PENGERTIAN CACING TAMBANG

By On Tuesday, October 29th, 2013 Categories : Kesehatan

CACING TAMBANG suatu jenis cacing gilig kecil yang menyebabkan penyakit cacing tambang atau ankilostomiasis. Ankilostomiasis masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, karena diperkirakan diderita oleh sekitar 80 persen penduduk. Penyakit ini sering mengenai orang yang bekerja di daerah pertambangan atau pertanian. Biasanya penderitanya petani, pekerja tambang, dan buruh perkebunan karet, kopi, kelapa sawit. Cacing ini berkembang biak dengan baik di tanah berpasir bercampur humus yang gembur dan hangat, tetapi terlindung dari sinar matahari langsung. Cacing tambang dewasa hidup di dalam rongga usus kecil. Mulutnya selalu melekat pada selaput lendir usus. Cacing tambang mengisap darah dan makanan yang terdapat di sekitar tempat lekatnya. Cairan yang dikeluarkannya dapat mencegah pembekuan darah, sehingga mempermudah pengisapan. Seekor cacing tambang dapat mengisap 0,02—0,20 mililiter darah dalam sehari. Padahal seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 10.000—20.000 butir setiap harinya. Orang yang terkena penyakit ini biasanya akan tampak pucat karena kurang darah, sehingga daya kerjanya juga menurun cepat.
Cacing tambang yang sering menyebabkan penyakit pada manusia adalah Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. A. caninum dan A. ceylanicum juga dapat menginfeksi manusia walaupun jarang. Badan cacing tambang melengkung menyerupai kait, maka dalam bahasa Inggris sering disebut hookworm. Panjangnya kurang lebih 1,0 sentimeter dengan diameter tubuh sekitar 0,5 milimeter. Cacing betina lebih besar daripada cacing jantan. A. duodenale lebih besar dari N. americanus. Alat kelamin Ancylostoma betina terletak di sepertiga bagian belakang tubuhnya, sedangkan pada Necator terletak di sepertiga depan tubuhnya. Bentuk badan Ancylostoma menyerupai huruf C, sedangkan Necator menyerupai huruf S. J umiah dan bentuk gigi juga dapat dipakai untuk mengenali jenis masing-masing. Telur cacing tambang berbentuk lonjong dengan kedua ujungnya tumpul. Dindingnya tipis, berupa selapis kulit hialin yang tampak jernih. Bila telur baru saja diambil dari tinja segar, di dalamnya terdapat 2—8 buah sel telur. Semua pemeriksaan ini dilakukan dengan mikroskop; hanya bentuk badan cacing yang dapat dilihat dengan mata biasa.
Cacing tambang jantan dan betina dewasa hidup di dalam usus kecil manusia atau binatang. Telurnya dilepaskan ke dalam usus dan akan keluar bersama tinja. Telur itu akan mengalami perkembangan dengan baik bila berada di tanah yang sesuai. Dalam waktu 1—2 hari, telur akan menetas dan mengeluarkan larva yang belum aktif (larva rabditiform). Tiga sampai enam hari kemudian, larva ini berubah menjadi larva aktif (filariform), yang siap menembus inangnya (manusia atau hewan). Larva ini akan mati bila dalam waktu 7—8 minggu tidak menemukan inangnya. Bila menemukan inang, larva menembus kulit yang masih utuh atau masuk melalui pori-pori kulit. Biasanya larva memilih tempat masuk yang lunak, seperti bagian belakang kaki, sela jari kaki dan tangan. Kemudian larva ini masuk ke dalam saluran getah bening atau vena kecil dan mengikuti aliran darah dan getah bening ini menuju jantung kanan terus ke paru-paru. Setelah sampai di paru-paru, larva tidak dapat melanjutkan perjalanannya karena ukurannya lebih besar daripada ukuran kapiler. Oleh karena itu, larva menembus kapiler dan masuk ke dalam gelembung-gelembung paru-paru, kemudian masuk ke saluran pernapasan sampai ke tenggorokan. Larva ini kemudian akan tertelan, masuk ke dalam saluran pencernaan, dan menetap serta berkembang menjadi besar di usus kecil. Proses perjalanan melalui paru-paru ini memakan waktu sekitar seminggu. Cacing betina akan bertelur 5—6 minggu setelah masuk ke dalam tubuh manusia. Di dalam usus manusia, cacing tambang da¬pat hidup selama 2—8 tahun. Sewaktu larva menembus kulit, orang akan merasa gatal. Pada titik tembus, akan tampak benjolan kecil dan ruam merah di sekitarnya. Larva dari jenis A. braziliense dan A. caninum dapat mengembara di bawah kulit. Kulit di atas larva itu akan tampak merah berupa garis disertai rasa gatal. Kadang-kadang keadaan ini dapat diperberat oleh infeksi kuman.
Gejala yang paling penting dari penyakit ini adalah kurang darah (anemia), karena cacing tambang terus menerus mengisap darah dari penderita. Pendeita banyak kehilangan darah, yang akan bertambah nyata bila penyakit diderita cukup lama dan gizi penderita kurang. Bila sudah menderita anemia berat, penderita akan mengeluh sesak napas, lemah, pusing, muntah, diare, berdebar-debar, dll. penyakit ini dapat dicegah dengan mengubah kebiasaan hidup yang kurang sehat, seperti kebiasaan buang air besar di sembarang tempat. Larva yang keluar bersama tinja penderita dan dibuang di tempatnya akan mati dalam waktu 8—9 minggu. Larva tidak dapat menyebar ke mana-mana dan tidak sempat menembus kulit manusia. Orang juga harus menjaga kebersihan diri. Para petani, buruh dan pekerja tambang dapat menggunakan alas kaki dan sarung tangan pada waktu bekerja. Di daerah endemik, dalam jangka waktu tertentu sebaiknya dilakukan pengobatan massal, dengan obat cacing seperti pirantel pamoat. Klasifikasi Ilmiah. Cacing tambang termasuk kelas Phasmidia. Jenis yang terkenal adalah Ancylostoma duodenale, A. caninum, A. ceylanicum, dan Necator americanus.

PENGERTIAN CACING TAMBANG | ok-review | 4.5