PENGERTIAN CATUR PARAMITA

By On Saturday, November 16th, 2013 Categories : Antropologi

CATUR PARAMITA kumpulan empat paramita menurut klasifikasi kitab Sanghyang Kamahayanikan berbahasa Kawi. Keempat paramita itu adalah upaya membahagiakan semua makhluk (metri), menghapuskan penderitaan semua makhluk (karuna), membahagiakan batin karena melihat kebahagiaan sesama makhluk (mudita), dan membentuk batin yang tak memikirkan keuntungan (upeksa). Menurut kitab ini, caturparamita adalah tambahan sadparamita sehingga terbentuk dasaparamita. Dalam literatur agama Budha, keempat paramita ini awalnya dikenal sebagai empat status batin dalam keadaan luhur (brahmavihara) dan berguna dalam pengolahan batin. Belakangan konsep ini berkembang atau terserap ke dalam konsep kesempurnaan (parami atau paramita) dan menjadi lebih populer terutama di kalangan Mahayana. Akibatnya, karena perubahan ini terjadi setelah terpengaruh paham Mahayana, pengembangan brahmavihara ke konsep parami ini biasanya bukan pengalihan secara mentah sehingga mungkin saja karuna dan mudita tidak terdapat dalam konsep parami Theravada. Tetapi, dalam Sanghyang Kamahayanikan asli Indonesia, terdapat kekhasan yang tidak terdapat pada naskah agama Budha berbahasa Pali atau Sanskerta. Pertama, keempat status batin ini dirujuk sebagai caturparamita dan bukan brahmavihara. Kedua, kitab itu menjadi bagian dasaparamita, sebagai empat paramita yang biasa ditambahkan pada enam paramita (sadparamita), bukan dasaparamita, dalam naskah Sanskerta atau Pali.

PENGERTIAN CATUR PARAMITA | ok-review | 4.5