PENGERTIAN DAN TAFSIR MIMPI

By On Friday, October 18th, 2013 Categories : Psikologi

Terlepas dari kemampuannya untuk menyenangkan, menakut-nakuti, atau menghibur kita, tafsir mimpi masih merupakan bagian dari perilaku manusia yang sangat sedikit dipahami, dan bahkan seringkah diabaikan dalam berbagai kajian kognisi. Ketika metode-metode introspeksi tergusur oleh metode-metode obyektif tentang kesadaran diri pada periode perkembangan ilmu- ilmu sosial di tahun 1930-an dan 1940-an, studi tentang mimpi terpental dari kepustakaan ilmu sosial dunia. Terlepas dari itu, sepanjang sejarah perkembangan kajiannya, mimpi tidak diobservasi secara langsung oleh para peneliti, dan bahkan ada anggapan umum bahwa mimpi bukan merupakan sesuatu yang patut dipersoalkan secara ilmiah. Padahal, tafsir mimpi memainkan peran penting dalam ketahanan fisik dan mental seseorang. Mimpi punya arti penting yang lebih besar ketimbang disadari pada orang-orang umumnya, meskipun dalam prakteknya banyak orang segera melupakan mimpi-mimpinya dan tidak mempersoalkannya lebih jauh (Freud 1955,[1900]). Dari situlah muncul kesan bahwa mimpi berada di luar cakupan ilmu pengetahuan.
Terungkapnya latar belakang tafsir mimpi, yakni pada kondisi elektrifisiologis tertentu di saat kita tidur yang ditandai dengan gerakan mata secara liar di bawah kelopak (REM, rapid eye movementi maka mulai saat itu ada kriteria obyektif yang diketahui tentang munculnya mimpi. Ketika periode REM berlangsung, mimpi itu mulai mendatangi orang yang bersangkutan. Eratnya korelasi antara periode REM dengan munculnya pengalaman mimpi merupakan penemuan penting pertama dalam serangkaian penelitian rintisan tentang mimpi. Dari riset itu juga diketahui bahwa mimpi biasanya berlangsung antara 60 hingga 90 menit. Periode REM yang senantiasa mengiringi terjadinya mimpi bisa terjadi dalam beberapa tahapan atau episode berurutan, di mana episode pertama berlangsung sekitar 10 hingga 12 menit, sedangkan yang kedua dan ketiga berlangsung sekitar 15 hingga 20 menit. REM yang mengiringi mimpi di penghujung malam biasanya lebih lama, yakni sekitar 45 menit. Dalam laporan-laporan para responden, terungkap bahwa 50 persen mimpi berkaitan dengan pengalaman nyata, dan itu biasanya terjadi di akhir periode REM yang pertama. Pola-pola ini terungkap pada 99 persen laporan responden. Semakin awal seseorang berangkat tidur, semakin realistis tafsif mimpi yang dialaminya. Studi-studi tentang mimpi yang bertumpu pada analisis kandungan sistematis mencoba membandingkan kondisi mimpi secara alamiah (di rumah) dengan mimpi di laboratorium (oleh responden). Ternyata ada perbedaan di antara keduanya, namun belakangan terungkap bahwa hal itu semata-mata dikarenakan rasa asing si responden terhadap situasi dalam laboratorium. Ada pola-pola tertentu dari mimpi kaum pria dan wanita, tua dan muda, kaya dan miskin dan pola-pola yang bervariasi juga dapat ditemukan pada mimpi dari setiap kelompok etnik yang bermukim di wilayah geografis yang sama. Ini tampaknya mencerminkan variasi pengalaman masing-masing individu tersebut yang tentu saja berbeda satu sama lain. Jadi jelaslah bahwa mimpi punya kaitan dengan pengalaman nyata orang yang bersangkutan. Masalah tentang keunikan data dan fungsi mimpi bisa dijawab dari informasi yang terkumpul oleh riset-riset di atas. Studi yang meminta responden melaporkan mimpinya di rumah ternyata menghasilkan laporan yang lebih bervariasi. Fungsi dasar dari mimpi masih menjadi bahan perdebatan selama pertengahan 1950-an. Tinjauan tentang episode REM yang dilakukan oleh masing-masing peneliti ternyata membuahkan kesimpulan yang saling berbeda, sehingga belum ada kesimpulan yang pasti mengenai fungsi dan periodisasi mimpi tersebut. Perbedaan yang pasti antara mimpi dengan halusinasi tak sadar pun belum bisa dipastikan. Ada kemungkinan ketidakjelasan itu dikarenakan studi-studi tersebut tidak cukup lama dilakukan. Ada sebagian penelitian yang mengandalkan kesimpulannya pada data-data dan kurun waktu yang terbatas. Kondisi di laboratorium ternyata juga ikut memberi pengaruh manipulatif (Cartwright dan Kaszniak 1978). Sampai sejauh ini hampir semua model teoritis tentang fungsi mimpi belum diuji. Proses psikologis yang dialami oleh responden selama berlangsungnya mimpi juga masih terabaikan. Hughlings Jackson (1932) menyatakan bahwa tidur dapat melenyapkan ingatan yang tidak diperlukan atau tidak diinginkan dari pengalaman yang dialami oleh orang yang bersangkutan selama satu hari penuh sebelum ia tidur. Pendapat ini disempurnakan oleh Crick dan Mitchison (1983) yang menyatakan bahwa mimpi bisa pula berfungsi sebagai proses belajar atau pengingatan atas hal-hal penting yang dialami pada masa sebelumnya. Namun HennevindanLeconte (1971) berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan bahwa mimpi berfungsi menghimpun informasi. Ilmuwan lain lebih mengfokuskan perhatian pada fungsi afektif mimpi. Sebagai contoh, Greenberg dan Pearlman (1974) dan Dewan (1970) menyatakan bahwa selama mimpi, seseorang melakukan pemograman ulang atas pengalaman emosionalnya, dan mengintegrasikan pengalaman-pengalaman baru serta memperbaiki program yang sudah ada. Kajian psikoanalitis modern ini merupakan adaptasi dari konsepsi Freud tentang mimpi yang dinyatakannya sebagai cara aman untuk membangkitkan informasi dalam alam bawah sadar. Terlepas dari proses masalah psikologis apa yang berlangsung dalam mimpi, studi-studi tentang kandungan atau isi mimpi sampai pada kesimpulan bahwa sebagian besar isi mimpi tidaklah nyata. Terlepas dari masalah-masalah metodologis dalam studi-studi itu, praktek studi tentang mimpi dewasa ini semakin baik. Salah satu kemajuan yang telah dicapai adalah terumuskannya metode pengumpulan data longitudinal mimpi, baik itu yang berlangsung di rumah maupun di laboratorium. Contohnya adalah studi tentang mimpi anak-anak yang dilakukan oleh Foulkes 1952; Kemajuan berikutnya adalah tercintanya sistem analisis kandungan mimpi yang relatif baku atau standar (Foulkes. 1978; dan skala peringkatnya (Winget dan Kramer. 1979). Berikutnya, muncul pula disain yang mampu memadukan berbagai keunggulan metode studi laboratorium dengan studi yang meminta responden melaporkan mimpinya di rumah. Sebagai contoh. Cartwright (1991) menunjukkan bahwa panduan data-data mimpi dari berbagai metode dapat mengungkapkan unsur-unsur gangguan emosional yang dialami oleh responden. Studi tentang mimpi kini tidak lagi sekedar bersifat deskriptif. Namun kesimpulan yang pasti masih belum dapat diperoleh karena banyaknya kegiatan mental yang terlibat dalam mimpi. Banyak pula pandangan tentang fungsi mimpi yang saling bertentangan. Bagaimana sebuah mimpi terkemas dalam suatu format dramatis tanpa adanya niat dari orang yang mengalaminya9 Bagaimana persepsi-persepsi baru terbentuk dan mengekspresikan segenap memori lama secara ringkas? Bagaimana mimpi bisa berpengaruh meskipun faktanya sendiri telah dilupakan oleh orang yang bersangkutan? Apa hubungan dari proses mimpi itu dengan proses berfungsinya pikiran manusia? Pertanyaan-pertanyaan ini baru merupakan sebagian kecil dari berbagai pertanyaan tentang mimpi yang belum terjawab. Singkatnya, mimpi adalah suatu subjek studi yang sangat menantang dan patut diberi respon yang lebih baik.

PENGERTIAN DAN TAFSIR MIMPI | ok-review | 4.5