PENGERTIAN DEMOKRATISASI

By On Thursday, October 17th, 2013 Categories : Filsafat

Demokratisasi adalah proses dimana rezim-rezim otoriter beralih menjadi rezim-rezim demokratis. Pengertian ini harus secara analitis dibedakan zzr. proses liberalisasi dan transisi. Liberalisasi hanyalah pelunakan rezim otoriter. Proses itu mencakup penghapusan aspek-aspek otoriterisme: berakhirnya penyiksaan, pembebasan tahanan politik, pengakhiran sensor dan toleransi oposisi. Liberalisasi merupakan langkah awal dari transisi menuju demokrasi baru benar-benar dimulai ketika pemimpin tidak lagi mampu mengendalkan perkembangan-perkembangan politik domestik dan terpaksa melepaskan dominasinya. Pada titik itu barulah terjadi pembentukan berbagai kelompok. asosiasi, pergerakan dan partai yang mengisyaratkan bahwa transisi menuju demokrasi itu telah dimulai.
Sama sekali tidak ada jaminan bah A a sebali transisi dari otoritarianisme itu telah prosesnya akan terus bergulir menuju suatu demokratis. Sekalipun begitu transisi itu dimuia; berarti bahwa tidak mungkin mengembalikan rezim otoriter sebelumnya, pada banyak Kasus transisi politik akan berlangsung lama. tersendat-sendat dan tidak efektif. Pada kasus-kasus lain ciri-ciri utama dari suatu rezim demokrat akan mulai mewujud. Biasanya, partai-partai politik akan timbul kembali sebagai manifestasi dari ingatan-ingatan politik tempo dulu dari negara atau terbentuknya partai-partai baru untuk mewakili kepentingan atau aspirasi dari kelompok- kelompok perlawanan dan oposisi yang telah ada selama pemerintah otoriter masih berkuasa. Kelangsungan dari rezim otoriter sebelumnya akan mempengaruhi kelompok-kelompok kepemimpinan yang berbeda. Jika rezim otoriter ber-tahan selama beberapa dasawarsa, maka bebe-rapa pemimpin politik yang tua dapat tampil kembali memperoleh popularitas dan dukungan politis untuk memainkan suatu peran penting dalam masa transisi dan pemimpin-pemimpin muda yang baru akan segera menggantikan mereka. Jika rezim otoriter bertahan kurang dari satu dekade, hal itu akan memungkinkan pemimpin-pemimpin politis yang disisihkan oleh rezim otoriter untuk kembali muncul guna merestrukturisasi organisasi politik mereka dan berusaha mendapatkan kekuasaan pemerintah. Dengan cara itu masyarakat yang pernah mampat dan terpusat akan memasuki suatu proses reorganisasi dan terciptalah suatu kondisi sosial untuk aktor-aktor politik yang baru. Reorganisasi masyarakat terbukti lebih mudah tenadi pada rezim-rezim otoriter non-komunis. Pada rezim-rezim komunis terdahulu, semua organisasi sosial telah dihancurkan oleh partai komunis. Hanya kelompok-kelompok yang mendukung partai komunis dan unit-unit politik yang didominasi oleh partai saja yang diizinkan untuk terus berfungsi. Sedikit sekali asosiasi perlawanan dan gerakan-gerakan yang ditoleransi dan diizinkan untuk aktif dalam kehidupan politik. Di lain pihak, di negara-negara Eropa selatan dan Amerika Latin, banyak rezim otoriter gagal untuk menghancurkan segala bentuk pluralisme atau keberadaan kelompok-kelompok terorganisir. Lebih dari itu, tingkat pertumbuhan ekonomi mereka, sekalipun terbatas, menciptakan premis- premis dari suatu masyarakat pluralis yang hampir siap untuk menjalani proses demokratisasi. Rezim-rezim komunis otoriter di Eropa Timur jatuh di tengah kekosongan kekuasaan sosial-politis. Hanya di Polandia terdapat suatu gerakan terorganisir kuat yang bernama Solidarnosc ‘Solidaritas), yang dapat mewarisi kekuasaan politik. Jika tidak demikian, forum-forum warga negara dan berbagai organisasi politik payung harus muncul ketika komunis sebelumnya secara perlahan membubarkan diri mereka. Untuk alasan- alasan ini pemilu akan menjadi suatu saluran yang menetapkan suatu distribusi baru dari kekuasaan politik di Eropa timur tanpa membentuk suatu stabilitas bagi rezim demokratis. Menurut ilmuwan politik dari Universitas Harvard. Samuel P. Huntington (1991). sejauh ini ada tiga arus demokratisasi dan dua arus sebalik-nya: arus pertama terjadi selama periode 1828- 1926 dan arus balik pertama berlangsung selama periode 1922-1942. Arus kedua muncul pada 1943-1962 dan arus balik kedua pada 1958-1975. Arus ketiga terjadi mulai 1974 sampai sekarang. Keseluruhan proses dari demokratisasi telah berpindah dari kawasan Anglo-Saxon dan negara-negara Eropa utara ke cekung Eropa Sela-tan dan ke benua Amerika Latin. Saat ini gelombangnya telah mencapai seluruh Eropa Timur dan beberapa negara Asia. Demokratisasi bukan lagi merupakan sebuah fenomena yang bersifat budaya dan, berlawanan dengan periode-periode sebelumnya, ia telah mendapatkan dukungan luas dari animo masyarakat internasional. Sekalipun tidak semua rezim demokratis yang baru bisa stabil secara politis dan secara sosial-ekonomis efektif, mereka nampaknya mencerminkan kemenangan besar dari perjuangan keras dalam melawan aktor-aktor dan mentalitas otoriter. Saat ini hanya gerakan-gerakan Muslim fundamentalis yang memberikan suatu alternatif yang kuat dan dogmatis terhadap upaya-upaya untuk demokratisasi rezim-rezim masa kini.

PENGERTIAN DEMOKRATISASI | ok-review | 4.5