PENGERTIAN DARMO KONDO

By On Tuesday, February 18th, 2014 Categories : Antropologi

Dianggap surat kabar utama di Pulau Jawa, sebelum Sarekat Islam pada tahun 1913 di Surabaya mendirikan Oetoesan Hindia, yang isinya lebih hidup dan sangat condong ke kiri. Darmo Kondo didirikan di Surakarta pada tahun 1908 oleh pemilik perusahaan percetakan bernama Tah Tjoe Kwan. Kalangan pembacanya luas, tetapi pendiriannya tenang dan kurang peka terhadap “tanda-tanda jaman.”
Surat kabar ini kemudian dibeli oleh Budi Utomo cabang Surakarta pada tahun 1910. Darmo Kondo beredar setiap hari dalam dua bahasa secara bergantian. Bahasa Melayu digunakan dalam edisi hari Senin, Rabu, dan Jumat, sedangkan bahasa Jawa pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Hirlan Soetadi Reksotanoe bertindak sebagai pemimpin redaksi. Redaksi pelaksana edisi bahasa Melayu dipimpin oleh Soedarjo Tjokrosisworo (terkenal dengan singkatan S.Tj.S.) sampai tahun 1928, sebelum ia pindah ke Jakarta untuk memimpin penerbitan Budi Utomo lainnya bagi kaum tani, majalah bulanan Adil Polomarto. Redaksi pelaksana edisi bahasa Jawa dipimpin Soeradi Sastrokarjono, yang kemudian dikenal dengan nama Den Djuru.
Setelah Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) bergabung menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) pada akhir tahun 1935, kedua edisi Darmo Kondo diubah namanya. Edisi bahasa Melayu menjadi Pewarta Oemoem dan dipimpin Soehari Koesoemodirdjo yang dibantu oleh Sadoro Dibjowirojo. Edisi bahasa Jawa menjadi Poestaka W arti dan dipimpin oleh Soeradi Sastrokarjono bersama Saronto koesoemodirdjo. Kedua surat kabar ini berhenti terbit pada tahun 1942.

PENGERTIAN DARMO KONDO | ok-review | 4.5