PENGERTIAN CEPUNG

By On Friday, November 22nd, 2013 Categories : Antropologi

CEPUNG suatu jenis musik vokal tradisional Lombok, Nusa Tenggara Barat. Alat musik pengiringinya sedikit, kadang-kadang hanya redep (rebana) dan suling, atau kecepung yang terdiri atas sebuah pereret (alat tiup berlidah dua) dan suling yang dibunyikan secara bergantian. Selanjutnya digunakan mulut sebagai pengganti gong, gendang, kenceng, dan rincik. Pembawa bunyi dengan mulut sekaligus bertindak sebagai pembawa syair/pantun secara bergantian atau bersahutan. Jumlah pemain biasanya enam orang. Satu orang berperan sebagai pembaca lontar cerita Monyeh yang menjadi sumber cerita dan syair atau pantun cepung. Musik cepung ini berasal dari perkembangan pepaosan, yaitu pembacaan cerita dalam lontar clan tembang. Sumber pepaosan adalah cerita klasik Monyeh van o terkenal di Lombok. Cerita ini dikarang dalam bentuk seloka (pantun) berbahasa Sasak oleh Jero Mhran tahun Saka 1859, dan seluruhnya terdiri atas (bait. Pantun dan syair dibawakan dengan tembang Sinom, Semarandana, Kumambang, Durma, Dang-dang, dan Pangkur.
Karena fungsinya hanya sebagai hiburan, cepung dapat dipergelarkan di panggung atau arena, tanpa menggunakan dekor, hiasan, kostum maupun tata rias wajah. Pagelaran biasanya dilaksanakan semalam suntuk, tetapi dapat dipersingkat menjadi 1 atau 2 jam, dalam suasana santai seperti selamatan.
Pembawaan cepung diawali dengan pembacaan cerita Monyeh dengan tembang, disusul alat musik pengiring yang membawakan lagu sebagai pembukaan vokal. Lalu menyusul dengan nyanyian vokal sampai satu gending yang berarti satu babak permainan. Panjang pendek babak tergantung banyaknya syair atau pantun yang dinyanyikan. Sampai sekarang, masih terdapat beberapa perkumpulan cepung dengan berbagai variasi; ada yang terdiri atas empat orang penyanyi dan penari, ada yang diperankan satu orang saja sedang lainnya hanya mengiringi sebagai pemain musik.

PENGERTIAN CEPUNG | ok-review | 4.5