PENGERTIAN DEMOGRAFI DAN PENDUDUK

By On Thursday, October 17th, 2013 Categories : Antropologi

Demografi adalah analisis terhadap berbagai variabel kependudukan. Di dalamnya tercakup aneka metode perhitungan dan hasil substantif dalam riset mengenai angka kematian/mortalitas, angka kelahiran, migrasi, dan jumlah serta komposisi penduduk/populasi. Para ahli demografi mengumpulkan data kependudukan dan segenap komponen perubahannya, serta membangun model-model dinamika populasi. Mereka punya kontribusi penting bagi bidang studi kependudukan yang cakupannya lebih luas, yang mencoba pula mengaitkan perubahan kependudukan dengan aspek-aspek non-demografi seperti faktor- faktor sosial, politik, dan sebagainya. Sampai di situ, demografi pun menjadi sebuah bidang studi interdisipliner yang menggandeng sosiologi, ekonomi, biologi, sejarah, psikologi dan berbagai disiplin ilmu lainnya. Metode-metodenya juga menggunakan statistika dan analisis numerik. Para pejabat dinas kesehatan dan aktuaria turut berperan. Kebanyakan ahli demografi memiliki pengetahuan profesional dalam satu atau lebih disiplin lain. Ada dua jenis variabel kependudukan, yakni variabel stok (stock) yang bersifat statis, dan arus (flow) yang bersifat dinamis. Sumber terpenting informasi variabel-varibel stok adalah sensus-sensus nasional, yang bentuk moderennya mulai berkembang pada abad tujuhbelas di Kanada, Virginia, Swedia, dan beberapa tempat lain, yang kini telah dilangsungkan relatif teratur di hampir semua negara di dunia. Beberapa informasi cross-sectional yang lazim dikumpulkan dalam sensus adalah usia dan jenis kelamin serta distribusinya, status dan jenis mata pencaharian, dan tempat lahir.
Sedangkan sumber data atau variabel-variabel arus yang utama adalah registrasi kelahiran dan kematian (registrasi pertama berlangsung di Swedia dan Inggris), yang kini dilaksanakan secara rutin di semua negara industri. Hanya saja, kelengkapan data-datanya sampai sekarang masih harus diusahakan. Statistik migrasi kini sudah dilakukan oleh setiap negara, namun data yang lengkap juga sulit diperoleh, dan bahkan kehandalannya pun lebih rendah ketimbang data dari registrasi kelahiran dan kematian. Selain itu masih cukup banyak jenis data lain yang dikumpulkan seperti statistik perkiraan angka kelahiran (biasanya melalui survei sampel). Keempat sumber data tersebut (sensus nasional, registrasi vital, catatan migrasi dan survei sampel) berbeda tingkat kesulitannya. Sensus dan survei adalah yang paling mudah. Bobot kelengkapan data sensus kini bisa mencapai 97 persen atau lebih. Hanya saja, skala sensus itu begitu besar sehingga biayanya pun mahal. Banyak dana yang harus disediakan untuk membayar para pencacah (di AS dikerahkan sekitar 100.000 orang, sedangkan RRC bahkan harus mengerahkan 5 juta pencacah dalam sensusnya di tahun 1982). Namun jika dibandingkan dengan registrasi kelahiran, yang membutuhkan penyuluhan berkesinambungan kepada semua penduduk, sensus itu lebih mudah dikelola. AS untuk pertama kalinya memiliki catatan kelahiran yang tingkat kelengkapannya mencapai 90 persen pada perempat pertama abad keduapuluh. Negara-negara miskin dewasa ini belum mampu mencapai tingkat kelengkapan itu, apalagi banyak penduduk mereka yang sama sekali tidak punya akte kelahiran. Catatan migrasi nampaknya tidak akan pernah lengkap sepenuhnya, selama masih ada penyeludup atau pelintas batas tradisional yang tidak pernah melapor ke dinas imigrasi. Di samping itu, begitu banyak migrasi yang bersifat sementara (turis, pekerja musiman). Penduduk AS bahkan merasa tersinggung kalau di pos perbatasan ditanya apakah mereka berniat kembali atau tidak. Karakteristik-karakteristik khusus demografi terletak pada metode-metode kuantitatif dan empirik yang digunakannya. Diperlukan teknik demografi tertentu guna mengolah data yang tersedia demi memunculkan perbandingan-perbandingan yang valid. Angka kematian di Meksiko adalah 6 per seribu penduduk, sedangkan angkanya di Perancis adalah 10. Namun itu tidak bisa langsung ditafsirkan bahwa kondisi kesehatan Meksiko lebih baik. Kenyataannya, angka kematian di Meksiko begitu rendah karena begitu banyak penduduknya yang masih berusia muda. Jadi jelaslah diperlukan teknik tertentu untuk memunculkan perbandingan yang akurat. Dalam rangka memperoleh perbandingan yang akurat mengenai angka kematian. dan juga untuk keperluan bisnis asuransi dan pensiun, dikembangkanlah tabel-tabel kehidupan (life table) yang dimulai di Belanda dan Inggris pada abad delapan belas. Masalah teknik pertama yang harus diatasi para ahli demografi dan aktuaria adalah bagaimana mengolah data statistik kematian dan kependudukan menjadi angka probabilita kematian. Kerana metodenya berbeda-beda, maka sampai sekarang tabel-tabel kehidupan dari setiap negara tidak bisa diperbandingkan begitu saja. Usaha perbaikan kesehatan umum turut memacu perbaikan statistik kematian. Banyak informasi baru yang kemudian diolah dan dikembangkan seperti Daftar Internasional Penyebab Kematian (International List of Causes of Death) yang kini sudah sampai ke edis. Kesembilan. Celakanya, keseragaman penerapan klasifikasi oleh para dokter di seluruh dunia masih menjadi angan-angan. Salah satu tujuan diterbitkannya Daftar itu adalah untuk mendukung penyusunan tabel kehidupan atau informasi tentang perkiraan harapan hidup. Harapan hidup d: AS mencapai 75 tahun. Jika semua kematian dari penyakit kanker bisa dicegah, maka angka itu bertambah 3 tahun. Lantas jika resiko kematian akibat penyakit jantung juga bisa diatasi, maka angkanya bertambah 15 tahun. Meskipun angka kelahiran telah turun, tapi angka pertumbuhan penduduk tidak kunjung konstan. Itu dikarenakan lebih tajamnya penurunan angka kematian ketimbang angka kelahiran Bentuk piramida penduduk pun mulai berubah karena proporsi penduduk usia menengah dan lanjut membesar. Di samping itu, penurunan tajam angka kelahiran tidak bisa langsung dilihat. Sampai beberapa waktu angka kelahiran akan nampak tetap tinggi karena anak-anak yang kini telah dewasa juga mulai punya anak sehingga momentum pertambahan penduduk masih berlanjut sampai 60 persen. Angka kelahiran tidaklah sesensitif angka kematian dalam mempengaruhi perubahan distribusi usia, karena usia subur, yakni usia di antara masa kanak-kanak dan usia lanjut, berporsi konstan dalam total populasi. Negara-negara yang tumbuh cepat mempunyai lebih banyak anak di bawah usia produktif, namun mempu-nyai lebih sedikit warga berusia tua. Kelahiran dipengaruhi oleh banyaknya individu dalam usia produksi; kelahiran di Amerika Serikat telah meningkat dari 3,1 juta di awal 1970-an menjadi 3,6 juta belakangan ini, hal itu disebabkan oleh perubahan dalam distribusi usia sebagaimana halnya yang tercermin dari kelompok-kelompok besar dari jangkauan reproduksi pada tahun 1950-an.
Perintis berbagai model dan metode geografis adalah Alfred J. Lotka. Dalam sejumlah makalah yang ditulisnya selama 1907-1948 ia menunjukkan cara menjawab sejumlah pertanyaan yang hingga kini masih sering dikemukakan. Salah satu yang paling penting di antaranya adalah ‘Seberapa cepat suatu masyarakat berkembang jika ditinjau dari tingkat kematian dan kelahiran berdasarkan kelompok umur tertentu?” Setiap populasi yang pertumbuhannya konstan dalam jangka yang cukup panjang akan memiliki distribusi usia yang stabil. Lotka juga menunjukkan cara perhitungannya, dan pengukuran peningkatannya begitu distribusi itu mencapai tingkat instrinsiknya yang stabil. Setelah sempat terabaikan beberapa lama, karya Lotka mulai diterapkan dan disempurnakan selama tahun 1960-an. Pendekatannya ternyata membantu upaya pengukuran angka kelahiran dan angka kematian di negara-negara yang diketahui distribusi umurnya namun tidak mempunyai data-data yang lengkap. Teknik-teknik analisis kelahiran dan kematian telah digunakan terhadap migrasi, dan juga dalam pengembangan modelnya, khususnya dalam bentuk mata rantai Markov yang menggambarkan gerakan perpindahan atau transisi di antara negara-negara atau wilayah-wilayah yang berdekatan. Teknik-teknik tersebut juga dimanfaatkan dalam perumusan siklus antara hidup dan mati. Rantai Markov ternyata sanggup untuk mewakili di antara orang-orang yang sudah menikah dan masih lajang, di antara mereka yang sudah punya pekerjaan tetap, pengangguran atau yang meninggalkan kelompok kerjanya yang lama untuk mencari pekerjaan lain, dan berbagai kondisi atau status migran lainnya. Sebuah literatur sedang disusun untuk menaksir perubahan keadaan, termasuk migrasi, yang nantikan akan digambarkan oleh sebuah matriks yang hitungannya sangat mudah diselesaikan oleh komputer. Perhitungan mendalam yang pertama dibuat oleh P.H. Leslie pada tahun 1940-an.
Jumlah penduduk di masyarakat-masyarakat yang hidup dalam suasana dan zaman primitif tumbuh perlahan tingkat kelahiran yang tinggi senantiasa diimbangi oleh tingkat kematian yang tinggi pula. Perubahan kondisi suatu masyarakat yang diwarnai oleh angka kelahiran dan angka kematian yang tinggi menuju suatu kondisi di mana angka kelahiran dan angka kematiannya rendah disebut sebagai transisi demografi. Selanjutnya karena angka kematian lebih kecil ketimbang angka kelahiran, maka proses transisi demografi itu biasanya juga ditandai oleh pertumbuhan penduduk yang sangat pesat. Populasi Inggris menjadi empat kali lipat hanya pada periode di antara sensus tahun 1801 dan tahun 1901 (setelah itu barulah Inggris menyelesaikan transisi demografinya). Negara-negara sedang berkembang bahkan tumbuh lebih pesat lagi selama transisi demografinya. Efek dari peningkatan penghasilan terhadap kependudukan ternyata berlawanan dengan pemikiran orang-orang pada umumnya. Ternyata, orang menginginkan lebih banyak anak sebanyak mereka mampu membiayai. Jadi semakin tinggi penghasilan, akan semakin banyak anak yang mereka inginkan. Ini adalah suatu pandangan yang seringkali dihubungkan dengan Malthus, sekalipun tulisan-tulisan Malthus, setelah Essay yang terkenal itu, lebih bagus daripada yang pertama. Nyatanya pada suatu titik tertentu mekanisme penyebabnya akan terbalik: pertambahan pendapatan orang-orang yang sangat miskin akan menyebabkan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat; ketika keadaan secara umum sudah menjadi lebih baik, suatu peningkatan pendapatan yang kecil justru akan memperlamban pertumbuhan populasi mereka. Gelombang modernisasi yang menurunkan angka kelahiran mempengaruhi berbagai subkelompok masyarakat suatu negara pada waktu-waktu yang berbeda. Sebagai akibatnya transisi demografis memperlihatkan dirinya sebagai tingkat kesuburan yang berbeda: kelompok kaya, mereka yang tinggal di perkotaan dan terdidik suatu ketika cenderung mempunyai tingkat kelahiran yang lebih rendah daripada kelompok miskin, pedesaan buta-huruf. Perbedaan yang menyolok terjadi ketika penghasilan meningkat dan distribusi pendapatan menyempit. Beberapa pertanyaan yang paling sulit dijawab berkaitan dengan mekanisme sebab-akibat yang berada di belakang perubahan-perubahan demografi dewasa ini, Sejauh mana turunnya kesuburan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan tingkat penghasilan, belum dapat dijawab secara pasti. Negara-negara berkembang kini telah mencapai tingkat pendapatan yang jauh lebih tinggi daripada negara-negara Eropa ketika mereka berada pada tingkat pembangunan yang sama. Lalu sejauh mana perbedaan angka kelahiran di antara negara-negara miskin masa kini dan di antara negara-negara miskin pada abad ke delapan belas berkaitan dengan angka kematiannya yang lebih rendah? Model-model populasi bisa menyediakan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan itu. Misalnya, mereka bisa menunjukkan bahwa perbedaan angka kelahiran lebih berpengaruh daripada perbedaan angka kematian. Pertanyaan-pertanyaan mengenai arah dalam hubungan kausalitas di antara dua variabel yang jelas saling terkait lebih sulit lagi untuk dijawab. Di negara-negara maju, lebih banyak wanita bekerja di luar rumah pada saat di mana pasangan atau suami mereka mempunyai penghasilan yang lebih tinggi; pada saat yang sama kesuburan kaum wanita telah menurun, sementara sebenarnya pendapatan mereka dan pasangannya memungkinkan mereka untuk mempunyai lebih banyak anak seandainya mereka memang menghendakinya. Apakah turunnya kesuburan diakibatkan oleh pekerjaan, dan apakah kesibukan itu yang menyebabkan mereka tidak ingin mempunyai lebih banyak anak. ataukah mereka sengaja membatasi jumlah anak karena mereka sangat ingin bekerja, atau karena mereka tidak ingin mempunyai lebih banyak anak dan karenanya memutuskan bekerja untuk mengisi waktu luang mereka? Banyak data yang sudah terkumpul, namun teknik analisis untuk menjawab pertanyaan itu masih kabur. Sekali lagi, apakah angka kelahiran yang rendah sekarang ini merupakan indikator bagi suatu gejala sementara, ataukah bagi sesuatu yang permanen? Apakah hal itu diakibatkan oleh adanya niat generasi sekarang untuk membatasi jumlah anak/tanggungan, atau apakah mereka merupakan gejala gabungan dari resesi dunia sejak tahun 1970-an?
Salah satu tugas yang sering dibebankan di pundak para ahli demografi adalah memperkirakan jumlah dan pertumbuhan populasi di masa mendatang. Pernyataan yang mereka utarakan biasanya berupa suatu proyeksi populasi masa depan yang selalu dipengaruhi oleh asumsi-asumsi yang mereka gunakan. Setiap ilmuwan memilih sendiri asumsi yang dianggapnya mendukung dan realistis. Mereka menerima hasil-hasilnya sebagai perkiraan. Perkiraan telah dilakukan dengan banyak cara, mulai dari perkiraan mengenai jumlah populasi melalui pemangkatan, hitungan logistik atau kurva-kurva lain. Yang lebih diterima adalah perkiraan mengenai komponen variabel populasi, yakni angka kelahiran, kematian dan migrasi. Dari situlah, perkiraan populasi disusun. Pengambilan sampel guna mengetahui keinginan kaum wanita untuk memiliki anak telah dicoba secara luas. Para ahli demografi tidak bermimpi untuk memperkirakan kondisi di masa depan dalam jangka panjang secara tepat, namun perhitungan yang dibuat oleh orang-orang yang telah melakukan studi terhadap masa lampau lebih berarti daripada alternatif-alternatif lain yang bersifat rekaan. Lagipula, angka perkiraan jumlah populasi mutlak diperlukan untuk menunjang perencanaan ekonomi, baik yang dilakukan oleh perusahaan atau pemerintah. Salah satu aspek masa depan yang sangat diperhatikan oleh beberapa disiplin ilmu sejak pertengahan 1980-an adalah hubungan atau kaitan di antara memburuknya sumber daya alam atau lingkungan Bumi dengan pertumbuhan populasi. Seberapa jauh berkurangnya hutan, emisi karbondioksida dan gas-gas rumah kaca lainnya yang telah mengakibatkan pemanasan global, penipisan lapisan ozon, serta tenis berkurangnya hasil tangkapan di kawasan perikanan di Eropa barat, ikut mempengaruhi jumlah penduduk di Bumi? Apa sesungguhnya kaitan antara peningkatan populasi dengan ekspansi ekonomi, dan bagaimana pengaruh yang ditimbulkan oleh lingkungan hidup yang kian terancam dan yang perlindungannya tidak memadai? Kenyataan yang ada di permukaan tampak sama bagi orang awam, namun para ilmuwan dari berbagai bidang ilmu menafsirkannya secara berlainan sehingga mereka pun menarik kesimpulan-kesimpulan yang saling berbeda pula. Berbeda dengan disiplin-disiplin ilmu lainnya, biologi bekerja melalui observasi langsung: fakta-faktanya sangat mudah untuk dimengerti, sehingga tidak diperlukan teori canggih untuk mengetahui bahwa hutan telah diinvasi dan dihancurkan demi kepentingan populasi yang terus meningkat dan membutuhkan kayu dan makanan yang semakin banyak, atau bahwa negara-negara Asia yang perekonomiannya masih lemah akan lebih menderita akibat pencemaran air, tanah dan udara jika populasi mereka terus meningkat selaju saat ini, demikian juga dengan Afrika yang boleh jadi telah diharmoniskan pada masa lalu namun kini pertumbuhan tajam populasinya yang dibarengi oleh kemandegan ekonominya akan membawa negara-negara di benua itu ke dalam kekacauan dan kemelaratan. Bagi banyak ahli biologi, pengendalian populasi adalah prioritas utama kemanusiaan. US National Academy of Sciences dan Royal Society of London mengawali pernyataan bersama mereka dengan kata-kata “Jika ramalan terakhir mengenai pertumbuhan populasi terbukti tepat dan pola-pola aktivitas manusia di Bumi tidak berubah, maka ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan mampu mencegah degradasi lingkungan hidup dan atau kemiskinan yang kian parah di muka Bumi”.
Ilmu ekonomi mencerna masalah itu secara lebih rumit. Pertumbuhan populasi memberikan keuntungan yang seimbang dengan kerugian yang nampak. Lebih banyak orang akan lebih banyak pula peluang ekonomis yang tercipta; dengan pasar yang lebih besar akan tercipta lebih banyak kesempatan untuk pembagian kerja dan perkembangan ekonomi. Sekali berhasil kaya, mereka akan bisa menggunakan sebagian kekayaan itu untuk memperbaiki kerusakan lingkungan. Karena itu, para ekonomi lebih menganjurkan usaha meningkatkan kesejahteraan daripada mengendalikan populasi. Kalau biologi dan ekonomi mempunyai penafsiran berbeda mengenai hubungan populasi dengan lingkungan, maka hanya pernyataan-pernyataan yang netral saja yang kemudian dikemukakan agar tidak menimbulkan banyak pertentangan di antara berbagai disiplin ilmu. Jika timbul masalah seperti itu, seharusnya masing-masing pengikut dari berbagai disiplin ilmu tersebut berusaha lebih keras untuk mempelajari secara seksama ciri-ciri dan metode yang mana dari disiplin ilmu yang diyakininya itu yang sekiranya telah membuat mereka mencapai kesimpulan kesimpulan yang saling berbeda, bahkan bertentangan. Semangat untuk melakoni kajian yang lebih mendalam dari setiap disiplin ilmu adalah harapan satu-satunya untuk memecahkan kebuntuan, dan juga merupakan satu-satunya cara untuk untuk memanfaatkan secara maksimal pengetahuan yang bermanfaat dari berbagai disiplin ilmu tersebut.
Kekayaan demografi disokong oleh komitmen dari para perintisnya yang memiliki latar belakang keilmuan yang berbeda-beda. Akutansi mengembangkan banyak teori-teori awal, dan ahli statistik dan bio-statistik menambahkan konsep penting mengenai analisis jumlah dan penentuan kesalahan. Sosiolog memandang perubahan populasi sebagai sebab dan akibat dari perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial maupun sikap; mereka mempelajari peningkatan partisipasi kaum wanita dalam angkatan kerja, kecenderungan dan pertambahan jumlah orang-orang yang bercerai, orang-tua tunggal, berkurangnya kesakralan nilai-nilai perkawinan, dan turunnya tingkat kesuburan pada umumnya. Para ekonom melihat naik atau turunnya kesuburan sebagai upaya manusia untuk memaksimalkan utilitas. Para biolog menggunakan suatu kerangka kerja ekologi yang berhasil mengkaitkan perkembangan populasi manusia dengan populasi tumbuhan dan hewan yang menjadi teman hidup maupun sumber pemuas kebutuhan. Psikolog telah menjadikan survei dan alat-alat penelitian lainnya sedemikian rupa sehingga cocok digunakan untuk mempelajari kecenderungan dan preferensi orang tua terhadap jumlah dan jenis kelamin anak. Para sejarahwan menggunakan banyak data untuk mendapatkan cara-cara pandang yang baru terhadap hal-hal baru yang terjadi terhadap angka kelahiran dan angka kematian selama beberapa abad. Satu sama lain saling melengkapi dan memperkaya demografi.

PENGERTIAN DEMOGRAFI DAN PENDUDUK | ok-review | 4.5