Dalam pu¬puh 94 Jagaddhita bait 3 disebutkan karya lain Prapanca, yaitu Sakakala, Lambang, Parwasagara, Bhis- masarana, dan Sugataparwawarnana yang tidak terlestarikan sampai jaman sekarang.
Naskah Desawarnana atau Nagarakrtagama yang dapat selamat sampai sekarang hanya sebuah, yakni yang ditemukan di Pura Cakranegara tahun 1894 semasa Perang Lombok. Naskah tersebut diterbitkan pertama kali oleh J. Brandes dan dimuat dalam Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap nomor 54 (1904) dengan edisi diplomatik berhuruf Jawa Kuno cetak. Transliterasi Latin dengan edisi kritik serta terjemahan dalam bahasa Belanda telah dikerjakan oleh H. Kern dan diterbitkan dalam Verspreide Geschriften Kern jilid VII dan VIII (1905-1914), kemudian diterbitkan kembali disertai pembahasan dan catatan dari N.J. Krom (1919). Transliterasi Latin dengan edisi diplomatik dan terjemahan dalam bahasa Inggris yang disertai pembahasan, komentar, catatan, dan daftar kata dilakukan oleh Th. Pigeaud dalam lima jilid dengan judul Java in the 14th Century. A Study in Cultural History (1960-1963). Sarjana peneliti lain yang berminat menggarap kakawin ini adalah Poerbatjaraka (1924), C.C. Berg (1962-1969) dan Slamet-mulyana (1953-1979).
Judul Desawarnana mengandung arti “lukisan tempat-tempat”. Hal itu sesuai dengan isi teks yang menceritakan perjalanan raja Hayamwuruk ke berbagai tempat di wilayah Kerajaan Majapahit seperti yang disaksikan sendiri oleh pengarangnya, Prapanca. Ciri khas kakawin ini terletak pada lukisan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayamwuruk atau Raiasanagara, keluarganya, keratonnya, dan wilayahnya. Pengarangnya hidup pada jaman itu, bertempat tinggal di lingkungan istana, mengalami sendiri hal-hal yang dicetuskan dalam lukisannya, bahkan tidak hanya menulis tentang apa yang dilihatnya tetapi juga tentang dirinya sendiri. Kakawin ini memberikan keterangan langsung mengenai sebagian masyarakat Jawa Kuno pada satu waktu tertentu dan mengenai seorang r a kawi dengan berbagai segi pribadinya.
Kakawin ini diawali dengan manggala yang dewa tertinggi Siwa-Budha. Tujuan penulisan mengangkat Rajasanagara, penguasa terti ggi tikta sebagai inkarnasi dewa yang memelihara kesejahteraan dan mengusir segala bentuk kejahatan. Berikutnya ia menyebutkan nama anggota warga raja, ibu kota negara Majapahit, daerah-daerah dan negara tetangga, serta sifat hubungannya dengan pemerintahan pusat.
Karya ini banyak berisi lukisan perjalanan raja ke berbagai wilayah pada tiap bulan Bhadrawada (Agustus-September), misalnya ke Panjang tahun 1353, ke Lasem tahun 1354, ke pantai selatan tahun 1357, dan ke Lumajang tahun 1359. Perjalanan raja itu diikuti oleh segenap tokoh terkemuka Majapahit, di antaranya Prapanca. Tempat-tempat yang dilewati dilukiskan panjang lebar, seperti Patukangan, Panarukan, Pasuruhan, Sagara, dan Singasari.
Upacara Sraddha untuk memperingati Tribhuwana tahun 1362 diuraikan cukup panjang. Pada waktu raja mengadakan kunjungan ke Simping tahun 1363, tiba-tiba beliau kembali ke istana karena Patih Gajahmada sakit keras. Setelah Gajahmada meninggal, raja menunjuk pejabat-pejabat sebagai pengganti. Disebutkan pula semua tanah milik raja dan biara serta peng-huninya. Bagian terakhir melukiskan pesta di keraton pada tiap bulan Caitra (Maret).

PENGERTIAN DESAWARNANA | ok-review | 4.5