PENGERTIAN DARSANA

By On Tuesday, February 18th, 2014 Categories : Antropologi

Dalam agama Hindu, berarti filsafat. Dalam agama Hindu terdapat enam aliran falsafah, Shad-darsana. Keenam aliran falsafah ini dimulai dengan ex nihilo nihil fit dan mempunyai satu tujuan, yaitu mencapai emansipasi jiwa dari eksistensi kini dan kelahiran yang akan datang (inkarnasi), serta menyatu atau menunggalnya jiwa ini dengan Jiwa Alam Semesta, Jiwa Universal. Keenam aliran falsafah tersebut adalah:
1. Nyaya, yang dipelopori oleh Gautama, berarti tepat. Aliran falsafah ini mencari kebenaran berdasarkan analisis dengan menggunakan metode dan logika yang tepat. Karenanya, falsafah ini disebut juga “Falsafah Logika” dengan aspek-aspek pancaindera yang membuktikan kebenaran yang kukuh. Selain itu orang menyebutnya juga falsafah eksoterik.
2. Waisesika (Vaiseshika), yang dipelopori oleh Kanada pada jaman Gautama. Aliran ini disebut pelengkap aliran Nyaya dan keduanya sering diklasifikasikan bersama-sama. Waisesika disebut juga “Aliran Atom” yang merumuskan bahwa dunia ini bersifat sementara dengan eksistensi sesaat yang terdiri atas kumpulan atom kekal abadi. Baik Nyaya maupun Waisesika mengakui adanya “Makhluk Agung, Mahakuasa”.
3. Sankya (Sankhya), yang dipelopori oleh Kapila. Buku falsafahnya, Sankya Karika, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan untuk Bibliotheca Indica. Falsafah Sankya didasarkan atas hitungan angka atau gejala diskriminatif. Aliran ini digolongkan sebagai atheistikal.
4. Yoga, yang dipelopori oleh Patanjali dan dari namanya falsafah sering juga disebut falsafah Patanjala. Aliran Yoga ini menggunakan metode aliran Sankya, bahkan mengikuti banyak dogmanya. Tetapi jika Sankya adalah ateistik, maka Yoga adalah theistik. Baik Sankya maupun Yoga sering diklasifikasikan bersama-sama. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa falsafah Yoga tidak hanya mengakui eksistensi jiwa pribadi saja melainkan juga Jiwa Yang Meliputi Segalanya. Jiwa atau Roh Yang Meliputi Segalanya ini mempengaruhi jiwa-jiwa pribadi seluruhnya tetapi sebaliknya Dia bebas dari pengaruh jiwa yang mana pun.
5. Purwa Mimansa (Piir va Mimansa), yang dipelopori oleh Jaimini, secara umum disebut Mimansa.
6. Utara Mimansa (Uttara Mimansa) dipelopori oleh Wyasa (Vyasa). Purwa Mimansa dan Utara Mimansa dapat juga dinamakan Mimansa Lama dan Mimansa Baru, dan secara umum keduanya disebut falsafah Wedanta (Vedanta). Dalam perkembangan selanjutnya, yang dimaksud dengan Wedanta adalah Utara Mimansa, yaitu falsafah yang mengungkapkan “tujuan Kitab Suci Weda”. Kedua aliran ini mempunyai tujuan untuk memberi interpretasi yang benar tentang Kitab Suci Weda, baik bagian renungan maupun bagian praktis. Doktrin utama falsafah Wedanta adalah “Tuhan Mahakuasa, ada di mana-mana, sebab musabab eksistensi, kelangsungan serta kiamatnya alam semesta ini; penciptaan merupakan kehendak-Nya; Dia adalah Akibat dan Sebab alam semesta ini dan pada hari kiamat semuanya kembali kepada-Nya; Dia adalah satu-satunya Eksistensi dan merupakan Jiwa Alam Semesta; Dia tidak ada duanya, Adwaita, Tunggal Kekal Abadi”. Sankaracharya adalah pelopor terbesar falsafah Wedanta. Jika falsafah Nyaya disebut eksoterik, maka falsafah Wedanta disebut esoterik.
Para ahli memperkirakan jaman munculnya aliran falsafah tersebut sekitar abad ke-5 SM. Perkiraan ini ditelusuri dari penelitian falsafah Wedanta yang diperkirakan merupakan falsafah terakhir. Bila asumsi ini benar dapat disimpulkan bahwa perkembangan aliran falsafah Hindu ini paling sedikit muncul di abad ke-4 SM pada jaman Sidharta Gautama, Sang Budha.

PENGERTIAN DARSANA | ok-review | 4.5