PENGERTIAN DEMOGRAFI SEJARAH

By On Friday, October 25th, 2013 Categories : Sosiologi

Pertumbuhan dan penurunan relatif populasi telah menjadi perhatian mendasar dari teorisi-teorisi politik dan ekonomi modern sejak Machiavelli dan Boisguilbert; aljabar yang rumit mengenai jumlah manusia di Bumi ini telah dimulai sejak abad tujuhbelas. Malthus (1986) dan pengikutnya di abad sembilanbelas telah mengamati bahwa jumlah manusia dikontrol tidak hanya oleh kematian melainkan juga oleh lembaga dan kebiasaan yang membuat angka kelahiran berada di bawah potensi maksimumnya secara biologis, seperti penundaan perkawinan. Pengembangan metode umum dalam menganalisis pengaruh faktor-faktor itu dalam membentuk populasi baru dimulai pada tahun 1950-an, ketika sebuah pendekatan baru muncul, dipelopori ahli demografi Perancis, Louis Henry. Ia merumuskan kaidah-kaidah yang memperlihatkan bagaimana caranya mengkodifikasikan tumpukan data pembaptisan, penguburan, dan perkawinan yang direkam dalam kode-kode parisi sebelum 1800, dengan mendefinisikan tiap individu sebagai anggota dari sebuah keluarga rekonstitut dalam jangka tertentu (Fleury dan Henry 1965). Kendati model Henry menciptakan peluang baru untuk melakukan inovasi teknis dalam demografi, dampak utamanya baru terlihat ketika bidang ini berkembang, yakni untuk memperlihatkan betapa statistik demografi atas suatu masyarakat dapat berfungsi sebagai faktor utama yang membentuk perubahan sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, demografi sejarah memainkan peran interdisipliner yang penting dengan memasukkan konsep dan metode yang dikembangkan oleh para ahli antropologi, geografi, dan sosiologi serta ahli sejarah sosial dan ekonomi. Perkembangan ini mencerminkan pergeseran fokus kesejarahan sebagaimana tersirat dalam pendekatan Henry. Sejarah keluarga yang terperinci sampai sekarang masih disusun pada kalangan elite tertentu, namun menurut Henry, tidaklah mustahil untuk melacak arus kehidupan individu dan keluarga dengan mengambil sampel yang substansial dari suatu komunitas. Pada dasarnya, metode ini membutuhkan pelacakan nama individu dan keluarga secara sistematis dengan catatan parisi (‘kaitan nominal’). Dengan demikian, struktur keluarga tengah berubah karena proses ini berlaku sebagai semacam kerangka untuk memadukan informasi atas nama-nama atau tempat tinggal tertentu yang muncul pada sumber-sumber yang lebih besar: catatan sipil, catatan gereja, dan pengadilan daerah; surat wasiat dan inventori; daftar-daftar sensus; catatan Poor Law, catatan harian dan memoar; dan seterusnya. Setelah diartikulasikan sedemikian rupa, banyak sisi kehidupan masyarakat lokal yang bisa diamati, khususnya cara kerja kontrol sosial, mobilitas sosial dan geografis, saling-keterkaitan antara kondisi kesejahteraan dan kesehatan, dan bekerjanya hak milik pertanahan dan sistem waris. Kendati perkembangannya merupakan hasil penelitian terhadap populasi Eropa, metodologi ini terbukti bisa bekerja untuk sumber-sumber data di lain tempat; khususnya Cina, Jepang dan Amerika. Salah satu jalur data yang amat kaya adalah apa yang disebut oleh Henry sebagai ‘tingkat kesuburan alamiah’, yakni analisis atas sederetan faktor (perkawinan, penyusuan, keguguran, frekuensi rata-rata hubungan, dan lain-lain), yang mengendalikan reproduksi tanpa campur tangan alat kontrasepsi dan strategi-strategi pengendalian kesuburan modern. Studi-studi rekonstitusi telah dikembangkan sehingga ada keragaman pada sistem demografi masa pra-industri. Memang amat sedikit kelompok yang menerapkan kontrol kelahiran namun besarnya keluarga yang ditemukan berkisar antara 2,9 hingga 11,4 kelahiran per wanita. Bersamaan dengan itu, angka kematian bayi berkisar antara 140 hingga 280 per 1.000 kelahiran, dan dalam kasus ekstrim, muncul data kematian 400 per 1000 kelahiran. Angka-angka ini pada gilirannya memberi gambaran bahwa norma di masa lalu adalah keluarga besar, dan masyarakat pedesaan tradisional terjerat dalam perjuangan untuk menjamin keberlangsungan sosial, di mana angka kesuburan yang tinggi sengaja dipacu guna menyaingi tingginya angka kematian. Pembongkaran mitos-mitos umum mengenai sejarah demografi pada gilirannya mendorong peninjauan kembali atas pandangan konvensional mengenai demografi sebagai sebuah variabel dependen dalam teori sosio-ekonomi. Hajnal (1965), misalnya, telah mengidentifikasi suatu sifat pola perkawinan Eropa sejak abad keenam-belas, di mana para wanita rata-rata belum menikah sampai umur 23, dan 15 hingga 20 persennya tetap tidak kawin. Di beberapa tempat seperti Inggris, ukuran keluarga yang relatif kecil meng-akibatkan pola ini mendahului perkembangan ekonomi modern, bukan mengikutinya. Dilihat dari keseluruhannya, perkawinan ini membawa keuntungan ekonomi yang penting; penundaan perkawinan dan rendahnya angka kesuburan merupakan mekanisme yang membantu keluarga untuk mengatasi saat-saat sulit di mana peluang-peluang ekonomi baru jarang didapat; sebaliknya, ‘katup perkawinan’ sifatnya luwes dan terbuka manakala keadaan sudah membaik untuk memungkinkan pernikahan lebih dini dan pulihnya angka pertumbuhan populasi, yang dampaknya menambah sumber daya manusia dan memperluas pasar. Akan tetapi, dilihat dari sudut lokal, dengan bantuan catatan terkait, jelas terlihat bahwa tempo pernikahan memiliki keuntungan strategis berkenaan dengan faktor-faktor yang jauh lebih luas daripada kondisi agregat ekonomi saja. Dalam komunitasnya sendiri pun, perbedaan kelompok pekerjaan, kelas, etnis, dan agama bisa menimbulkan perbedaan pola reproduksi serta komposisi dan jumlah anggota keluarga, yang mencerminkan saling-keterkaitan antara angka kematian dan angka kesuburan alamiah dengan nilai-nilai dan pranata-pranata lokal. Penemuan ini bergema dalam penelitian mengenai fase sejarah populasi yang lebih mutakhir, yang dikenal sebagai transisi demografi. Coale dan Watkins (1986), dalam menganalisis data sensus Eropa yang berbasis propinsi, memperlihatkan bahwa pengurangan ukuran keluarga pada akhir abad sembilanbelas dan duapuluh tidak bisa ditempatkan secara memadai dalam korelasi-korelasi sosio-ekonomi makro. Akhirnya perhatian tercurah untuk mengamati seberapa luas pergeseran-pergeseran dalam perkawinan dan reproduksi merupakan ungkapan dari kekacauan institusional dan kultural yang bekerja pada level-level sub-nasional. Dalam membuka perspektif-persektif baru dan memperluas kumpulan data, mau tidak mau akan timbul masalah teknis pada demografi sejarah. Kesulitan terbesar agaknya muncul ketika analisis ditingkatkan dari level lokal ke level yang menyeluruh. Penghitungan angka-angka demografi konvensional membutuhkan catatan terjadinya kelahiran, kematian, dan perkawinan serta data populasi secara keseluruhan dengan faktor resiko yang memadai. Rekonstitusi keluarga, dalam memasok data yang belakangan ini, membutuhkan banyak pengecekan atas konsistensi data secara internal. Tapi secara umum ia tidak memasok angka-angka tersebut karena keterbatasan- keterbatasan pada catatan parisi di hampir semua negara. Sumber-sumber itu cenderung memberi gambaran yang amat parsial mengenai para imigran.
Mereka tidak menyertakan anggota-anggota kelompok keagamaan dan etnis yang penting. Di berbagai tempat, banyak catatan-catatan yang telah hilang karena tidak dijaga dengan baik, khususnya mengenai populasi masyarakat perkotaan yang sebenarnya sangat penting. Dengan demikian, jika dilihat dari perspektif regional atau nasional, penyebaran catatan-catatan yang dapat dipercaya itu jauh dari seragam, sehingga perlu diseleksi dan diatur lagi. Pelopor upaya semacam ini adalah Wrigley dan Schofield (1981), yang memperlihatkan betapa teknik-teknik demografi konvensional yang dipakai untuk meramalkan struktur populasi masa depan bisa dimodifikasi untuk menghasilkan struktur dan ukuran populasi pada tahap-tahap awal sejarah. Segenap keterbatasan serta kemungkinan generalisasi dalam pendekatan ini menjadi fokus sebagian besar pembahasan di bidang ini.

PENGERTIAN DEMOGRAFI SEJARAH | ok-review | 4.5