MENGHINDARI GIGITAN CAPLAK PENGHISAP DARAH

By On Friday, November 15th, 2013 Categories : Kesehatan

CAPLAK suatu kelompok binatang sejenis labah yang mengisap darahi Tubuhnya berkulit kitin tebal, keras, dan alot. Bagian kepala, dada, dan perutnya menyatu. Tubuhnya tipis dengan bentuk agak yang menyempit ke depan. Jika sudah ke-rang, caplak membulat sebesar kacang atau biji jarak Larvanya berkaki tiga pasang, sedang nimfa dan caplak dewasa berkaki empat pasang. Moncongnya dilengkapi dengan alat penusuk mirip gada atau tombak dengan deretan gigi yang mengarah ke belakang seperti parut untuk mengisap darah. Alat penusuk ini diapit oleh sepasang alat peraba. Pernapasannya melalui corong hawa atau trakea. Permukaan luarnya disebut spirakel dan terletak di sebelah belakang pangkal kaki ketiga pada larvanya atau pangkal kaki keempat pada nimfa dan caplak dewasanya. Makanannya berupa darah, karena itu caplak dikenal sebagai ektoparasit pada reptil, burung, dan mamalia termasuk manusia.
Caplak dikenal sebagai parasit dan vektor yang tahan lapar. Keberadaannya pada hewan piaraan perlu dicegah karena dapat membuat hewan itu menjadi gelisah, kurus, berkurang daya tahan tubuhnya, dan kulitnya rusak. Pemberantasan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan bedak anti caplak, atau memandikan hewan yang diserang caplak dengan air yang dicampuri obat anti caplak. Pengambilan caplak satu per satu dari tubuh hewan piaraan sebaiknya tidak dilakukan dengan paksa, karena cara itu akan menyebabkan perdarahan dan luka pada bekas gigitannya. Untuk pengambilan caplak satu per satu dapat diberikan obat-obatan yang melemahkan gigitan terlebih dulu. Mematikan caplak betina dengan cara memencet hanya akan menyebarkan telur yang ada di dalam perut. Peri kehidupan caplak terdiri atas dua masa, yaitu masa parasitik ketika caplak sedang menempel dan mengisap darah inangnya dan masa nonparasitik ketika caplak hidup di alam bebas. Caplak dibagi atas dua suku, yaitu caplak keras atau sengkenit dan caplak lunak atau argas.
Caplak Keras berkulit khitin lebih tebal dan keras. Moncongnya terietak di bagian depan badannya dan bentuknya beraneka ragam menurut jenisnya. Kulit tebal larva, nimfa, dan caplak dewasa menutupi sebagian depan punggung dan disebut perisai atau skutum. Pada caplak jantan, perisai ini menutupi seluruh permukaan atas badannya. Larva dan nimfanya tidak bisa dibedakan jenis kelaminnya dan belum memiliki lubang kelamin. Pada caplak dewasa, lubang kelamin terletak di sebelah belakang pangkal moncongnya. Pertumbuhan caplak mulai dari telur, larva, nimfa, sampai menjadi dewasa memerlukan waktu dua bulan, apabila langsung menemukan inang. Pada setiap masa pertumbuhan, caplak hanya mengisap darah satu kali. Jadi, seumur hidupnya, hewan ini hanya makan tiga kali.
Berdasarkan perilaku caplak terhadap inangnya, caplak keras dibagi atas tiga kelompok, yaitu kelompok berinang tunggal, berinang dua, dan berinang tiga. Pada jenis caplak keras berinang tunggal, larva, nimfa, dan caplak dewasanya dapat ditemukan pada satu inang. Pada yang berinang dua, larva dan nimfanya ditemukan pada satu inang dan caplak dewasanya ditemukan pada inang jenis lain. Perilaku makan caplak keras berinang tiga sebagai berikut. Setelah menjumpai inangnya, caplak menempel dan mengisap darah inang sampai kenyang selama 2—22 hari. Setelah kenyang, caplak melepaskan diri dan jatuh ke tanah. Lalu caplak mencari tempat persembunyian untuk bertukar kulit menuju masa pertumbuhan selanjutnya, yaitu larva menjadi nimfa, nimfa menjadi caplak dewasa, sedangkan caplak betina akan bertelur. Di alam, caplak kenyang ditemukan pada celah kayu, kulit kayu, kayu lapuk, tanah, lantai, dan dinding kandang. Caplak yang baru menetas atau bertukar kulit ditemukan pada permukaan bawah helaian ujung dedaunan semak, rerumputan, alang-alang, dan sekitar tempat kegiatan inangnya. Caplak kawin ketika caplak betina sedang mengisap darah inangnya. Kemudian caplak meneruskan pengisapan darah sampai kenyang dan jatuh ke tanah untuk mencari tempat bertelur. Jumlah telur 1.000— 10.000 butir yang dikeluarkan caplak sedikit demi sedikit. Setelah selesai bertelur induk caplak mati.  Telur caplak menetas menjadi larva. Larva menanti inangnya di dedaunan semak belukar atau rerumputan. Selama menunggu, larva caplak keras tahan hidup tanpa makan selama 1—3 bulan. Setelah menjumpai inangnya, larva mengisap darah sampai kenyang, lalu jatuh ke tanah dan mencari tempat perlindungan untuk bertukar, kulit menjadi nimfa selama 1—4 minggu.
Nimfa mirip caplak betina, hanya tidak punya lubang kelamin. Nimfa menunggu inangnya pada rerumputan atau dedaunan semak belukar. Daya tahan hidup tanpa makan sekitar 2—5 bulan. Nimfa menggigit dan mengisap darah selama 3—16 hari. Setelah kenyang, nimfa jatuh ke tanah untuk bertukar kulit menjadi caplak dewasa selama 1—2 minggu.
Di alam, caplak dewasa menempel pada ujung daun helaian bawah semak belukar, rerumputan, dan alang-alang. Caplak dewasa tahan hidup tanpa makan selama hampir dua tahun.
Ludah caplak keras mengandung racun saraf. Gigitannya terasa gatal, terutama setelah caplak melepaskan gigitannya atau jika moncongnya putus karena dicabut paksa. Luka yang digaruk memudahkan infeksi kuman yang menyebabkan borok atau penyakit kulit lainnya. Lebih dari 50 macam penyakit hewan maupun manusia dapat ditularkan oleh caplak keras, antara lain penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan protozoa.
Caplak keras sering diberi nama sesuai dengan nama inang utamanya atau daerah asalnya. Di dunia, dikenal 700 jenis caplak keras. Di Indonesia ditemukan lebih kurang 50 jenis caplak, di antaranya caplak anjing, caplak ayam, caplak kerbau, caplak komodo, caplak kancil, caplak biawak, caplak babi hutan, dan caplak sapi, sesuai dengan inang utamanya.
Caplak Anjing, pada larva dan nimfanya ditemukan pada tikus dan mamalia kecil lainnya. Kulitnya tebal dan keras, warnanya cokelat kemerahan, dan beralur teratur. Perisai punggungnya agak bundar dan berbintil-bintil. Pada sisi depan sampingnya terdapat sepasang mata yang mengkilat. Moncongnya tumpul dengan alat pengisap atau penusuk seperti gada, yang diapit sepasang alat peraba pendek dan gemuk menyempit ke depan. Tubuhnya agak membundar menyempit ke arah depan, berukuran panjang 2—3 mi-limeter dan lebar 1—2 milimeter. Caplak lapar kira- kira sebesar biji lamtoro, tetapi setelah kenyang menggembung sebesar biji kacang. Caplak ini tahan hidup tanpa makan selama 0,5—1,5 tahun. Telurnya berjumlah lebih dari 3.000 butir. Penyebarannya meliputi daerah antara 50°LU dan 35°LS. Selain merupakan parasit, hewan ini dikenal sebagai penular penyakit pada hewan dan manusia.
Caplak Ayam badannya tipis, keras, berwarna kuning kecokelatan, berukuran sebesar biji wijen, tetapi setelah kenyang membulat sebesar biji kacang kedelai. Moncongnya berbentuk segi tiga, pendek dengan pangkal berbentuk segi empat. Alat penusuknya yang seperti gada dengan delapan deretan gigi diapit oleh sepasang alat peraba yang melebar dengan ujung tipis meruncing dan bertaji. Perisai punggungnya berbintik-bintik kecil dan mengkilat dengan bentuk membundar. Pinggiran badan belakang bercelah-celah 11 buah terletak corong hawa berbentuk lonjong. Daur hidupnya 2—3 bulan. Masa parasitik larvanya 1—2 minggu, masa nimfanya sekitar dua minggu, dan dewasanya 2—3 minggu. Caplak betina bertelur setelah satu minggu lepas dari inangnya dengan masa perteluran 2—4 minggu, dan seminggu kemudian mati. Telurnya berjumlah 4.000—6.000 butir. Masa tetas telur 3—5 minggu. Di alam, larvanya tahan hidup tanpa makan selama tiga bulan, nimfanya empat bulan, dan caplak dewasanya 15 bulan. Caplak ayam sering ditemukan pada lubang telinga, kepala, dan leher ayam. Selain sebagai parasit, caplak juga bertindak sebagai vektor penyakit, antara lain spirflkhetosis. penyebarannya meliputi India, Burma, Andaman, Siam, Indocina, Malaysia, dan Indonesia (Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Indonesia timur).
Caplak Kerbau, pada tahap larva dan nimfanya, ditemukan pada tikus dan mamalia kecjj lainnya. Ukurannya lebih besar daripada jenis lainnya, kira-kira sebesar biji lamtoro gung dan setelah kenyang membulat sebesar buah kelengkeng atau duku. Pangkal moncongnya berbentuk segi empat dengan sisi depan cembung dan sisi belakang cekung. Moncongnya panjang dengan alat penusuk dan alat peraba seperti gada. Ada delapan baris alat penusuk bergigi yang masing-masing ditumbuhi 8—9 gigi kecil. Perisai punggung berbercak-bercak beraneka warna dan ukuran, berbintik-bintik menyebar; pada yang betina perisai ini berbentuk segi tiga bersudut membundar dengan sepasang mata mengkilat pada titik sudut sisi luarnya. Pinggiran badan belakang bercelah 11 buah; di depan deretan celah terletak sepasang lubang corong hawa, berbentuk segi tiga. Caplak betina bisa bertelur lebih dari 10.000 butir. Caplak kerbau sering ada pada permukaan dalam daun telinga kerbau. Di hutan, caplak ini sering ditemukan pada badak, tapir, babi hutan, dan banteng. Penyebarannya meliputi India, Burma, Indocina, Asam, Sri Lanka, Taiwan, Malaysia, dan Indonesia (Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba).
Caplak Sapi kulitnya keras kekuningan sampai merah kecokelatan. Badannya berbentuk lonjong dan tipis, dengan ukuran panjang 2 milimeter. Setelah kenyang, caplak membulat sebesar kacang. Moncongnya pendek, gemuk dengan alat penusuk dan peraba seperti gada. Alat pengisap dilengkapi dengan delapan baris gigi membujur yang masing-masing bergigi 6—8 buah mengarah ke belakang. Pinggiran badan belakang merata. Pada jantannya bagian ini sering menonjol di tengahnya seperti ekor. Perisai punggung berbentuk segi tiga dengan sisi depan melekuk ke dalam. Sepasang mata mengkilap terletak di sisi luar. Kulitnya berbintik-bintik halus dan ditumbuhi bulu. Corong hawa berbentuk agak bundar. Caplak sapi berinang tunggal. Masa parasitik larvanya lima hari. Kira-kira dua hari kemudian, larva bertukar kulit menjadi nimfa di tubuh sapi. Masa parasitik nimfanya 1—2 minggu dan selang satu minggu kemudian bertukar kulit menjadi caplak betina atau jantan. Caplak dewasa mengisap darah selama 1—2 minggu. Setelah kenyang, caplak yang telah kawin jatuh ke tanah dan bertelur. Sesudah 4—5 hari, caplak mulai bertelur selama 1—3 minggu. Di alam, larva caplak sapi menunggu inangnya di rerumputan dan padang penggembalaan. Larvanya tahan hidup tanpa makan selama 3—5 bulan. caplak ini juga ditemukan pada banteng, rusa, ui ternak seperti kuda, kambing, dan domba yang masuk hutan. Penyebarannya meliputi India, Assam, Burma, Kepulauan Nikobar, Filipina, Indonesia sampai Australia. Selain selaku parasit, caplak sapi dikenal sebagai penular penyakit virus, bakteri, protozoa, anaplasma, dan babesia. Di Indonesia, eaplak ini dikenal sebagai penular penyakit sura. Caplak Lunak berkulit tipis, lembam atau alot sebinasa tidak mudah hancur walaupun dipijit. Ukurannya lebih kecil daripada caplak keras, kira-kira sebesar biji wijen, tetapi setelah kenyang membulat sebesar kedelai. Tubuhnya mempunyai banyak bintil bahkan caplak Uewasanya tahan bertahun-tahun. Di alam, caplak lunak ditemukan pada celah lantai atau dinding kandang peternakan ayam, celah kulit kayu, dan sarang burung migran. Penyebarannya mulai dari Australia sampai Thailand, termasuk Indonesia.

MENGHINDARI GIGITAN CAPLAK PENGHISAP DARAH | ok-review | 4.5