PENGERTIAN CAKRAMANGGILINGAN

By On Tuesday, October 29th, 2013 Categories : Antropologi

CAKRAMANGGILINGAN, dalam filsafat Jawa, berarti “roda kehidupan berputar terus”. Hidup berasal dari sumber yang baka dan timbul karena rangsangan untuk membangkitkan awal kehidupan, menempuh perkembangan kehidupan, mengemban tujuan hidup, mengarah kepada hakikat kehidupan serta kembali pada sifat baka. Perputaran demikian senantiasa berulang kembali, semata-mata atas kehendak dan kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Perputaran hidup itu berisikan lima ciri pokok: (1) asal mula suatu wujud (asaling dumadi), (2) dari mana datangnya suatu wujud (sangkaning dumadi), (3) awal suatu wujud (purwaning dumadi), (4) derajat-bakat-martabat suatu wujud (ta taring dumadi), (5) cara dan arah perkembangan suatu wujud (paraning dumadi). Dari makna ini dikenal sebutan untuk Tuhan Sangkan Paraning Dumadi atau “Asal Tujuan Kehidupan”.
Dilihat dari penjabaran kehidupan secara alam semesta, dapat dikatakan bahwa setiap kematian menimbulkan kehidupan dan sebaliknya. Hal ini secara umum dikenal dengan doktrin: manusia (hewan) – bumi – tumbuh-tumbuhan. Bagi suatujwujud hidup, khususnya manusia, cakramanggilingan mengingatkan tempatnya dalam roda kehidupan yang senantiasa berputar sebagaimana tercermin pada posisinya yang naik turun dalam masyarakat. Dari doktrin ini lahirlah kesadaran seseorang akan tepa salira karena memahami bahwa dirinya dapat saja mengalami keadaan seperti yang dialami orang lain. Kesadaran cakramanggilingan akan menjauhkan seseorang dari sikap congkak dan sombong, rasa putus asa dan apatis. Cakramanggilingan juga mengajar manusia mencari dan mendapatkan posisi yang mapan, tidak goyah, dalam mengikuti roda atau cakra kehidupan yang naik turun.
Cakramanggilingan dipilih sebagai nama kerabat penghayat di Bangkalan, Madura, yang dibentuk oleh S.H.S. Bharatawijaya pada tahun 1977. Cakramanggilingan menggunakan dua bentuk/teknik komunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa, yaitu dwiwikrama dan triwikrama. Dengan dwi w’krama penghayat mengerahkan daya cipta rasa karsanya sesuai dengan inti sejati yang berasal dari Tuhan. Dan triwikrama dihayati melalui tiga wikrama yang terdiri atas tiga tahap kehidupan, yaitu purwa (tahap awal tak berawal), madia (tahap sedang berjalan) dan wasana (tahap akhir tak berakhir). Puncak penghayatan dicapai dengan perpaduan antara kedua bentuk komunikasi tersebut yang berarti mengejawantahkan wujud yang menelan dimensi waktu. Triwikrama umum dikenal dalam pedalangan sebagai penjelmaan kekuasaan Wisnu dalam diri Sri Batara Kresna yang sedang murka.

PENGERTIAN CAKRAMANGGILINGAN | ok-review | 4.5